Home » Hindu(is)me » Kapan Weda di Wahyukan?

Kapan Weda di Wahyukan?

Tanpa sengaja, beberapa kawan non Hindu turut membaca Newsletter Sanatana Dharma ketika mereka berkunjung ke ashram Narayana Smerti di Yogyakarta. Newsletter sederhana itu kami terbitkan setiap bulan, terdiri dari 12 halaman setengah kuarto. Dengan oplah sekitar 500 eksemplar setiap kali terbit, media yang membahas tema-tema kontroversial seputar ajaran Hindu itu kami bagikan secara gratis. Terutama kami berikan kepada umat Hindu saat persembahnyangan di pura-pura besar di Yogyakarta. Selain itu, ada juga yang kami kirim kepada para pelanggan yang tersebar di beberapa daerah. Rupanya, ada juga yang terbaca oleh umat lain.

Setelah membaca beberapa edisi, mereka akhirnya memberanikan diri untuk berkomentar dan mengajukan pertanyaan. Terutama, setelah mereka tahu bahwa Weda bukanlah hasil peradaban bangsa Arya, dan bahwa bangsa Arya sesungguhnya tidak ada. Taruhlah, Weda bukan hasil peradaban Arya, melainkan wahyu Tuhan kepada para resi di India. Pertanyaan kawan itu adalah “Kapan Weda diwahyukan? Kok saya nggak pernah dengar orang Hindu memperingati hari turunnya Weda? Khan ada Nuzulul Qur’an, misalnya, yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan oleh umat Islam? Itu peringatan pertama kali Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Tapi kok turunnya Weda nggak pernah diperingati? Apa Weda bukan wahyu Tuhan?”
Belum sempat saya mengomentari pertanyaannya, kawan itu sudah melanjutkan :
“Memang sih, saya pernah baca, kalau menurut versi Weda sendiri, Weda diwahyukan bersamaan dengan alam semesta ini diciptakan. Weda bisa disebut sebagai brosur, manual, atau ‘petunjuk penggunaan’ alam semesta. Jadi begitu dunia ini diciptakan, Weda langsung diwahyukan.”

“ Sama seperti benda-benda buatan pabrik ini…” lanjutnya sambil menunjuk komputer, obat batuk, dan kalkulator yang kebetulan ada di atas meja di hadapan kami. “Bukankah begitu barang-barang ini diproduksi, sekaligus dibuatkan pula petunjuk pemakaian, resep, brosur, atau manualnya? Obat batuk ini misalnya, harus diminum sesuai resep dokter. Atau sesuai dosis anjuran yang tertera di sini. Biar nggak over dosis…ntar bisa kelenger….”

Saya menimpali singkat : “Iya, memang begitulah keyakinan kami sebagai umat Hindu. Weda adalah ajaran Sanatana Dharma, sifatnya kekal. Lalu, apa masalahnya?

“Lho, memangnya kita bisa tahu persis kapan dunia ini diciptakan? Bukankah menurut teori evolusi Darwin, saat dunia ini terbentuk, yang ada baru makhluk hidup bersel satu? Kepada siapa Weda disabdakan, kepada makhluk bersel satu itu?” tanyanya sambil berseloroh. Rupanya ia adalah yang percaya kepada kebenaran teori Darwin, bahwa manusia berasal dari kera.

Kawan lain lalu menambahkan ; “Yah, sebenarnya sih saya percaya adanya Tuhan sebagai Sang Pencipta. Cuman susahnya kalau trus ada yang tanya kapan penciptaan itu terjadi? Tahun berapa? Berapa umur bumi ini sekarang? Itu pertanyaan cerdas yang nggak bisa kami jawab…..”

****
Pertanyaan serupa pasti sering ditanyakan pula kepada umat Hindu. Dan terus terang, itu bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Kapan dunia ini diciptakan? Siapa manusia pertama versi Weda? Apakah manusia pertama itu penerima wahyu Weda yang pertama?

