Home » Hindu(is)me » Hindu dan Sanatana Dharma, Apa Bedanya?

Hindu dan Sanatana Dharma, Apa Bedanya?

cover vedas Banggalah beragama Hindu, banggalah memiliki kitab suci Weda! Hindu agama tertua di dunia, dia paling duluan ada sebelum ada agama lainnya. Weda adalah kitab suci tertua, dan isinya paling lengkap. Apa yang ada dalam kitab suci lain di dunia, pasti kita temukan juga dalam Weda. Tapi, yang ada dalam Weda, belum tentu ada di tempat lain, lho! Jadi, jangan pernah beralih dari agama Hindu ya….
Tentu, bukan hanya sekali dua kali kita mendengar nasehat seperti itu dari para sesepuh kita. Terlalu sering bahkan. Memang, kita akui, secara psikologis nasehat demikian itu membuat kita merasa bangga sebagai pemeluk Hindu. Dan rasa bangga itulah yang kita jadikan bekal dan senjata untuk hidup sebagai generasi muda Hindu.
Yess!!! Hindu agama tertua! Weda kitab suci terlengkap!
Tapi, cukupkah kebanggaan semata? Bagaimana kalau orang lain lalu mempertanyakan atau menyanggah klaim kita itu? Apa buktinya kalau Hindu agama tertua? Sayangnya, kalau kita mau jujur, klaim dan kebanggaan kita itu baru sekedar rasa bangga. Belum dibarengi dengan bukti nyata atau alasan yang kuat. Kalau kemudian ada yang bertanya : “Apa saja sih isi Weda?” “Apa sih isi kitab suci lainnya?” “Apa yang ada dalam kitab Weda, tapi tidak ada dalam kitab lainnya?” “ Trus, apa yang ada dalam kitab lainnya dan juga ada dalam Weda?” Tentu tidak lucu kalau untuk menjawab semua pertanyaan itu kita hanya bisa berkata : “wah…ndak tahu ya….”
Begitulah faktanya. Weda memang diakui sebagai kitab tertua dan mengandung ajaran yang luas, mendalam, dan universal. Tapi sayang, kita sendiri sebagai umat Hindu belum tahu banyak ajaran Weda yang sebenarnya. Kekurangtahuan ini berbuntut. Cermatilah angka-angka hasil sensus penduduk , dari tahun ke tahun jumlah umat Hindu makin menurun. Khususnya di wilayah Jawa. Bukankah ini sebuah ironi? Apa manfaatnya punya kitab suci tertua, terlengkap, terhebat, kalau semua itu toh tidak mampu mencegah seseorang untuk beralih dari Hindu? Di mana letak kesalahannya?
Kalau mau jujur, penyebab utamanya sederhana. Selama ini, kelebihan-kelebihan Weda itu belum pernah dijelaskan dan dijabarkan secara gamblang. Ia belum membumi, belum “merakyat”, masih di awing-awang. Belum banyak sumber-sumber khusus yang mencoba menguraikan dan membahas secara tuntas apa saja ajaran Weda yang mestinya mampu membuat kita bangga itu.
Berawal dari asumsi itulah, dengan segala kekurangannya, Newsletter Sanatana Dharma akan mencoba menghadirkan artikel-artikel yang secara khusus membahas tema-tema yang membuktikan bahwa Weda memiliki ajaran yang lebih lengkap dan lebih mendalam dibandingkan kitab-kitab suci lainnya.
Hanya saja, ada konsekuensi yang harus kita hadapi, bila kita ingin menunjukkan bahwa Weda adalah kitab suci dengan ajaran mendalam dan universal, sebagai kitab terlengkap. Dan hal itu tidak mungkin kita hindari. Yaitu, mau tidak mau, kita harus menyebut, mengutip, atau menyinggung ajaran-ajaran dalam kitab-kitab suci agama lainnya. Sebagai bahan perbandingan. Tanpa melakukan “studi banding” seperti itu, bagaimana mungkin kita bisa tahu bahwa Weda punya sesuatu yang lebih dibanding yang lain? Jadi, harap jangan terkejut bila nantinya artikel-artikel dalam newsletter ini akan memuat pula tokoh, ajaran, ataupun sejarah agama-agama lain. Karena, salah satu bukti kelengkapan Weda adalah bahwa Weda telah meramalkan kemunculan tokoh-tokoh agama lain itu, jauh sebelum kemunculan mereka.
Bukan hanya soal kelengkapan ajaran Weda. Kami juga akan mengkritisi dan meluruskan pandangan miring terhadap Hindu dan Weda yang sudah terlanjur dianggap benar dalam sejarah. Misalnya, anggapan bahwa Weda dan peradaban Hindu adalah peradaban bawaan Bangsa Arya yang berasal dari wilayah Eropa. Teori penyerangan bangsa Arya ke bangsa Dravida yang sudah mapan dan tertulis dalam buku-buku sejarah itu, ternyata merupakan konspirasi politik penjajah Inggeris. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa teori tersebut tidak didukung oleh fakta-fakta ilmiah.

