Featured

BERTEMU TUHAN DI GEROBAK BAKSO : Minggu Tenang, dan Derita Bathin Mahasiswa Miskin (1)

gerobak baksoTukang bakso plat merah? Iya, ya…. Mengapa baru di hari kesebelas ini kenangan lama itu terkorek kembali? Selama sepuluh hari sejak tiba dari Yogya kemarin, pikiranku memang fokus melengkapi berkas CPNS-ku. Kemarin-kemarin, kulewati Jalan G. Obos Induk ini tanpa memaknainya. Sekedar melintas untuk menuju tempat kerja baruku.
Tapi hari ini, tiba-tiba kurasakan keharuan menyergap, saat aku keluar dari Jalan Sisingamangaraja dan masuk Jalan G. Obos. Hmmmm… inikah rahasiamu, Tuhan? Inikah yang Engkau rencanakan bagi hidupku? Bagiku, selamanya Jalur G. Obos adalah Jalan Kenangan. Ya, bahkan ia sempat menjadi jalan hidupku. Dulu, aku selalu berpeluh mandi keringat saat menelusuri jalan utama menuju Masjid Raya Palangka ini, selama lima semester awal kuliahku. Setahun penuh aku bahkan pernah menapakinya dengan berjalan kaki beralaskan sandal jepit. Continue reading “BERTEMU TUHAN DI GEROBAK BAKSO : Minggu Tenang, dan Derita Bathin Mahasiswa Miskin (1)”

Featured

AutoBiografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, dan Perjumpaan dengan Hare Krishna (1)

DSC_9489“Bagaimana dengan Anda sendiri? Bagaimana Anda menjadi Hindu? Sejak kapan Anda bertemu dengan ajaran Kesadaran Krishna ini?”

Demikian dua teman dari Ukraina itu balik bertanya. Mereka sudah panjang lebar bercerita tentang perkenalan mereka dengan ajaran Hindu. Kini, gantian mereka yang ingin tahu kisah saya. Bagaimana ceritanya, saya sampai bisa bertemu dengan ajaran Bhakti Yoga yang memfokuskan pemujaan kepada Sri Krishna sebagai Isthadevata itu? Karena ajaran Krishna dalam Bhagavad-gita itulah, kami dipertemukan dan menjadi lebih akrab dari saudara saat ini.

Continue reading “AutoBiografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, dan Perjumpaan dengan Hare Krishna (1)”

Featured

Dikenal Sebagai Awatara Wishnu, Mengapa Sri Krishna Dipuja Sebagai Tuhan Yang Maha Esa?

Menyaksikan sabda Krishna kepada Arjuna dalam Film Mahabharata, menyisakan banyak tanda tanya dalam benak orang. Dalam percakapan yang selanjutnya dikenal luas sebagai Bhagavad-gita itu, Krishna menyatakan kepada Arjuna bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Padahal, selama ini Sri Krishna dikenal sebagai salah satu dari sepuluh awatara atau penjelmaan Sri Wishnu. Selain itu, Sri Wishnu sendiri oleh kebanyakan umat Hindu dikenal sebagai salah satu dari Tri Murti Hindu, yaitu Brahma, Wishnu, dan Siwa. Tidakkah hal itu membingungkan? Continue reading “Dikenal Sebagai Awatara Wishnu, Mengapa Sri Krishna Dipuja Sebagai Tuhan Yang Maha Esa?”

Featured

Konsep Awatara dalam Hindu dan Kontroversinya

 

Swami Krishnananda, dalam bukunya A Short History of Religious and Philosophic Thought in India (1994: 62) mengakui bahwa teori adanya awatara atau penjelmaan Tuhan (divine incarnation) ke dunia ini telah menjadi isu yang kontroversial dalam filsafat agama dan telah menjadi salah satu pertanyaan dan perdebatan menarik dalam kajian teologi atau ilmu ketuhanan. Bukan hanya menjadi pertanyaan bagi agama lain, beberapa sekte dalam Hindu sendiri pun tidak mengakui adanya konsep awatara tersebut.

Subramuniyaswami (1997: 601) menjelaskan bahwa di antara empat sekte terbesar Hindu, yaitu Saiwa, Waisnawa, Sakta, dan Smarta, sekte Saiwa tidak mengakui adanya doktrin awatara tersebut. Dalam hal ini, para penganut Saiwa menganggap tidak ada penjelmaan Tuhan yang hadir ke dunia ini. Sedangkan ajaran atau doktrin awatara, sangat dominan terutama dalam sekte Waisnawa atau pemuja Wisnu. Para Waisnawa meyakini, setidaknya ada sepuluh penjelmaan Wisnu yang telah muncul melakukan misinya di alam semesta ini. Dua sekte lainnya, yaitu Sakta dan Smarta meyakini bahwa Tuhan dan para dewa dapat saja menjelma ke bumi ini. Continue reading “Konsep Awatara dalam Hindu dan Kontroversinya”

Featured

Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?