Pertanyaan demikian muncul, karena dalam ajaran agama Yahudi, Kristen, dan Islam, dengan jelas disebutkan bahwa manusia pertama ciptaan Tuhan adalah Adam dan Hawa. Kita manusia ini adalah keturunan dari mereka. Wajarlah, kalau kita lantas pingin tahu siapa manusia pertama versi Weda. Tapi, pertanyaan kapan dunia ini diciptakan, atau kapan kira-kira pralaya (kiamat) tiba, sangat sulit untuk kita jawab. Jawaban yang paling aman adalah “Hanya Tuhan yang tahu…”. Kalau sudah begitu, maka pembicaraan akan menemui jalan buntu. Apa kata Weda tentang hal ini?

*****
Kalau kita sering mengatakan bahwa Weda adalah kitab suci tertua dan terlengkap, apakah Weda mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan mendasar di atas? Mungkin kita boleh lega. Kalau kita pelajari secara mendalam, ternyata ada ayat-ayat Weda yang memberikan keterangan atau informasi mengenai kapan penciptaan dan peleburan alam semesta ini terjadi.
Kitab-kitab Purana memberikan informasi rinci mengenai hal itu.

Kalau kita sering mengatakan bahwa Weda adalah kitab suci tertua dan terlengkap, apakah Weda mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan mendasar di atas? Mungkin kita boleh lega. Kalau kita pelajari secara mendalam, ternyata ada ayat-ayat Weda yang memberikan keterangan atau informasi mengenai kapan penciptaan dan peleburan alam semesta ini terjadi.
Kitab-kitab Purana memberikan informasi rinci mengenai hal itu.

Nah, begitu kita menguraikan usia jaman Kali ini saja, dalam pandangan agama-agama lain, itu sudah sulit dimengerti. Misalnya dalam agama Kristen, penjelasan Purana tentang adanya jaman lain sebelum jaman Kali ini akan bertentangan dengan penjelasan Injil tentang penciptaan dunia ini. Menurut Injil khususnya perjanjian lama, (Stephen Knapp, 2003) dunia ini baru diciptakan pada tanggal 23 Oktober tahun 4004 Sebelum Masehi pada pukul 9 pagi. . Jadi, kalau dihitung, saat ini bumi baru berumur 6009 tahun. Padahal menurut ilmu arkeologi ataupun geologi, banyak bukti yang menunjukkan bahwa bumi ini telah berusia miliaran tahun, bukan hanya ribuan tahun. Mana yang benar?

Kembali ke pertanyaan awal, tentang kapan dunia ini diciptakan. Sebenarnya jawabannya ada dalam Weda. Dan hebatnya, uraian Weda itu dalam banyak hal lebih didukung oleh data-data arkeologi ataupun geologi. Paling tidak mengenai usia bumi ini. Tapi, sekali lagi, kalau kita menjelaskan hal itu kepada umat beragama lain, atau kepada para ilmuwan, mereka tidak mudah menerimanya. Mengapa? Jawabnya, karena adanya perbedaan dalam konsep waktu dan cara memandang sifat dunia ini. Apa perbedaannya?

Konsep Waktu menurut Agama Abrahamis : Konsep Garis Lurus

Marilah kita pahami bagaimana agama-agama Abrahamis (Yahudi, Kristen, dan Islam) memandang keberadaan dunia ini beserta isinya. Pandangan ini hampir sama dengan pandangan sain modern. Dalam hal ini harus kita pahami konsep waktu menurut ajaran mereka, yang akan menentukan konsep penciptaan dan peleburan dunia ini. Setidaknya, ada empat hal yang bisa kita jadikan bahan untuk memahami konsep waktu mereka tersebut. Pertama, kita mulai dengan adanya keterangan dalam Injil (Perjanjian Lama) tentang kapan Tuhan menciptakan dunia ini. Ada sebuah referensi yang menyebutkan bahwa Tuhan menciptakan dunia beserta isinya ini selama 7 (tujuh) hari. Ada pula keterangan di sana, bahwa kalau dilakukan perhitungan menurut sistem penanggalan sekarang, maka dunia ini diciptakan pada tanggal 23 Oktober 4004 Sebelum Masehi, jam 9 pagi. Max Muller, salah seorang penterjemah Weda dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Inggeris, dan pencipta teori penyerangan bangsa Arya ke bangsa Dravida (lihat Sanatana Dharma Edisi 14 / Juli 2005) adalah salah seorang yang meyakini penjelasan ini. Karena itulah dia mengusulkan bahwa kemungkinan Weda baru disusun sekitar tahun 1500 SM. Informasi tersebut menunjukkan bahwa dunia ini memiliki awal yang jelas.