Selain itu, kita juga akan mengulas dan mengkritisi kebenaran teori-teori dalam bidang ilmu pengetahuan. Terutama yang menyangkut penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, ataupun ada tidaknya Tuhan. Sedapat mungkin pembahasan akan disertai dengan bukti-bukti ilmiah, tidak sekedar mempertentangkannya dengan “dogma-dogma” Weda.

Hindu Didirikan oleh Alexander Agung??

Benarkah Hindu agama tertua di dunia? Kalau benar, tahun berapa Hindu mulai ada dan berkembang? Siapa pendirinya, atau, siapa nabinya? Orang akan selalu mempertanyakan hal itu. Maklumlah, agama-agama lain yang lebih muda, dapat dengan mudah kita telusuri siapa pendirinya dan kapan didirikan. Tidak demikian halnya dengan agama Hindu. Sampai-sampai dalam buku-buku perbandingan agama, Hindu disebut sebagai agama “ardi” sebagai lawan dari agama “samawi”. Agama “ardi” artinya agama bumi, agama buatan manusia. Lawannya, agama “samawi” adalah agama yang turun dari langit, ajarannya bersumber dari wahyu Tuhan.

Tentu saja, itu pengelompokkan yang tidak adil, penilaian sepihak. Mudah diduga, yang kemudian dimasukkan sebagai agama-agama wahyu adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang nabi-nabinya dikatakan menerima wahyu langsung dari Tuhan. Ketiga agama serumpun itu sering pula dikenal sebagai “Abrahamic Religion” atau agama-agama yang didirikan oleh nabi Abraham (Ibrahim menurut Islam). Sedangkan Hindu dikategorikan sebagai agama bumi, menurut pendapat mereka, karena tidak jelas apakah Weda adalah wahyu Tuhan atau bukan! Kalau wahyu Tuhan, kapan dan kepada siapa wahyu itu pertama kali disabdakan? Siapa resi pertama penerima wahyu Weda??
Disinilah masalahnya. Bahkan para ahli sejarah Hindu pun masih simpang siur dalam menyebut kapan agama Hindu mulai berkembang. Ada yang menyebut agama Hindu lahir tahun 6000 Sebelum Masehi, tapi ada pula yang mengatakan tahun 1500 SM. Mana yang benar?