Kreatif dan cerdas menangkap peluang bisnis. Mungkin begitulah istilah yang tepat untuk menggambarkan alasan dibalik akan hadirnya artis-artis pemeran serial Mahabharata ke Jakarta dan Bali bulan mendatang. Dengan kemasan program yang diberi judul “Panah Asmara Arjuna”, acara yang diprakarsai oleh Stasiun ANTV itu diprediksi akan berlangsung meriah. Kabar kehadiran para aktor tampan dan kekar dari India itu, sepertinya telah membuat histeria para penggemar setia mereka di Indonesia, terlebih kaum wanita. Perbincangan mengenai acara itu telah mewarnai media sosial.

Dari kacamata bisnis entertaintmen, hal itu tentu sah-sah saja. Tapi, ada yang sedikit mengusik pikiran saya, sejak saat pertama iklan itu muncul di televisi. Bukan karena tidak senang dengan kehadiran para artis itu ke Indonesia. Tapi penamaan dan konsep program itu yang membuat saya teringat sesuatu. Continue reading “Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?”

Featured

Batara Narada dalam Dunia Pewayangan, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?

“Saya sangat menggemari wayang. Kalau ada pertunjukan wayang, bisa nonton semalam suntuk. Saya juga senang sekali menonton film Mahabharata, Ramayana, serta Mahadewa lho…” demikian pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si dalam Studium General di Aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, Sabtu 20 September 2014. Guru besar yang pernah menduduki jabatan sebagai Dirjen Pendidikan Agama Islam itu sengaja diundang untuk memberikan kuliah umum guna mengawali kegiatan akademik Semester Ganjil Tahun Akademik 2014/2015.

Mantan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya itu berpesan agar para mahasiswa STAHN Tampung Penyang dapat meneledani para Pandawa dalam menggembleng diri agar menjadi manusia yang berkualitas. “Tirulah Bala Pandawa, mereka sedikit, tapi sangat kompeten dan berkualitas. Jangan seperti Bala Kaurawa, jumlah mereka 100 orang, tapi kualitas sumber daya manusianya sangat rendah. Suka berkonflik lagi… Apalagi, jangan sampai Anda jadi orang jahat seperti Sangkuni, lho ya…” tegas pria kelahiran Tuban, Jawa Timur itu.

Continue reading “Batara Narada dalam Dunia Pewayangan, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?”

Featured

Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’

“Why Krishna and not Kristus? Mengapa Anda memilih sembahyang pada Krishna? Bagaimana Anda bisa menerima Krishna sebagai Tuhan?” pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari mulut saya. Saya sempat berkelakar pada mereka, bahwa selama ini, kalau saya melihat pria ‘bule’ menerbangkan pesawat-pesawat kecil di wilayah Kalimantan Tengah, pastilah mereka sedang melakukan pelayanan pada Kristus. Tumben, kali ini ada pilot bule yang menerbangkan helikopter di udara seputaran Palangka Raya, tapi sedang melayani Krishna…ha ha ha

 

mikhailo nikitenko
Setelah tiga hari bergaul dan lebih akrab dengan dua orang teman baru itu, saya tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Benar-benar ingin tahu, apa alasan dua orang dari Ukraina yang sedang bertugas memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu, memilih masuk Hindu dan menerima Sri Krishna sebagai Tuhan sesembahan mereka. Kok bisa-bisanya, ya? Continue reading “Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’”

Featured

Dilema Proyek Senilai 32 M

Sp Backdrop WISUDA STAHN 2014-small“Saya dapat proyek 32 M nih….” Jawab saya enteng saat terdengar sebuah suara nyeletuk. Saya baru saja memarkir motor di halaman aula tempat even wisuda kampus akan diadakan. Saat saya menurunkan baliho berukuran besar dari motor, suara itu terdengar lagi, “Lho, Mas, sampean ini sebenarnya dosen apa tukang spanduk, to? Opo tukang syuting?”
Ceplosan protes teman SMA saya, mengawali percakapan kami yang secara tidak terduga bertemu di moment yudisium kampus hari ini. Teman yang sama-sama dari transmigrasi Desa Pangkoh itu, selama ini meniti karir sebagai ‘tukang photo’ dan bekerja di Aline, sebuah studio photo terkenal di kota Palangka Raya. Dia biasa melayani photo panggilan saat ada momen-momen seperti acara yudisium, wisuda, pernikahan, atau kegiatan lain yang butuh dokumentasi.
Melihat saya menenteng kamera, handycame dan juga spanduk yang masih harus di pasang, dia ‘mempertanyakan’ profesi saya..he..hee… “Mbok jangan serakah begitu, kasih bagian kami-kami ini…Jadi dosen ya ngajar aja, ngga usah nyambi-nyambi gitu….” Continue reading “Dilema Proyek Senilai 32 M”

BHAGAVAD-GITA, PALANGKA RAYA, dan PERUBAHAN SELERA (Bagian 1)

Catatan Kecil dari Dharmathula di Wantilan Pura Pitamaha, 7 Juli 2015

Mr. Denys dan Mr. Mike sedang menerima percikan tirtha, saat mengikuti persembahyangan di Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015
Mr. Denys dan Mr. Mike sedang menerima percikan tirtha, saat mengikuti persembahyangan di Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015

“Sampai Setahun yang lalu, saya adalah seorang pemabuk dan peminum aneka merek Bir. Saya juga gemar berkata-kasar dan jorok. Singkatnya, saya punya semua kebiasaan buruk…” begitu ungkapan jujur Mr. Denys Neshcheretniev dihadapan para peserta kegiatan Dharmathula di Wantilan Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015 yang lalu.