Kedua, dijelaskan bahwa pertama-tama Tuhan menciptakan jenis-jenis kehidupan atau berbagai makhluk hidup lainnya, yaitu malaikat, jin/setan, hewan dan tumbuhan. Setelah itu, barulah Tuhan menciptakan pasangan manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa. Awalnya, pasangan ini diminta untuk tinggal di surga (taman Firdaus atau taman Eden), dengan syarat dan aturan tertentu yang harus mereka patuhi. Ketika kemudian aturan itu dilanggar, Adam dan Hawa dihukum dengan cara dibuang ke bumi ini. Mereka berdualah yang dipercaya sebagai cikal bakal manusia diseluruh bumi. Maaf, jangan dulu menyangkal keterangan ini dengan senjata teori evolusi Darwin!

Ketiga, ajaran agama mereka melarang untuk percaya pada adanya reinkarnasi. Bahwa hidup ini hanya terjadi satu kali, tidak akan ada kesempatan untuk terlahir kembali. Hanya ada dua pilihan, surga atau neraka yang kekal sebagai imbalan terhadap perilaku manusia selama hidup di dunia ini. Kalau boleh dikatakan bahwa hidup ini adalah ujian dari Tuhan, maka menurut mereka, ujian itu hanya terjadi satu kali. Tidak akan ada her atau ujian ulang bagi yang gagal menempuh ujian itu! Sekali tidak lulus ujian, ya sudah dropp out saja!

Keempat, ada ajaran tentang akhir jaman, atau kiamat. Bahwa suatu hari nanti, dunia beserta isinya ini akan dihancurkan. Alam semesta akan dileburkan. Inilah saat yang sedang dinanti-nantikan, dimana setelah kiamat itu akan ada pengadilan besar-besaran. Saat itulah, manusia akan ditimbang segala amal dan dosanya selama hidupnya di dunia. Hasil timbangan itu yang menentukan apakah seseorang akan selamat, hidup kekal bersama Tuhan, atau sebaliknya, terkutuk dan hidup kekal di neraka.

Selesai sampai disitu. Dalam kitab-kitab itu, tidak ada penjelasan apa yang akan terjadi setelah kiamat dan pengadilan itu. Tidak ada keterangan resmi, apakah setelah itu Tuhan akan menciptakan dunia ini sekali lagi? Juga tidak ada kabar, apakah sebelum penciptaan dunia yang sekarang, Tuhan sudah pernah menciptakan ‘dunia lain’. Tidak jelas pula, sampai kapan penghuni neraka itu berada disana. Sepertinya, mereka tidak bisa mengajukan semacam grasi, amnesti, rehabilitasi, ataupun remisi terhadap masa hukuman mereka. Padahal di dunia manusia yang serba jahat ini saja ada lembaga yang disebut “Dewan Amnesti Internasional”. Ketika kita mempertanyakan hal itu, jawaban yang sering diajukan untuk menutupi kelemahan itu adalah “hanya Tuhan yang tahu”. Artinya, “manusia tidak sempat diberitahu.”

