Home » Hindu(is)me » Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Samakah Tri Murti Hindu dengan Trinitas Kristen?

Brahma juga mengalami siang hari dan malam hari, sama seperti yang kita alami. Dewa Brahma akan hidup selama seratus tahun menurut perhitungan para dewa. Kurun waktu siang hari dan malam harinya Dewa Brahma inilah yang dijadikan ‘satuan’ dalam perhitungan waktu semesta.   Pada awal satu hari bagi Brahma, semua makhluk hidup diwujudkan dari keadaan tidak berwujud. Sesudah itu, bila malam hari mulai, sekali lagi mereka terlebur ke dalam keadaan tidak berwujud. Semua makhluk hidup terwujud berulang kali bila hari sudah siang bagi Brahma, lalu dengan mulainya malam hari bagi Brahma, mereka dilebur dalam keadaan tidak berdaya (Bhagavad-gita 8.18 19).

Dalam Bhagavata Purana 3.9.23 dijelaskan bahwa Brahma memulai setiap hari baru beliau dengan meditasi kepada Tuhan. Brahma berdoa agar “dapat tekun menjalankan tugas penciptaan material”, dan semoga dapat meninggalkan “rasa kebanggaan semu sebagai seorang pencipta alam semesta”. Dengan kata lain, Brahma mengakui sifat ketergantungannya kepada Tuhan. Itulah sebabnya, tidak seperti dewa-dewa lainnya, Brahma jarang sekali disalahpahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu pula, dalam perkembangan agama Hindu, tidak ada mazab atau sekte khusus pemuja Brahma, atau Brahmaisme. Kalau toh ada sekelompok orang yang melakukannya, jumlahnya sangat kecil.

Dengan demikian jelaslah bahwa Brahma, Wisnu, dan Siwa tidaklah satu atau tunggal seperti yang dijelaskan dalam buku-buku Hindu selama ini. Jadi, contoh Pak Sunu yang punya banyak nama sesuai dengan tugas dan pekerjaannya, sebenarnya tidak tepat untuk menjelaskan atau mencontohkan hubungan antara Brahma, Wisnu, dan Siwa dengan Hyang Widhi Wasa.

Tri Murti Hindu Beda dengan Trinitas Kristen

Uraian tentang kedudukan dan jati diri Brahma, Wisnu, dan Siwa di atas cukup jelas. Pertanyaannya adalah apakah Trimurti sama dengan Trinitas? Dalam Sanatana Dharma edisi sebelumnya (No 16/September 2005), kami telah memaparkan bahwa para misionaris Kristen di India lah yang mulanya memperkenalkan kepada orang-orang Hindu di sana, bahwa Tri Murti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) sama dengan Trinitas Kristen (Allah Bapa, Allah Putera, dan Roh Kudus). Itu dilakukan sebagai usaha untuk lebih mendekatkan orang Hindu dengan ajaran Kristen . Pernyataan ini diungkapkan oleh Sir William Jones sendiri, salah seorang pendiri Indologist, yaitu perkumpulan sarjana Kristen Barat yang mempelajari budaya India dan Hindu demi untuk kepentingan kolonial.

Dalam salah satu korespondensinya, Sir William Jones (Satsvarupa, 1977) suatu ketika pernah berkata “Very respectable natives have assured me that one or two missionaries have been absurd enough, in their zeal for the conversion of the Gentiles, to urge that the Hindus were even now almost Christians because their Brahma, Visnu, and Mahesa (Siwa) were no other than the Christians trinity, a sentence in which we can only wonder whether folly, ignorance, or impiety predominates”.

Terjemahan bebasnya :     “(Ada) penduduk asli India yang dihormati masyarakat, yang telah meyakinkan saya bahwa ada satu dua orang misionaris yang cukup menggelikan, karena mereka terlalu bersemangat mengajak orang-orang ‘kafir’ untuk masuk Kristen, mereka mendesakkan (pandapatnya) bahwa Hindu saat ini telah mirip dengan Kristen, karena Brahma, Wisnu, dan Mahesa (Siwa) orang Hindu sebenarnya tidak lain adalah Trinitas dalam Kristen (Tuhan Bapa, Tuhan Putera, dan Roh Kudus, penulis); sebuah pernyataan mengherankan kita, yang di dalamnya pasti didominasi oleh kebodohan, ketololan, dan ketidaksabaran”.

Kalau Sir William Jones saja berpendapat demikian, dapat kita simpulkan paham Tri Murti memang tidak identik dengan Trinitas dalam Kristen. Kesimpulan itu sesuai dengan penjelasan sloka-sloka yang kita bahas sebelumnya, tentang identitas dan kedudukan Brahma, Wisnu, dan Siwa sebenarnya.   Parama Atma dan Roh Kudus Dalam Bhagavad-gita 15.15, dinyatakan bahwa selain berada di tempat tinggal rohani-Nya, Tuhan Yang Esa sekaligus bersemayam pula dalam segala sesuatu. sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca vedaiś ca sarvair aham eva vedyo vedānta-kṛd veda-vid eva cāham   “ Aku bersemayam di dalam hati semua makhluk. Ingatan, pengetahuan, dan pelupaan berasal dari-Ku.