Teknisi helikopter “firefighter” asal Ukraina itu secara polos menceritakan kebiasaan masa lalunya, sebelum akhirnya bertemu dan mendalami ajaran Sri Krishna dalam kitab Bhagavad-gita.

Panitia memang sengaja mengajak kedua orang Hindu asal Ukraina itu untuk hadir dalam acara dharmathula menyambut hari raya Galungan 2015 itu, agar mereka bisa berbagi pengalaman kepada para peserta yang hadir.

Selain mahasiswa, acara dharmathula itu juga dihadiri oleh para tokoh umat Hindu, dosen, guru serta siswa-siswi pasraman yang ada di Kota Palangka Raya. Sebelum kegiatan membaca bersama sloka Bhagavad-gita dan acara dharmathula bertema “Telaah Dharma dalam kitab Bhagavad-gita” itu dimulai, kami meminta Mr. Mike dan Mr. Denys untuk mengungkapkan pengalaman hidup mereka, khususnya manfaat langsung yang mereka raih setelah mendalami Bhagavad-gita.

Pembukaan Dharmathula oleh Ketua PHDI Provinsi Kalimantan Tengah
Pembukaan Dharmathula oleh Ketua PHDI Provinsi Kalimantan Tengah

Pengalaman mereka itu tentu akan sangat menarik, mengingat sebelumnya mereka berasal dari masyarakat yang boleh dikatakan tidak begitu percaya dengan keberadaan Tuhan. Menariknya lagi, mereka juga terlahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristiani yang cukup orthodox di negaranya.

Di tengah begitu derasnya arus konversi umat Hindu di Kalimantan Tengah beralih ke Kristen, mendengarkan pengalaman orang Kristen yang beralih menjadikan Krishna dan Bhagavad-gita sebagai pedoman hidup mereka, tentu akan menjadi informasi yang cukup menarik.

Jadilah, kedua orang itu maju ke mimbar, dan Mr. Denys secara terus terang menceritakan pengalaman hidupnya yang berubah secara drastis, justru setelah bertugas di ‘rimba Kalimantan Tengah” ini.

“Beruntung, saya dipertemukan dengan kitab Bhagavad-gita, justru di sini, di Kota Palangka Raya ini. Sejak itu, secara perlahan, cara saya memandang dan memaknai hidup ini mulai berubah. Saya tak lagi merasa bahwa dunia ini diciptakan untuk sepenuhnya kepuasan panca indera saya semata. Selera saya juga berubah…” ujarnya lagi.

Peristiwa apa yang menggiring perubahan dalam hidupnya itu? Ya, kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya sejak awal Mei 2014, Mr. Denys mulai mengenal Indonesia. Bersama tak kurang dari lima belas orang temannya yang sama-sama berasal dari Ukraina, ia ditugaskan sebagai teknisi perawatan (maintenance) helikopter yang disewa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan kegiatan pemadaman kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mereka tersebar di Papua, Palembang, Pontianak, dan Palangka Raya. Selain mereka, ada sejumlah pilot yang bertugas secara berotasi untuk menerbangkan helikopter Jenis Mi-8 buatan Ukraina itu.

mike and heliheliin caticn

 

Malangnya, belum genap dua bulan bertugas di Indonesia, serentetan kejadian menghebohkan menimpa tim mereka. Tiga orang teknisi mereka meninggal dunia secara beruntun, dengan indikasi terkena serangan jantung mendadak. Pengunjung dan tamu Hotel Grand Global Palangka Raya mendadak heboh, ketika mereka menemukan salah seorang teknisi asal Ukraina sudah tidak bernyawa di kamar hotelnya, Kamis (12/6/2014). Kedua, tanggal 29/8/2014, satu lagi pekerja asal Ukraina itu ditemukan mendadak tewas dengan tubuh membiru di sebuah hotel di Pontianak. Lalu, tanggal 27 September 2014, lagi-lagi salah seorang pekerja yang berjibaku mengurangi ekspor asap ke negara-negara tetangga Indonesia itu, ditemukan sudah meninggal dunia di toilet hotel Aryadhuta Palembang. Berita kematian mereka menghiasi halaman media-media nasioal cetak dan online. (Kompas.com, 12/06/2014; tribunnews.com, 30/08/2014; Jpnn.com,28/09/2014), dan lain-lain.

