Home » Hindu(is)me » Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Benarkah Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu dan sama?

Umumnya umat Hindu menganggap bahwa Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu. Salah satu referensi yang sering dikutip untuk menjelaskan bahwa Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu, adalah mantra bait ketiga Tri Sandhya.   Om tvam sivas tvam mahadevah isvarah paramesvarah brahma visnuca rudras ca purusah parikirtitah Artinya : Ya, Hyang Widhi yang disebut pula dengan nama Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, dan Rudra, Hyang Widhi adalah asal mula dari segala yang ada.   Ayat di atas inilah yang dipakai sebagai dasar untuk memberi contoh tentang banyaknya nama yang dimiliki Pak Sunu tersebut. Kalau orang mau lebih banyak membaca, ada satu lagi referensi yang bisa menguatkan anggapan bahwa Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu dan identik.

Dalam Bhagavata Purana 4.7.50 Sri Wishnu menjelaskan :   ahaṁ brahmā ca śarvaś ca jagataḥ kāraṇaṁ param ātmeśvara upadraṣṭā svayan-dṛg aviśeṣaṇaḥ   Sri Wisnu berkata : “Brahma, Siwa, dan Diri-Ku adalah penyebab tertinggi perwujudan alam material. Aku adalah Roh Yang Utama, saksi yang (mampu) melengkapi kebutuhan sendiri. Namun, secara impersonal, tidak ada perbedaan antara Brahma, Siwa, dan Diri-Ku.”

Selain itu, dalam kitab Mahabharata (Anushasana Parva 135) juga dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Wisnu dan Siwa, dan bahkan menyebut nama-nama Siwa, Sharva, Sthanu, Ishana, dan Rudra yaitu nama nama yang biasanya dimiliki oleh Siwa di antara ribuan nama Wisnu. Penyebutan Wisnu dan Siwa secara bersamaan seperti itu memang akan dapat membuat orang berkesimpulan bahwa semua dewa yang disebutkan dalam Weda sebenarnya satu dan sama.

Tetapi kalau kita kaji dan pelajari secara menyeluruh kitab Catur Weda, Upanisad, dan Purana, tampak dengan jelas bahwa sebenarnya Brahma, Wisnu, dan Siwa bukanlah kepribadian yang sama atau satu. Jadi, contoh tentang Pak Sunu di atas tidak tepat untuk menjelaskan tentang siapa sesungguhnya Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Kita mulai dengan kitab Catur Weda. Dalam kitab Rg Weda 1.22.20 dinyatakan : om tad visnoh paramam padam sada pasyanti….” Artinya ‘kaki padma Wisnu adalah adalah tujuan tertinggi bagi semua dewa. Kaki padma itu secerah matahari yang menyinari angkasa.…”

Bait kedua mantra Tri Sandhya juga menyatakan : “om narayanad evedam sarvam….eko narayana na dwi tyo asti kascit.” Mantra inilah yang populer diterjemahkan oleh umat Hindu sebagai “hanya satu Tuhan itu (narayana), sama sekali tidak ada duanya.”

Jadi, yang diterjemahkan sebagai Tuhan dalam ayat itu adalah Narayana. Swami Krishnananda, dalam bukunya A Short History of Religious and Philosophic Thought in India (1994 ) membenarkan bahwa dalam kitab Purana dan Upanisad, Narayana adalah Tuhan Yang Asli (primeval God). Menurutnya, ada referensi yang menyebutkan bahwa Narayana adalah sumber dari Brahma, Wisnu, dan Siwa. Narayana adalah tujuan tertinggi yang dicita-citakan dan ingin dicapai oleh setiap orang.

According to the epics, the primeval God from whom the universe emanated through the creative will is Narayana, a term signifying, according to these texts, the divine being who reposes on the universal waters of the primordial condition of the universe, one who is the goal, ideal, and destination of all individual. There are references which make out that Narayana is prior to the division of the phases god into Brahma, Wishnu, and Siwa.”

Dalam perkembangannya, yang menjadi persoalan adalah siapa sesungguhnya Narayana itu. Mereka yang membaca Ramayana ataupun Mahabharata, akan tahu bahwa dalam beberapa upacara, Sri Rama dan Sri Krishna melakukan pemujaan kepada lingam Siwa. Karena itu, para penyembah Siwa, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Narayana itu tidak lain adalah Siwa. Sedangkan yang lain mengatakan bahwa Sri Rama dan Sri Krishna hanyalah memberikan contoh bagaimana hendaknya orang menghormati dan menyembah Dewa Siwa. Selain itu, dalam kitab-kitab lainnya, Narayana adalah identik dengan Wishnu.

Di sinilah awal mula terjadinya perbedaan pendapat dan terbentuknya mazab Waisnawa, yang menganggap Narayana (Tuhan) adalah Wishnu, dan mazab Shaivite (Siwaisme) yang menganggap Siwa adalah Tuhan. Di India sendiri, saat ini Waisnawaisme dan Siwaisme sama-sama berkembang. Dalam The Britannica Book of the Year tahun 1996, dinyatakan bahwa jumlah pemuja Wisnu di India mencapai 70% dari kurang lebih 800 juta penduduk Hindu di India (25% pemuja Siwa, 2% pengikut neo-Hindu, dan sisanya adalah berbagai aliran kepercayaan lainnya).

Mengapa tidak ada Brahmaisme?  

Dari uraian di atas, mulai ada titik terang mengapa tidak banyak orang yang salah paham dengan menganggap Brahma adalah Tuhan, lalu membentuk mazab Brahmaisme. Lagi pula, dalam berbagai Purana, jelas disebutkan bahwa Brahma adalah makhluk hidup yang pertama diciptakan oleh Narayana. Dalam Bhagavata Purana Skanda 2 Bab 9, diuraikan secara rinci bahwa Brahma bersemayam di atas bunga padma, dan tangkai bunga padma itu bermuara pada pusar Mahavisnu atau Narayana.

Dalam Bhagavata Purana itu dijelaskan bahwa Brahmalah yang pertama kali menerima wahyu Weda. Brahma kemudian diberikan kekuasaan dan kemampuan sebagai pencipta. Brahma lalu menciptakan alam semesta material, menciptakan Sapta Resi, termasuk Manu dan Satarupa, leluhur manusia menurut Weda. Sebagai makhluk ciptaan, Dewa Brahma diberikan ‘jatah’ usia hidup selama kurun waktu tertentu, juga mengalami sakit, usia tua, lalu meninggal (Bhaktivedanta Swami, 1996).

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...