Dari paparan itu, dapat disimpulkan bahwa konsep waktu dan penciptaan dalam agama-agama itu adalah konsep garis lurus. Istilah lainnya adalah linier. Kalau kita perhatikan gambar sebuah garis lurus, terlihat ada awal dan akhir yang jelas. Urutan lengkapnya adalah : alam semesta diciptakan – makhluk-makhluk lain diciptakan – manusia diadakan – manusia mencapai pembebasan – akhir alam semesta. Dalam kerangka pikir inilah seluruh prinsip ajaran mereka didasarkan. Kalau ada yang menyimpang dari itu, mereka sebut sebagai dongeng, mitologi!
Konsep Penciptaan dan Peleburan dalam Weda : Siklus tak Berhingga

Marilah sejenak kita perhatikan fenomena alam di sekitar kita. Malam berganti siang, lalu diikuti oleh datangnya kembali malam. Matahari terbit dan terbenam, lalu terbit lagi keesokan harinya. Hari-hari dalam seminggu, datang berulang : Minggu, Senin, Selasa,….Sabtu…, akhirnya Minggu, Senin, datang kembali. Tahun diawali dengan datangnya Januari, Februari, Maret,….hingga Desember. Lalu sekali lagi, kita kembali merayakan datangnya tahun baru, setiap tanggal 1 Januari, setelah berakhirnya Desember. Musim datang silih berganti. Jarum terus berputar, tidak berhenti pada angka 12. Semua fenomena itu mengarah pada sebuah pola yang jelas : siklus! Terjadi secara teratur dan terus berulang. Bahkan adanya ungkapan “sejarah selalu berulang” seolah menegaskan fenomena siklus ini. Menurut kamus, siklus adalah putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur!
Apa arti semua fenomena itu? Marilah kita renungkan Tidakkah siklus-siklus pada skala kecil itu adalah gambaran atau isyarat dari terjadinya siklus yang lebih besar? Tidakkah yang mikro itu sebenarnya menggambarkan apa yang terjadi pada skala makro? Tidakkah penciptaan dan peleburan alam semesta sebenarnya telah tergambarkan oleh siklus ini?
Begitulah. Berbeda dari konsep waktu model garis lurus yang diajarkan dalam agama-agama Abrahamis seperti yang telah kita bahas, Weda mengajarkan konsep waktu yang berbentuk siklus. Artinya bahwa penciptaan dan peleburan alam semesta tidak hanya terjadi satu kali. Ia adalah sebuah proses yang terus berulang, siklus kosmis (cosmic cycle). Sebuah penciptaan mengawali peleburan, sebuah peleburan akan diikuti oleh penciptaan baru. Jadi, menurut Weda, kiamat seperti yang diajarkan dalam agama lain, bukanlah akhir dari segalanya. Kitab Purana memberikan keterangan yang cukup rinci mengenai siklus ini. Disertai pula panjangnya durasi dari siklus itu. Darimana memulainya?

Durasi Hidup Brahma sebagai Satuan Waktu
Dalam Bhagavad-gita, Sri Krishna menjelaskan tentang penciptaan dan peleburan alam semesta, dengan menyebut usia hidup Brahma.

Hanya saja, jangan terkejut bila yang diuraikan di sana akan sangat berbeda dengan pemahaman filsafat ketuhanan kita selama ini. Terutama menyangkut siapa sesungguhnya Dewa Brahma. Selama ini kita memahami Brahma adalah manifestasi Hyang Widhi sebagai pencipta, bahwa Brahma adalah Tuhan sendiri sebagai pencipta. Tetapi, dalam kitab Bhagavata Purana (3.8.16 – 17) disebutkan bahwa Dewa Brahma adalah makhluk hidup yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Ingat, Brahma adalah makhluk pertama, bukan manusia pertama. Menurut Rosen (2002: 74), alam semesta material dimulai dengan hadirnya Brahma, yang berada di planet Brahmaloka. Brahma dikenal dengan nama lain Pitamaha (leluhur tertua), dan juga sebagai guru bagi para maharesi yang menerima wahyu Weda.
Sehubungan dengan tugas dewa Brahma ini, Michael Cremo dalam bukunya “Devolusi Manusia : Sebuah Alternatif Weda untuk Teori Evolusi Darwin” (2003 : 249) meringkas uraian dari kitab Bhagavata Purana sebagai berikut :
“…According to Vedic cosmology, the material world is manifested by a special expansion of the Personality of Godhead. This expansion is called Maha Vishnu, who rest as if sleeping on the Causal Ocean. From the pores of the Maha Visnu come millions of material universes. They emerge from the body of Maha Vishnu in seedlike form, and then, energized by the glance of Maha Vishnu, expand in size. This provide an interesting parallel to some versions of the modern Big Bang cosmology, which also posit many expanding universes. Maha Vishnu then expand into each universe, and there emerge from Him in each universe a subordinate creator god called Brahma. Brahma is a soul who is given a very powerful material body with which to perform his creative functions. From Brahma come many other subordinate gods who control various aspects of the material universe. Surya is in charge of the sun, Chandra is in charge of the moon, Varuna is in charge of water, and so on. Brahma also creates the various material bodies that souls like King Puranjana will enter. All together, there are 8.4 million kinds of bodies ranging from microbes to demigods.”