“Sungguh mengerikan. Sebelum ini, kami pernah bertugas selama 4 tahun di Afghanistan, dan selama itu, hanya dua orang teman kami yang meninggal. Mereka meninggal karena berbagai serangan dan kecelakaan, karena memang negara itu sedang mengalami konflik…” tutur Mr. Denys dan Mr. Mike pada saya, saat saya baru berkenalan dengan mereka pada sekitar bulan Juli 2014.

“Tapi disini, di Indonesia, tiga orang teman kami meninggal dunia hanya dalam selang waktu sekitar tiga bulan. Sungguh menyedihkan, karena mereka meninggal akibat menenggak minuman keras tradisional yang terlalu tinggi kadar alkoholnya” lanjut mereka. Jelas sekali mereka merasa terguncang akibat peristiwa itu.

Begitulah. Tidak dipungkiri, bahwa di negara asal mereka Ukraina, meminum bir dan minuman keras lainnya adalah kebiasaan yang tidak mengherankan, karena memang negara itu kerap dilanda salju. Saat musim dingin, bir dengan kadar alkohol yang sangat rendah, menjadi teman hidup mereka untuk mengusir hawa dingin. Tapi di Indonesia, minuman keras seperti arak, baram dan sejenisnya itu memiliki kandungan alkohol yang terlalu tinggi dan berbahaya bagi kesehatan mereka.

Kita tentu masih ingat saat beberapa teknisi pesawat tempur Sukhoi dari Rusia ditemukan meninggal dunia setelah pesta minuman keras di Makasar, pada 14 September 2010 lalu. Ternyata mereka mencampur minuman keras lokal merek “ballo” dengan spiritus dan bahan-bahan lainnya.

Sumber Tribun menyebutkan, sejumlah anggota tim garansi pesawat Sukhoi melakukan pesta miras di mes mereka di kawasan Lanud Sultan Hasanuddin. Beredar kabar, korban tewas karena keracunan usai meminum minuman keras (miras) lokal jenis ballo. “Ada dugaan mereka bereksperimen mencoba miras lokal yang bagi orang Eropa ini mungkin terasa aneh. Mereka pun ramai- ramai meminum dalam jumlah banyak,” ujar sumber tersebut, Selasa (14/9) tengah malam. Para pria bule ini diduga “bereksperimen” dengan menenggak ballo dalam jumlah yang cukup banyak. Sementara mereka sebelumnya tidak familiar dengan minuman tersebut. “Informasi di lapangan seperti itu. Orang Rusia suka minuman beralkohol karena di negaranya dingin sehingga tubuh perlu dihangatkan. Tapi di Indonesia suhunya berbeda,” kata sumber tersebut. Yang menjadi pertanyaan, dari mana ballo tersebut bisa masuk ke dalam area Pangkalan Udara TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar. Lalu siapa yang memasok miras tersebut ke dalam kompleks militer ini (Tribun Timur, Rabu, 15/09/2010).

Sejak peristiwa maut itulah, Mr. Denys mulai banyak merenung. Bagaimana jika dia juga mengalami mati mendadak seperti teman-temannya itu?
“Bagaimana kalau saya tiba-tiba juga ditemukan tewas di kamar, hanya karena overdosis minuman beralkohol? Apa persiapan saya untuk menghadapi kematian mendadak begitu?” ujar Mr. Denys pada saya, saat suatu malam kami berbincang di kamar hotelnya.

Meski merasa takut dengan maut, tapi dia mengaku bahwa meninggalkan rokok dan alkohol bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Dorongan kebiasaan buruk itu terlalu kuat mencengkeram kesadarannya. Apalagi, menurutnya, hampir semua teman dalam timnya punya kebiasaan minum, merokok, dan bahkan main perempuan. Maklumlah, mereka butuh semua itu untuk mengusir kejenuhan, karena bertugas berbulan-bulan di negara orang, dan terpisah jauh dari istri dan keluarga.

“Jadi bagi saya, Palangka Raya adalah tempat yang sangat penting dalam pencarian kehidupan spiritual saya. Karena itu, Anda-Anda pemuda-pemudi yang ganteng dan cantik yang berkumpul di sini, jangan sia-siakan kesempatan ini. Pelajarilah Bhagavad-gita, dan biarkan kesadaran dan hidup Anda berubah. Temukan ‘Higher Taste’ itu…” pesannya kepada para mahasiswa dan pemuda pemudi yang hadir dalam acara yang diprakarsai oleh UKM Penalaran STAHN Tampung Penyang Palangka Raya itu.

Orang Ukraina, menemukan ajaran Bhagavad-gita di Palangka Raya? Bagaimana ceritanya?

Bhagavad-gītā dan ‘Revolusi Mental’ Arjuna

Keterpurukan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang, mencuatkan jargon mendesaknya dilaksanakan ‘revolusi mental’ bagi masyarakat Indonesia. Gagasan yang dilontarkan Presiden Joko Widodo tersebut, sejatinya bisa mengambil inspirasinya dari kisah Mahabharata. Bukankah sejatinya, 700 sloka Bhagavad-gītā itu adalah rekaman dari ‘perdebatan’ antara Sri Krishna dan Arjuna yang berujung pada revolusi mental yang dialami oleh Arjuna?

