Home » Hindu(is)me » Siapa Sih, Tuhannya Orang Hindu ? (1)

Siapa Sih, Tuhannya Orang Hindu ? (1)

Selama kurang lebih lima tahun, saat masih berada di Yogyakarta, saya pernah menjadi DLB pada mata kuliah Religiusitas di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta. Di kampus milik yayasan Katholik yang namanya mirip kampus Hindu itu, saya bersama teman-teman tim dosen dari agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha, ditugasi mengisi pengenalan agama untuk mahasiswa baru semua jurusan. Saya dan beberapa teman dosen Hindu lainnya, diberi kesempatan untuk memperkenalkan Hindu dan ajaran-ajarannya kepada mahasiswa-mahasiswa semester I, semua jurusan, yang berlatar belakang agama kebanyakan di luar Hindu.

DialogSantri 008

Dialog tentang Hindu di Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta

Meski sesungguhnya silabus perkuliahan lebih menekankan pada eksplorasi nilai-nilai multikulturalisme dalam ajaran Hindu, tapi dalam prakteknya, saya selalu gagal menyelesaikan penyampaian materi sesuai silabus. Mengapa? Ya, karena memang, sebelum sempat bicara tentang konsep kerukunan dan toleransi dalam Hindu, saya sudah terlebih dahulu dihujani pertanyaan tentang Hindu oleh mahasiswa. Maklum, barangkali selama ini mereka jarang berkesempatan melakukan klarifikasi apa yang mereka ketahui tentang Hindu itu, dengan bertanya langsung pada penganut Hindu. Nah, mumpung ketemu saya, rupanya kesempatan itu tiba.

Begitu pula, saat saya berkesempatan berdialog dengan para santri yang datang ke Ashram Narayana Smerti di Yogyakarta, atau saat saya diundang ke pesantren mereka, pertanyaan seputar Hindu juga tak terbendung. Materi yang sudah saya persiapkan sebelumnya sering tidak tersampaikan secara tuntas, karena waktu habis untuk menjawab pertanyaan tentang hal-hal lain di luar tema yang disepakati.

Pertanyaan mereka seputar Hindu, masih berkisar itu-itu juga. Ada satu yang saya ingat, pertanyaan seorang mahasiswa, yang cukup membuat saya terhenyak saat itu.

“Dari sekian banyak itu, siapa sebenarnya Tuhannya orang Hindu? Yang mana yang benar-benar Tuhan?” Dari tahun ke tahun, pertanyaan sejenis ini selalu saja diajukan oleh para mahasiswa peserta mata kuliah pendidikan agama di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kalau pertanyaan itu selalu muncul dari tahun ke tahun, padahal mahasiswanya selalu berganti-ganti, dan berasal dari daerah yang berbeda-beda, tidakkah kita dapat menyimpulkan sesuatu? Bahwa ternyata kebanyakan masyarakat di luar Hindu mengalami kebingungan dalam memahami siapa sebenarnya ‘Tuhan’ bagi orang Hindu. Setidaknya itu tercermin, sekali lagi, dalam pertanyaan yang terus berulang seperti itu.

Sebelum menjawab pertanyaan demikian, biasanya penulis balik bertanya dulu. “Mengapa Anda bertanya begitu? Apa latar belakangnya?”

Biasanya mahasiswa penanya itu lalu menjawab dengan berapi-api. “Bagaimana saya tidak bingung Pak? Saya pernah membaca sebuah buku tentang ajaran ketuhanan Hindu. Di sana disebutkan bahwa Tuhan itu hanya satu, tapi punya banyak nama…orang bijaksana memberikan Tuhan berbagai nama…” dia mulai menjelaskan.

“Lalu, apakah Anda sulit memahami konsep bahwa Tuhan itu hanya satu, tapi disebut dengan banyak nama tersebut?” saya sengaja menyela.

“Oh, tidak Pak. Saya bisa memahami konsep itu. Saya kira itu masih masuk akal. Kalau bendanya satu, tapi sebutannya banyak, itu saya bisa mengerti….Tapi yang saya heran dan bingung, kok dalam prakteknya Tuhannya orang Hindu tidak seperti yang diteorikan itu? Mengapa bisa terjadi hal yang sangat bertolak belakang begitu, Pak?”

“Apa yang saudara maksudkan bertolak belakang?”

