Home » Hindu(is)me » Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Untuk memudahkan memahami paham Tri Murti itu, sering dicontohkan sebagai berikut. Ada orang bernama Sunu. Jabatan Sunu dalam lembaga pemerintahan adalah sebagai direktur. Karena itu, semua pegawai bawahannya memanggil Pak Sunu dengan sebutan Pak Direktur. Tetapi Pak Sunu ini juga sebagai rektor dari sebuah perguruan tinggi, sehingga semua mahasiswanya memanggil dengan nama Pak Rektor. Di rumah, sebagai seorang ayah, istrinya memanggil dengan sebutan Ayah. Apakah dengan nama banyak itu, berarti orangnya banyak? Tidak bukan? Karena orang itu hanya satu, yaitu Pak Sunu sendiri. Pak Sunu menyandang banyak sebutan atau nama, dan setiap nama yang dipakainya itu benar, sesuai dengan fungsinya masing-masing (Wiana, 1994).

Begitulah penjelasan yang kita terima selama ini, masuk akal dan dapat dipahami. Hanya saja, penjelasan itu bisa menimbulkan pertanyaan baru. Pertanyaan yang seringkali tidak terjawab secara meyakinkan. Mengapa demikian? Apa pertanyaan itu? Soal wujud dan artibut Brahma, Wisnu, dan Siwa! Dalam contoh Pak Sunu, kita bisa dengan mudah mengerti bahwa Pak Sunu memang hanya satu orangnya. Mengapa? Karena, meskipun bekerja dan mengenakan seragam yang berbeda sesuai tugasnya, orang tidak akan ‘pangling’ dengan penampilan Pak Sunu. Karena, wajah Pak Sunu tidak berubah. Biar dipanggil Pak Direktur, Pak Rektor, ataupun Pak Sunu, penampilannya tetap tidak jauh berbeda.

Masalahnya adalah ‘penampilan’ Hyang Widhi sebagai Brahma, jauh berbeda dengan ‘penampilan’ Hyang Widhi sebagai Wisnu, dan jauh berbeda pula dengan ‘saat tampil’ sebagai Siwa. Ketika bertugas sebagai pencipta, Hyang Widhi ‘berseragam’ yang sama sekali berbeda dengan ‘seragam’ pada saat memelihara. Begitupula saat melakukan tugas peleburan. Saat dipanggil Brahma, Hyang Widhi berkepala empat, saat dipanggil Wisnu Hyang Widhi berlengan empat, dan saat disebut Siwa, Hyang Widhi berkalung ular kobra dan membawa senjata trisula. Dengan penggambaran ‘pakaian dinas’ dan ‘aksesoris’ (maaf) yang sangat berbeda seperti itu, membuat kita jadi ‘pangling’, dan tidak menyangka bahwa ketiganya adalah Hyang Widhi yang sama. Bandingkan halnya dengan Pak Sunu tadi.

Pertanyaannya adalah apakah penggambaran wujud itu sekedar hasil imajinasi manusia para seniman – , ataukah memang ada uraiannya dalam Weda? Kalau wujud itu diuraikan dalam Weda, bagaimana para maharsi sampai bisa mengetahui atau melihat langsung wujud Brahma, wujud Wisnu, dan wujud Siwa yang berbeda itu? **** Baiklah, sekarang mari kita berusaha menjawab dua pertanyaan penting yang diajukan oleh teman-teman non Hindu seperti pada bagian awal artikel ini. Pertama, mengapa ada Waisnawaisme dan Siwaisme, tapi tidak ada mazab Brahmaisme yang seharusnya juga berkembang menjadi sebuah sekte besar dalam Hindu? Apakah Tri Murti Hindu sama dengan Trinitas Kristen? Kedua, Apa dasarnya, sehingga Brahma yang jelas-jelas adalah Pencipta, seolah-olah ‘tidak dianggap’ sebagai Tuhan Yang Maha Esa dalam Hindu? Padahal, dalam hampir semua kitab suci di dunia dikatakan, bahwa Tuhan adalah pencipta dunia beserta isinya. Seharusnya justru Brahma sang pencipta itulah yang dianggap sebagai Tuhan.  

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...