Keseluruhan isi Bhagavad-gītā adalah sloka-sloka dalam Bab 25 sampai dengan Bab 42 dari Bhisma Parwa. Meski merupakan bagian tak terpisahkan dari Mahabharata, Bhagavad-gītā kini dipelajari sebagai kitab tersendiri. Ia menggambarkan ‘kelemahan dan keterpurukan mental’ yang dialami oleh Arjuna, sesaat sebelum dimulainya perang Bharatayudha. Arjuna merasa gundah, mengalami kebingungan, dan dilema bathin luar biasa. Secara mental, ia sama sekali tidak siap melihat kenyataan pahit itu. Sesungguhnya, ia telah mengetahui bahwa perang dahsyat itu memang tak terhindarkan.
Tak urung, saat kedua belah pasukan itu telah saling berhadapan dan siap saling menghancurkan, Arjuna menghadapi goncangan jiwa. Saat melihat kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara yang dicintainya berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur, dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Weda sebagai pembenaran. Baginya, lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta, daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang- orang yang patut dihormatinya.
Marilah kita simak kembali, bagaimana Arjuna mengutarakan keguncangan jiwa dan kelemahan mentalnya kepada sahabatnya itu (Bhagavad-gītā 1.28 – 42) sebagai berikut:
“Krishna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota badan-badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering. Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandeva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar. Saya tidak tahan lagi berdiri di sini. Saya lupa akan diri, dan pikiran saya kacau. O Krishna, saya hanya dapat melihat sebab-sebab malapetaka saja, wahai pembunuh raksasa bernama Kesi.
Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal yang baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini. Krishna yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan, maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan seperti itu.
O Madhusūdana, apabila para guru, ayah, putera, kakek, paman dari keluarga ibu, mertua, cucu, ipar dan semua sanak keluarga bersedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya dan sekarang berdiri di hadapan saya, mengapa saya harus berhasrat membunuh mereka, meskipun kalau saya tidak membunuh mereka, mungkin mereka akan membunuh saya? Wahai Pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra ?
Kita akan dikuasai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra dan kawan-kawan kita. O Krishna, suami Dewi Keberuntungan, apa untungnya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri? O Janārdana, walaupun orang ini yang sudah dikuasai oleh kelobaan tidak melihat kesalahan dalam membunuh keluarga sendiri atau bertengkar dengan kawan-kawan, mengapa kita yang dapat melihat bahwa membinasakan satu keluarga adalah kejahatan harus melakukan perbuatan berdosa seperti itu?
Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal dihancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebiasaan yang bertentangan dengan dharma. O Krishna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan, wahai putera keluarga Vṛṣṇi.
Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluarga-keluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali. “

Mendengar semua argumentasi Arjuna itu, sambil tersenyum Krishna berkata :
śrī-bhagavān uvāca
aśocyān anvaśocas tvaḿ
prajñā-vādāḿś ca bhāṣase
gatāsūn agatāsūḿś ca
nānuśocanti paṇḍitāḥ

“Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal” (Bhagavad-gita Gita 2.11)
Sri Krishna memuji Arjuna sebagai seorang yang pandai, kesatria berhati mulia. Kata-kata Putra Kunti itu diakui sebagai perkataan orang-orang bijaksana, yang merangkum prinsip-prinsip moral ajaran Veda. Veda memang menegaskan pentingnya kaum wanita dilindungi, jika masyarakat menginginkan terlahirnya sebuah generasi yang berbudi pekerti. Dari kacamata moralitas, argumen Arjuna itu semestinya tidak terbantahkan. Seharusnya, dengan alasan itu, Krishna menuruti permintaan Arjuna, dan membiarkannya hidup sebagai peminta-minta. Itu akan membuatnya terbebas dari dosa besar membunuh kakek, guru, sanak saudara dan ribuan prajurit di medan perang Kuruksetra.
Tetapi, sambil memuji, Sri Krishna juga sekaligus menyindir Arjuna, dengan pernyataan yang menyentak pikiran siapapun yang mendengarnya. Putra Devaki itu menyalahkan Arjuna, karena telah meratapi sesuatu yang sesungguhnya tidak patut disesalkan.Seolah-olah meratapi kematian orang-orang yang kita cintai, bukanlah hal yang bijaksana? Benarkah demikian itu yang dimaksudkan oleh Sri Krishna?