Terjemahan :
”…Menurut kosmologi Weda, alam semesta material ini diwujudkan melalui penjelmaan khusus Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Penjelmaan ini disebut Maha Wisnu, yang berbaring di atas Lautan Penyebab. Dari pori-pori Maha Wisnu muncullah jutaan alam semesta. Alam semesta-alam semesta itu memancar dari tubuh Maha Wisnu dalam bentuk seperti biji, kemudian, dengan pandangan-Nya, Maha Wisnu memberikan kekuatan yang membuat alam semesta itu mengembang. Hal ini menarik karena memiliki persamaan dengan beberapa versi kosmologi modern Big Bang (Dentuman Besar), yang juga mengusulkan adanya alam semesta yang mengembang. Maha Wisnu kemudian memperbanyak diri dan masing-masing perbanyakan itu memasuki setiap alam semesta. Pada setiap alam semesta itu, dari diri Maha Wisnu terciptalah dewa pencipta yang bernama Brahma. Brahma adalah jiwa yang diberikan badan material yang sangat hebat yang memungkinkannya menjalankan tugas sebagai pencipta. Dari Brahma terciptalah berbagai dewa lainnya yang diberi tugas dan wewenang mengendalikan berbagai urusan dalam alam semesta material. Surya bertugas mengendalikan matahari, Chandra adalah penguasa bulan, Baruna menguasai air, dan sebagainya. Brahma juga menciptakan berbagai badan jasmani yang akan dimasuki oleh roh-roh seperti Raja Puranjana. Secara keseluruhan, ada 8,4 juta jenis badan, mulai dari mikroba hingga para dewa.”

Dewa Brahma bisa disebut sebagai dewa pencipta. Konsep adanya dewa pencipta yang mendapat mandat dari Tuhan ini juga terdapat dalam keyakinan masyarakat tradisional Ainu di Jepang, masyarakat di Africa Barat, dan banyak kosmologi agama suku lainnya di dunia (Cremo, 2003:323). Brahma dapat diibaratkan sebagai seorang arsitek, yang bisa menciptakan berbagai bentuk bangunan, dari bahan-bahan yang sudah tersedia. Jadi seorang arsitek tidak harus membuat semen, besi, pasir, atau batako, misalnya. Semua bahan itu sudah ada yang menyediakan, tugas dia hanya membentuk dan mendisain. Seperti itulah identitas dan tugas Brahma menurut uraian dalam Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana.
Apa hubungannya dengan kekekalan Weda? Ternyata, usia hidup Brahma merupakan satuan waktu semesta Weda. Sebagai makhluk ciptaan, Brahma diberikan ‘jatah’ usia hidup selama kurun waktu tertentu. Brahma juga mengalami siang hari dan malam hari, sama seperti yang kita alami. Menurut Bhagavad-gita, siang hari bagi Brahma adalah masa penciptaan, dan malam hari bagi Brahma adalah masa peleburan. Artinya, selama kurun waktu siang hari bagi Brahma, alam semesta material ini diwujudkan. Sebaliknya, selama kurun waktu malam hari bagi Brahma alam semesta dileburkan dan menjalani masa ‘istirahat’. Alam semesta akan masuk ke dalam pori-pori tubuh Maha-Visnu. Masa ‘istirahat’ inilah yang oleh para ahli pendukung teori Dentuman Besar (Big Bang) disebut sebagai proses menyusutnya alam semesta, lalu terserap ke dalam lubang hitam (black hole).
Dari planet tertinggi di dunia material sampai dengan planet yang paling rendah, semuanya adalah tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulang kali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggal-Ku tidak akan pernah dilahirkan lagi, wahai putra Kunti.