 

Sharing dengan para santri di Narayana Smerti Ashram, Sleman, Yogyakarta

Sharing dengan para santri di Narayana Smerti Ashram, Sleman, Yogyakarta

Mahasiswa itupun lalu menjelaskan apa yang dia maksud. Dalam pemahamannya, kalau memang Tuhan hanya satu tapi disebut dengan banyak nama, mestinya wujud atau rupa wajah gambar dan patung Tuhan yang disembah umat Hindu itu tidak bervariasi dan mirip-mirip. Anggaplah patung, arca, gambar atau lukisan Tuhan itu ibarat foto seorang manusia. Biasanya, seseorang berpose dengan gaya, pakaian, suasana atau latar belakang pemandangan yang berbeda-beda. Tapi tetap saja, orang lain masih bisa mengenali orang tersebut, berdasarkan kemiripan atau keserupaan wajah dan posturnya dalam sekian banyak foto-foto itu. Jadi ‘kemiripan’ atau ‘keserupaan’ inilah yang menjadi ciri pengenal seseorang.

“Nah, kalau seperti contoh foto itu…” lanjutnya, “mestinya gambar dan patung Tuhannya orang Hindu khan mirip-mirip. Lha anehnya, ini gambarnya Brahma, beda dengan gambarnya Wisnu, beda lagi dengan Siwa. Padahal, katanya ketiganya itu adalah Tri Murti, tiga perwujudan Tuhan yang satu…Seharusnya, menurut teori Tuhan hanya satu, tapi disebut dengan banyak nama itu, khan mestinya gambar mereka nggak beda-beda, tapi hanya namanya yang beda-beda….”

Belum lagi, dia melanjutkan, ada Dewa Ganesha, Dewi Saraswati, Sri Krishna, Sri Rama, Dewi Durga, Hanoman, Sri Narasimha, dan awatara-awatara lainnya. Kesemuanya dipuja sebagai Tuhan oleh berbagai sekte Hindu. Bukankah ini sebagai bukti bahwa antara teori Tuhan itu hanya satu, disebut dengan banyak nama, tidak sinkron dengan fakta di lapangan? Kalau benar Tuhan orang Hindu hanya satu, mengapa ada begitu banyak bentuk atau perwujudan Tuhan? Apakah menurut Weda, dewa sama dengan Tuhan?

DialogSantri 005

Dalam hati, saya mengagumi sikap kritis mahasiswa tersebut. Terlepas apakah kekritisan itu adalah doktrin yang secara sengaja ditanamkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencari-cari kelemahan ajaran Hindu, ataukah hasil pemikiran dan perenungan pribadi mahasiswa itu. Yang jelas, saat itu saya merasa bahwa pertanyaan kritis itu penting maknanya bagi saya pribadi, sebagai orang yang mengimani atau meyakini paham ketuhanan Hindu yang dinilai membingungkan, tidak sinkron antara tataran filosofi dengan kenyataan praktek kesehariannya. Sudahkah sebagai seorang Hindu, saya memahami secara utuh konsep ketuhanan Hindu yang dianggap ‘rumit dan kompleks’ itu? Bagaimana cara saya menjelaskan pemahaman dan keyakinan saya itu kepada para mahasiswa non-Hindu, yang jelas-jelas terbiasa dengan doktrin bahwa ‘Tuhan itu hanya satu, tidak berwujud, tidak beranak, tidak pula diperanakkan’?

Selain itu, terlintas pula dalam pikiran saya, tidakkah pertanyaan-pertanyaan kritis demikian itu dihadapi pula oleh umat Hindu di luar sana? Kalau memang apa yang diungkapkan oleh para mahasiswa itu benar-benar mewakili atau mencerminkan apa yang bercokol dalam benak orang-orang di luar Hindu, bagaimana selama ini umat Hindu menjelaskannya? Sudahkah mereka mampu memberikan penjelasan yang memadai atau setidaknya ‘masuk akal’ bagi masyarakat di luar Hindu itu? Atau, jangan-jangan ada sebagian orang Hindu sendiri yang juga merasa konsep ketuhanan Hindu itu terlalu rumit, tidak masuk akal, dan susah dipahami? Jangan-jangan karena anggapan itulah, lalu mereka memilih ‘hijrah’ dan mengadopsi paham ketuhanan baru yang lebih mudah dicerna dan dipahami? Kebingungan itukah yang menjadi alasan mereka meninggalkan Hindu? Bila demikian halnya, tentu ini bukan hal yang sederhana. Lalu, bagaimana menjelaskan hal yang tidak sederhana ini? (bersambung)

 

Loading Facebook Comments ...