Perubahan “Paradigma”
Keberhasilan revolusi mental mempersyaratkan terjadinya sebuah perubahan paradigma. Stephen R. Covey dalam bukunya “The 7 Habbits of Highly Effective People” mengungkapkan pernyataan, tepat seperti situasi yang sedang dihadapi oleh Arjuna saat itu. Menurutnya, “banyak orang mengalami perubahan fundamental dalam cara berpikir mereka justru ketika mereka menghadapi krisis yang mengancam jiwa dan tiba-tiba melihat prioritas mereka dengan cara yang berbeda atau ketika mereka tiba-tiba melangkah ke dalam sebuah peran yang baru….”
Saat itu, Arjuna memang menghadapi krisis, seperti yang disebutkan oleh Covey. Pada titik inilah, revolusi mental Arjuna dimulai. Krishna merubah cara berpikir Arjuna, mulai dengan menguraikan hakekat diri manusia yang sesungguhnya. Selanjutnya, secara garis besar, Sri Krishna menguraikan pengetahuan tentang hakekat Brahman, Atman, Karma, Reinkarnasi, Sifat Alam Material, dan sebagainya.
Krishna membangkitkan mental Arjuna dengan menegaskan sebagai berikut:
“Wahai putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu.”
“Wahai Putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati”
“Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah dengan demikian, engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”
Pada bagian akhir dari percakapan itu, Arjuna mendapatkan pencerahan jiwa. dan menyadari akan tugas kewajibannya sebagai seorang ksatria. Ia lalu mengangkat kembali busur Gandiwanya dan bertempur dengan gagah perkasa. Ia telah mengalami revolusi mental, dan mengalami perubahan paradigma.
Kini, saatnya masyarakat Hindu mempelajari wejangan Sri Krishna itu, yang telah mampu membuka mata Arjuna tentang hakekat hidup manusia di dunia ini. Untuk mendukung program revolusi mental yang sedang dicanangkan pemerintah saat ini, kiranya bisa dimulai dengan memahami revolusi mental yang dialami oleh Arjuna. Ajaran-ajaran etika, moral, dan spiritual yang dipaparkan dalam Bhagavad-gītā, bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi upaya membangun karakter manusia Indonesia yang lebih beradab dan bermartabat.
Oleh karena itu, kegiatan membaca dan mempelajari secara intensif Bhagavad-gītā, seperti yang dirintis oleh Prabhu Darmayasa saat ini melalui program Revolusi Bhagavad-gītā, kiranya bisa menjadi langkah awal bagi terbentuknya generasi muda Hindu yang memiliki karakter, teguh sraddhanya, dan gemar bekerja keras dalam melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan dan sesama makhluk. Semoga.

Tukang Bakso ‘Plat Merah” (Part II)