sahasra-yuga-paryantam
ahar yad brahmaëo viduù
rätrià yuga-sahasräntäà
te ’ho-rätra-vido janäù

Menurut perhitungan manusia, seribu zaman sama dengan kurun waktu satu hari bagi Brahma. Malam hari bagi Brahma sepanjang itu pula. (Bhagavad-gita 8.17).

sahasra-yuga-paryantam
ahar yad brahmaëo viduù
rätrià yuga-sahasräntäà
te ’ho-rätra-vido janäù

Menurut perhitungan manusia, seribu zaman sama dengan kurun waktu satu hari bagi Brahma. Malam hari bagi Brahma sepanjang itu pula

Perhatikan penjelasan Sri Krishna tentang perbedaan perhitungan waktu menurut manusia dengan perhitungan waktu di planet para dewa. Waktu berjalan lebih lamban di planet-planet para dewa. Rosen (2002) menyebut perbadingan waktu itu sebagai berikut : 6 bulan di bumi, sama dengan 1 hari di planet-planet surga. Bisakah keterangan ini kita percaya? Mungkin Anda akan terkejut, bahwa ilmu pengetahuan telah mengakui kebenaran perbedaan waktu itu sejak lama. Albert Einstein, fisikawan terkemuka pada abad ini telah mengemukakan Teori Relativitas khusus, yang menyatakan bahwa ruang dan waktu bersifat relatif. Tergantung pada acuan mana yang kita gunakan.

Menurut Bhaktivedanta Swami (1984 ) masa perwujudan alam semesta material terbatas. Alam semesta diwujudkan dalam siklus-siklus yang disebut kalpa. Satu kalpa terdiri dari seribu yuga. Kata sahasra-yuga dalam ayat di atas artinya seribu yuga atau seribu jaman. Seribu yuga disebut juga satu kalpa. Masing-masing yuga terdiri dari empat jaman : Satya Yuga, Treta Yuga, Dvapara Yuga, dan Kali Yuga. Umur masing-masing jaman semakin berkurang : Satya Yuga berumur 1.728.000 tahun; Treta Yuga berumur 1.296.000 tahun; Dwapara Yuga berlangsung selama 864.000 tahun; dan Kali Yuga, jaman yang sedang kita jalani sekarang ini, akan berakhir setelah 432.000 tahun (Rosen, 2002).

Setelah jaman Kali berakhir, akan terjadi peleburan sebagian (kiamat kecil) yang disusul dengan datangnya kembali Satya Yuga. Lalu datang Treta Yuga, Dvapara Yuga, diikuti dengan hadirnya jaman Kali. Demikian seterusnya. Setiap satu siklus perputaran keempat jaman ini disebut satu divya-yuga. Jadi, satu divya yuga berarti 4.320.000 tahun manusia. Seribu divya-yuga (4,32 miliar tahun) membentuk satu kalpa. Satu siang hari bagi Brahma adalah perputaran seribu kalpa. Begitupula dengan malam harinya. Pada malam hari, Brahma tidur, dan sebagian besar planet masuk ke dalam lautan peleburan.
Pada awal satu hari bagi Brahma, semua makhluk hidup diwujudkan dari keadaan tidak berwujud. Sesudah itu, bila malam hari mulai, sekali lagi mereka terlebur ke dalam keadaan tidak berwujud. Semua makhluk hidup terwujud berulang kali bila hari sudah siang bagi Brahma, lalu dengan mulainya malam hari bagi Brahma, mereka dilebur dalam keadaan tidak berdaya. (Bhagavad-gita 8.18-19).