Akulah yang harus diketahui dari segala Weda, memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Weda”   Perhatikan pernyataan Sri Krishna dalam ayat ini. Bahwa Beliau berada dalam segala sesuatu, merasuk dan bersemayam dalam diri semua makhluk. Aspek inilah yang kita kenal sebagai Parama Atma (Roh Yang Utama). Jadi, menurut Bhagavad-gita, diri kita yang sejati adalah Atma (roh), sedangkan Tuhan bersemayam dalam diri kita sebagai Parama Atma.

Sifat Tuhan yang Esa, sekalgus banyak ini dapat dijelaskan melalui contoh berikut. Cobalah menyiapkan seribu tempayan berisi air. Tempatkanlah tempayan-tempayan itu diruang terbuka, pada saat bulan purnama pada malam yang cerah. Ajaklah seribu orang untuk menyaksikan masing-masing tempayan itu. Satu orang satu. Di langit, hanya ada satu bulan. Tapi pada saat yang sama, keseribu orang itu dapat melihat bayangan bulan berada pada masing-masing tempayan yang ada di hadapan mereka. Seperti itu pulalah cara kita memahami sifat Tuhan yang Esa, namun pada saat yang sama berada dalam segala sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah ‘hati kecil’, ‘suara hati’ atau ‘hati nurani’. Ia tak pernah bohong, selalu membisikkan hal yang benar. Kepekaan nurani tergantung pada masing-masing orang, semakin sering diabaikan, semakin bebal dan tumpul. Nah, itulah salah satu peran dari Parama Atma, menemani dan mengarahkan pengembaraan para makhluk hidup di dunia material ini, mengarahkan ke jalan yang benar.

Dalam Tinitas Kristen, peran Parama Atma inilah yang diistilahkan sebagai Allah Roh Kudus. Allah yang Satu itu, selain sebagai Bapa Pencipta yang berada di surga, juga sebagai Allah yang memancarkan rahmat-sabda-kasih- kebaikan-Nya secara nyata kepada manusia (Allah Putera).Yesus Kristus adalah Allah Putera itu.   Dan pancaran kasih tersebut berdaya-kuasa memberikan jiwa, kehidupan baru, terang, petunjuk, inspirasi, kekuatan, kesegaran, semangat, keberanian, dll kepada manusia (inilah Allah Roh Kudus). Istilah ‘Roh Kudus’ secara tidak langsung mengindikasikan adanya ‘roh-roh yang tidak kudus’.Kalau tidak demikian, mengapa ada pembedaan istilah dengan menyebut ‘Roh (yang) Kudus’? Manusia-manusia inilah ‘roh-roh’ tidak kudus itu. Jadi ParamaAtma (Roh Yang Utama, Supersoul) mirip pemahamannya dengan Roh Kudus.

Lalu, apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari persamaan konsep Tuhan ini? Pertama, orang mengakui bahwa Hindu adalah agama tertua dan ajarannya pernah tersebar ke seluruh dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa agama-agama yang lahir belakangan, sedikit banyak mengadopsi dan menyerap paham ketuhanan yang diajarkan oleh Weda, dengan berbagai penyesuaian. Dalam konteks Kristen, persamaan itu mungkin tidak terlalu mengherankan, mengingat berbagai bukti ilmiah menunjukkan tanda-tanda bahwa Yesus Kristus pernah mengadakan perjalanan ke India (Rosen, 2002) dan sedikit banyak mempelajari dan mengajarkan prinsip-prinsip dasar ajaran bhakti yoga kepada umat-Nya (Stephen Knapp, 1993). Inilah satu lagi bukti betapa luhur dan mendalamnya ajaran Weda. Banggalah menjadi Hindu!

Bacaan :

Bhaktivedanta, Swami. (1996). Bhagavad-gita Menurut Aslinya (diterjemahkan oleh Tim Penterjemah. Jakarrta : Pustaka Bhaktivedanta

Knapp, Stephen. (1993). The Secret Teaching of the Vedas. Detroit: The World Relief Network

Rosen, Steven J. (2002). The Hidden Glory of India. USA; Bhaktivedanta Book Trust International

Satsvarupa Gosvami (1997). Elemens of Vedic Though and Culture. USA: Bhaktivedanta Book Trust

Wiana, I Ketut. (2004). Bagaimana Umat Hindu Menghayati Tuhan. Jakarta : Pustaka Manikgeni

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...