Semua itu berawal dari kebingunganku mencari biaya hidup sehari-hari. Dan pastinya biaya kuliah. Semester I, aku sempat numpang hidup di kios sempit dipinggir jalan di Pasar Mini, pas di pertigaan Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pangeran Samudra saat itu. Pemiliknya tetangga kampungku di Pangkoh IV, dan dia berjualan bensin eceran. Di sela-sela kuliah, aku membantu berjualan bensin. Lumayan, setidaknya aku dikasih makan siang sekali sehari.
Tak betah disitu, aku lantas ikut kerja mebel kayu sambil kerja bangunan di Jl. Kecubung, Komplek Perumahan Palangka Permai, dekat Masjid Raya. Sekarang komplek itu lebih dikenal dengan nama Perumahan G. Obos XII. Di mebel yang pemiliknya kenalan ayahku, dan pernah tinggal di Pangkoh itu, aku ditugasi mengamplas pintu, jendela, atau kusen. Sesekali aku diminta membantu membuat adonan luluh (campuran semen dan pasir), membantu menantu pemilik mebel itu yang pemborong bangunan.
Dengan begitu, aku bisa dapat makan tiga kali sehari, dan dapat tempat menginap gratis. Untuk biaya beli kertas membuat laporan dan makalah, aku terpaksa meminta bantuan dari temanku, yang ikhlas memberiku setelah kubantu membuatkan laporan atau makalahnya. Satu semester berlalu…untuk membayar SPP semester II-ku yang hanya sekitar Rp 165.000 per semester waktu itu, aku kumpulkan dari honor sukarela yang kudapat dari membantu ngaduk semen itu. Tentu saja tidak cukup. Untuk menggenapinya, aku harus berhutang pada keluarga teman seangkatanku Jurusan Kimia, yang ayahnya saat itu berjualan di Kantin FKIP. Di rumah keluarga temanku itulah aku sering numpang makan, setiap kali aku kelaparan. Aku berhutang budi pada mereka, dan belum bisa membalasnya hingga kini.
Lalu, kapan aku bertemu dengan bos baksoku yang orang Padang itu?
Awal semester II, aku mendapat secercah harapan. Salah seorang dosenku menawari aku untuk tinggal dan menjaga kios kecilnya di komplek Amaco, Jalan Raya Galaxy. Kios itu berukuran kurang lebih 3 x 4 meter, menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Di belakang kios itu ada rumah BTN milik dosen itu, yang disewakan kepada mahasiswa dari pulau Sumatra. Jadilah kios itu sebagai tempat tinggalku. Pakaian, buku-bukuku menyatu dengan barang-barang yang dijual di kios itu. Untuk kebutuhan makanku, setiap pagi aku harus berjalan kaki mengambilnya ke rumah di kompleks dosen itu di Jalan Yos Sudarso. Tidak ada fasilitas untuk masak atau bahkan merebus air sekalipun di kios itu. Aku kadang harus mengambil makan jam 5 pagi, saat pembantunya belum selesai masak. Jadilah makanan sisa hari kemarin yang ku konsumsi sehari penuh. Saat aku harus kuliah, aku digantikan oleh sang istri, yang menurutku cukup galak orangnya…(hehehe …maaf).
Bukan aku tidak tahu membalas budi, atau berniat mengungkap keburukan orang yang telah berjasa membantuku. Tapi selama di kios itu, aku tak mendapatkan apa yang semula dijanjikan. Aku masih harus membantu teman-temanku mengerjakan tugas, agar aku bisa dapat kertas untuk mengumpul tugasku. Bajuku pun tak pernah berganti selama satu semester. Sampai akhirnya ada seorang teman kuliahku, seorang ibu-ibu guru di SMP Muhammadiyah Palangka Raya, yang membelikan baju kuliah untukku. Dia beralasan membeli baju untuk suaminya, tapi kekecilan, karenanya ditawarkan ke aku. Mungkin supaya aku tidak tersinggung. Dan barangkali juga dia sudah tidak tahan dengan bau bajuku yang itu-itu saja, jarang dicuci pula.
Ini tidak bagus kalo kuceritakan, tapi memang kisah nyata. Karena sering tak dapat jatah makan, aku sering kelaparan. Tetanggaku di komplek itu lalu mengajariku untuk berbuat tidak jujur.
“Sudahlah, kamu ambil saja Mie goreng itu di kardus, To. Daripada kamu kelaparan begitu… Kalau mau rebus, ini ada panci dan kompor…” begitu salah satu tetangga kiosku membujuk. Rupanya mereka kasihan melihat kondisiku. Tapi aku juga tidak berani ceroboh mengambil makanan sembarangan. Meski aku kelaparan, aku pilih menahan diri. Soalnya setiap barang yang keluar harus aku catat di pembukuan, sedetil-detilnya. Permen seratus perakpun harus kucatat, dan semua harus klop dengan catatan belanja sebelumnya….Biaya kuliah yang dijanjikan sebelumnya, tak kunjung kudapatkan juga…
Salah satu pembeli yang sering mengunjungi kiosku adalah orang berperawakan tinggi besar, berwajah penuh wibawa, dengan jenggot yang panjang seperti penampilan orang Afganisthan. Dia tinggal tepat di samping kanan rumah dan kios yang aku tempati itu. Dari pembantunya yang sering belanja di kiosku aku akhirnya aku tahu, bahwa orang itu bekerja sebagai konsultan proyek-proyek di Dinas PU Palangka Raya. Setiap hari aku melihat seorang sopir datang ke rumahnya. Mobil dinasnya kijang warna biru, plat merah, dengan Nomor B 1789 FQ. Kabarnya, istrinya yang asli Sunda itu adalah seorang dokter umum yang bertugas di Rumah Sakit di Palangka Raya.
Sesekali, suami istri itu memang melintas di depan kiosku, saat mereka jalan kaki pagi hari. Mereka terlihat ramah, dan sering menganggukkan kepala saat melihat aku berada di dalam kios. Saat sesekali belanja di kiosku, Bapak itu memang sempat menanyakan pekerjaanku. Rupanya sesekali dia melihat aku pulang membawa buku, saat berangkat atau pulang kuliah. Kujawab bahwa aku sambil kuliah, dan menjaga kios itu sebagai pekerjaan sambilan….
Hampir satu semester berlalu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan di kios itu. Takut kalau meninggalkan kios itu, nilai matakuliahku akan diotak-atik oleh dosenku itu. Aku memutar otak, setiap hari berusaha memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat itu. Aku butuh biaya hidup dan biaya kuliah. Kalau terus-terusan begini, aku tak bisa membiayai kuliahku sendiri.
Suatu hari, inspirasi itu datang. Kakak tingkatku yang kuliah di Jurusan fisika, ada yang kuliah sambil berjualan nasi goreng di malam hari. Hampir setiap malam dia lewat di komplek Amako, bahkan sering kali di atas jam 12 malam. Aku sangat mengagumi Mas Sulkhan, itu nama kakak tingkatku itu. Dia mampu kuliah secara mandiri, hanya dengan berjualan nasi goreng.
Saat kuminta pertimbangan soal keadaanku, dia menganjurkan agar aku mencoba mandiri. Berusaha sendiri seperti yang dia lakukan. Tapi dia menyarankan aku untuk tidak berjualan nasi goreng, karena melihat badanku yang kurus kerempeng. Jualan nasi goreng malam hari butuh stamina ekstra, dan aku tidak mungkin kuat menjalaninya. Mas Sulkhan saat itu sudah berkeluarga, meski belum lulus kuliah. Istrinyalah yang menyiapkan semua kebutuhan untuk berjualan nasi goreng itu. Kalau aku sendirian, tidak mungkin aku bisa membagi waktu sambil kuliah.
Aku manggut-manggut mendengar sarannya. Tapi aku bingung, harus kerja apa? Berjualan apa yang bisa kulakukan di siang hari atau sore hari, tapi tidak terlalu menguras tenaga? Aha…bakso. Ya, terlintas saat itu bagaimana kalau aku jualan bakso dengan membuat dan menjualnya sendiri, tidak ikut bos bakso seperti para penjual bakso dorong yang banyak dilakoni oleh teman-teman penjaja bakso itu? Aku tidak mungkin ikut orang, karena harus membagi waktu dengan kuliahku. Tapi, berjualan bakso? Dari mana modalku berjualan? Darimana aku bisa mendapatkan gerobak baksonya? Bagaimana belanja bahan dan proses membuatnya? (bersambung…)