Demikianlah, kitab Weda menguraikan misteri alam semesta yang jarang bisa kita temukan dalam kitab suci lainnya di dunia. Bandingkan dengan informasi tentang penciptaan dunia yang terdapat dalam kitab Injil, misalnya. Tidak mengherankan bila kemudian beberapa ilmuwan dengan tegas menolak keterangan itu, dengan mendasarkan pada temuan fakta yang ada di sekitar kita. Termasuk pula, munculnya teori evolusi Darwin sebenarnya berawal dari ketidakpuasan para ilmuwan terhadap penjelasan kitab suci tersebut. Karena faktanya, berbagai temuan bidang arkeologi dan geologi membuktikan bahwa bumi ini telah berusia jutaan bahkan miliaran tahun.

Sementara itu, temuan di bidang geologi lebih mendukung uraian Weda bahwa dunia ini telah tercipta sejak jutaan tahun yang lalu. Misalnya, pada tahun 1979, para peneliti di situs Laetoli, Tanzania, Afrika Timur, telah menemukan jejak kaki pada debu sisa letusan gunung berapi yang usianya lebih dari 3,6 juta tahun. Mary Leakey dan peneliti lainnya yang menemukan jejak kaki itu menyebutkan bahwa bentuk jejak kaki itu mirip dengan bentuk jejak kaki manusia modern. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia yang hidup sekitar 3,6 juta tahun lalu, telah memiliki bentuk kaki seperti manusia modern.
Namun para ahli anthropologi fisik lainnya, seperti misalnya R.H. Tuttle dari Universitas Chicago, menyatakan bahwa fosil tulang kaki jenis australopithecine yang hidup 3.6 juta tahun yang lalu mempunyai bentuk kaki yang mirip dengan kaki makhluk jenis kera. Jadi, tidak cocok dengan bentuk kaki spesies di Laetoli tersebut. Dalam artikel pada bulan Maret 1990 majalah Natural History, Tuttle mengakui bahwa temuan yang bertolak belakang itu “masih menyisakan misteri bagi kita….” (Cremo, 2001).
Dari pendapat para ahli yang saling bertentangan itu, tidak bolehkah kita justru menarik kesimpulan bahwa baik manusia maupun makhluk sejenis kera telah ada dan hidup bersama-sama bahkan sejak 3,6 juta tahun yang lalu? Temuan antropologi yang cukup penting juga dilaporkan terjadi pada tanggal 8 September 2003. Ahli antropologi S. Chakraborty, salah seorang anggota Archaeological Survey of India menyatakan kepada surat kabar Calcutta Telegraph bahwa di tepi sungai Subarnarekha, di Propinsi Jarkhand, India telah ditemukan fosil manusia yang berusia 2 juta tahun. Menariknya, diwilayah penemuan yang membentang sepanjang sekitar 30 mil itu, ditemukan pula berbagai peralatan yang menunjukkan adanya manusia yang menghuni wilayah itu sejak dua juta tahun yang lalu, tanpa terputus sampai dengan tahun 5000 sebelum Masehi. Jika penemuan ini benar, maka akan makin panjang deretan bukti ilmiah yang mendukung dan membenarkan uraian-uraian dalam Weda.
Referensi :
1. Michael Cremo. 2003. The Hidden History of the Human Race. Los Angeles, Torch Light Publishing, BBT USA
2. Professor K. Srinivasaraghavan, 2003. Searching for Historical Krishna. Artikel dalam http://harekrishna.cz.
3. A.C. Bhaktivedanta Swami. 1978. Srimad Bhagavatam. BBT USA
4. A. C. Bhaktivedanta Swami. Bhagavad-gita Menurut Aslinya. BBT Indonesia
5. Steven Rosen. 2002. The Hidden Glory of India. BBT Hongkong

 

 

 

 

 

 

 

Loading Facebook Comments ...