Bagaimana memahami persoalan ini? Untuk menjawabnya, kita harus terlebih dahulu menelusuri kembali asal usul nama ‘Hindu’. Mungkin kita akan terkejut. Bahwa ternyata dalam seluruh kitab Weda ataupun dalam bahasa Sanskerta, tidak ditemukan kata ‘Hindu’. Begitupun dalam bahasa-bahasa di India. Yang ada adalah nama sungai, yaitu sungai Shindu, salah satu sungai suci di India.
Menurut Stephen Knapp, banyak sarjana yang berpendapat bahwa kata ‘Hindu’ sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh orang-orang luar India, para pendatang yang tidak bisa mengucapkan nama sungai Sindhu secara benar. Adalah Alexander Agung dari Yunani yang terkenal itu. Alexander Agung menyerang wilayah India pada sekitar tahun 325 Sebelum Masehi. Dialah yang mula-mula menyebut nama “Sindhu” menjadi “Indu”, dengan menghilangkan huruf ‘s’ pada awal nama sungai itu. Dalam bahasa Yunani, mengucapkan kata ‘indu’ jauh lebih mudah dari pada mengucapkan kata ‘sindhu’. Dari kata ‘indu’ inilah muncul nama lembah ‘indus’ yang merupakan lokasi ditemukannya peradaban kuno tertua, yaitu Mahenjodaro dan Harappa. Dari kata ‘indus’ ini pula akhirnya muncul nama ‘india’, nama yang khususnya digunakan selama penjajahan Inggeris. Padahal, dalam kitab-kitab Weda, nama asli negara India adalah “Bharata-varsha”.

Mengenai kata ‘Hindu’, menurut Rosen (2002) sebenarnya bermula dari penyerangan orang-orang Islam ke India yang berasal dari wilayah Persia dan Afghanistan. Dalam bahasa Persia, sungai ‘Sindhu’ lebih mudah disebut sungai ‘Hindu’. Artinya, huruf ‘s’ dibagian awal kata diucapkan sebagai ‘h’. Orang-orang Persia menyebut penduduk yang tinggal di wilayah itu sebagai orang-orang ‘Hindu’, dan kepulauannya disebut ‘Hindustan’. Termasuk pula, hingga saat ini kita memiliki nama Samudra ‘Hindia’, yang namanya berasal dari kesalahan pengucapan tersebut. Jadi, sebenarnya pada awalnya kata ‘Hindu’ tidak dimaksudkan sebagai nama sebuah agama, melainkan lebih menunjukkan pada wilayah geografis. Orang-orang Hindu, berarti adalah orang yang tinggal di wilayah sungai Sindu.
Dalam perkembangannya, Inggeris yang menjajah India pada waktu itu, menggunakan istilah ‘agama Hindu’ untuk menyebut agama yang dianut oleh penduduk asli India. Kemudian, istilah ‘orang Hindu’ juga digunakan untuk menyebut orang India yang masih mempercayai dan mempraktekkan agama leluhurnya dan tidak beralih agamanya menjadi Islam atau Kristen.

Karena telah digunakan selama sekitar 1300 tahun, akhirnya masyarakat India sendiri menjadi terbiasa dengan sebutan itu. Mereka menerima dan menyebut ajaran Weda yang mereka yakini selama ini sebagai agama ‘Hindu’. Demikianlah, akhirnya ‘Hindu’ dan ‘Hinduisme’ diakui secara resmi sebagai nama agama yang lahir di India dan mendasarkan ajarannya pada kitab suci Weda. Seluruh dunia menerima semua itu, walaupun sebenarnya pengertiannya menjadi kabur dan rancu.
Lalu, apa nama asli ajaran Weda sebelum disebut sebagai agama Hindu? Namanya adalah Sanatana Dharma, yaitu Dharma yang kekal. Kapan Sanatana Dharma atau ajaran Weda itu lahir di dunia ini? Jawabannya sederhana : Weda diwahyukan berbarengan pada saat dunia dan alam semesta ini diciptakan. Begitu prabrik memproduksi barang, dibuat pula brosur, manual, atau petunjuk pengoperasian atau pemakaian barang itu. Begitu pula dengan obat, selalu disertai aturan dosisnya, apa saja efek sampingnya. “Baca aturan pakai…jika sakit berlanjut..” Demikian pula Weda, ia adalah brosur alam semesta! Jadi begitu alam semesta diciptakan, Weda diwahyukan. Yang tersisa adalah pertanyaan “Kapan dunia ini diciptakan?” Untuk jawabannya, nantikan edisi-edisi newsletter ini selanjutnya. Banggalah menjadi Hindu!

 

Loading Facebook Comments ...