Tukang Bakso ‘Plat Merah’…

Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I...
Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I…

Awal Juni 2010. Siang itu aku melintasi Jalan Yos Sudarso, dalam perjalanan pulang dari kampus STAH Tampung Penyang di Jalan G Obos X. Baru saja aku menyerahkan berbagai dokumen dan berkas lain untuk kelengkapan persyaratan sebagai CPNS. Teriknya matahari membuatku ingin membeli sesuatu untuk menghilangkan dahaga. Tadi pagi aku memang tidak sempat sarapan, karena memang belum ada masakan di rumah. Istriku masih di Yogyakarta, belum kuboyong ke Palangka Raya, menunggu anakku lulus sekolah TK-nya. Seingatku, di sepanjang Jalan Yos Sudarso itu banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan.

Kuhampiri penjaja pencok buah yang biasa mangkal di seputaran depan kantor TVRI Kalteng, tepatnya dipojok kiri depan Hotel Dandang Tingang. Sebenarnya sudah seminggu ini aku melihat orang itu berdagang di situ, karena sementara ini aku tinggal menumpang di komplek Pura Pitamaha di Jalan Kinibalu. Setiap pulang pergi ke ke kampus, sekilas aku bisa melihat para pedagang berjajar disekitar itu. Tapi baru kali ini aku menghampiri pedagang laki-laki yang tampaknya masih seusia denganku itu.

“Pencoknya, sebungkus pinten Mas?” sapaku bercampur bahasa Jawa.
“Oh, lima ribu, Pak. Berapa bungkus?” jawabnya sekilas sambil masih melayani pembeli lain.
“Nggih, sebungkus saja Mas…” Continue reading “Tukang Bakso ‘Plat Merah’…”

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

“Negeri India merupakan pusat berkumpulnya ribuan  dukun dan “orang suci”. Kondisi seperti ini tentunya semakin menambah daya pikat bagi manusia di berbagai belahan dunia untuk mengetahui siapa sebenarnya “Sang Avatar Sejati”. Kalau boleh disimpulkan Baba adalah raja dari segala raja dukun. Di India sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki kesaktian dan kemampuan di luar kebiasaan. Dewa yang disembah oleh penduduk India juga beragam. Hal ini juga didukung dengan berbagai sarana dan infrastruktur yang tersedia. Peran media audiovisual dan film-film yang beredar juga sangat kental dengan acara mistik dan kisah-kisah Mahabharata dan lain lain. Dengan demikian, penduduk India sudah sangat akrab dengan dunia klenik dan perdukunan.”

     Dikutip Dari buku ‘Dajjal Sudah Muncul dari Khurasan” karya Abu Fatiah Al-Adnani (2006: 243)

                           ***

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana sebagian kalangan Islam menyikapi ajaran dalam Weda tentang adanya awatara atau penjelmaan Tuhan ke dunia fana ini. Memang ada konteks tertentu yang melatarbelakangi munculnya tulisan tersebut, namun untuk kemudian menyimpulkan dan menggeneralisir bahwa “penduduk India telah akrab dengan dunia klenik dan perdukunan’ adalah sesuatu yang menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakmauan mereka memahami ajaran yoga dan meditasi dalam Hindu. Continue reading “Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?”

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)

Berikut ini beberapa ‘cara ibadah’ yang saya amati dari ‘orang bule’, dua teman saya dari Ukraina yang sedang mengoperasikan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah itu…

Menjadikan Membaca sebagai Proses ‘Mendengar’ dan ‘Cara Ibadah’

Kegemaran membaca kedua orang teman Hindu dari Ukraina itu memang tidak diragukan lagi. Setiap malam, atau bahkan siang hari ketika kabut asap sangat pekat sehingga jarak pandang tidak memungkinkan mereka untuk terbang, maka membaca menjadi kegiatan utama mereka. Jalan-jalan atau nonton televisi, sepertinya sudah tidak lagi menarik bagi mereka. Mungkin sudah bosan juga, karena sudah sering mereka lakukan diberbagai negara sebelumnya…holy gadget Continue reading “Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)”