Home » Krishna & Bhakti Yoga » Sri Krishna Jayanti – Perayaan Kelahiran Sang Pembebas…

Sri Krishna Jayanti – Perayaan Kelahiran Sang Pembebas…

Happy Sri Krishna Janmasthami, 18 Agustus 2014…..Selamat merayakan hari agung memperingati kelahiran dan kemunculan Sri Krishna di bumi ini. Meski tidak termasuk dalam salah satu hari raya Hindu di Indonesia, seperti halnya hari raya Siwaratri, di India, perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Sri Krishna Jayanti ini, dirayakan secara besar-besaran, bahkan oleh dulu umat Islam yang belum ‘terkontaminasi’ oleh paham-paham radikal di wilayah-wilayah tertentu….Menurut perhitungan ahli astronomi dan astrologi Veda, Kaliyuga (zaman Kali) dimulai tepat pada saat Sri Krishna mengakhiri lila rohaninya di dunia ini pada tanggal 18 Februari 3102 Sebelum Masehi. Itulah sebabnya, dalam kalender atau penanggalan Bali, misalnya, kita temukan penyebutan Tahun Kaliyuga bertepatan dengan tahun 2014 Maseh ini adalah 5116 Kaliyuga.Berdasarkan uraian tentang konstelasi berbagai planet dan benda-benda angkasa yang ada dalam kitab Mahabharata, para ahli Jyotisha memperkirakan bahwa saat ‘berpulang’ kembali ke dunia rohani itu, Sri Krisha berusia kurang lebih 125 tahun.

Dalam kitab Mahabharata, identitas rohani sejati Sri Krishna, belum seluruhnya dipaparkan oleh Rsi Vyasa, meskipun sebagian sudah tersebutkan dalam kitab Bhagavad-gita. Sri Krishna menyatakan ” Tidak ada kebenaran yang lebih tinggi dari-Ku” (Bhagavad-gita 7.7); “Aku adalah Sumber dari Segala Dunia Rohani dan Dunia Material, segala sesuatu bersumber dari-Ku”. (Bhagavad-gita 10.8) ; Akulah yang harus diketahui dari seluruh Veda (Bhagavad-gita 15.15) Selanjutnya, Rsi Vyasa memaparkan secara lebih lengkap siapa sesungguhnya Sri Krishna sebagai Purnaavatara, apa saja penjelmaan-penjelmaan Beliau sebelumnya dan lila yang dilakukan (termasuk di dalamnya Dasa Awatara Wishnu) dalam kitab Srimad Bhagavatam, atau yang populer dengan sebutan Bhagavata Purana.

Kitab Bhagavata Purana sejatinya berisi uraian berupa jawaban-jawaban terhadap pertanyaan Raja Parikesit, cucu Arjuna dari anaknya Abhimanyu dan Uttari, satu-satunya keturunan langsung Pandawa yang tersisa setelah selesainya perang Mahabharata. Raja Parikesit, karena kesalahan yang dilakukannya terhadap seorang brahmana, dikutuk oleh putra brahmana itu, bahwa ia akan meninggal dalam tujuh hari karena patukan ular Taksakha. Raja Parikesit menerima kutukan itu, meskipun sesungguhnya ia mampu membatalkannya. Cucu Arjuna yang pernah dihidupkan kembali oleh Sri Krishna karena meninggal saat masih dalam kandungan ibunya, akibat senjata brahmaastra yang dilepaskan oleh Ashwatama, putra Guru Drona itu, memilih menghadapi kematiannya, dengan cara berpuasa selama tujuh hari tujuh malam, di tepi sungai Gangga. Raja agung itu meminta orang-orang suci, para resi dan muni, berkumpul mengelilinginya, dan memberikan pelajaran rohani, sebagai bekal jiwanya sebelum meninggalkan badan.

Diantara para resi pada masa itu, putra Rsi Vyasadeva yang bernama Rsi Suka, meski usianya masih remaja, diakui sebagai orang yang paling berkompeten untuk memberikan pelajaran rohani kepada Raja Parikesit. Pengetahuan rohani resi yang juga dikenal dengan sebutan Sukadeva Gosvami itu dianggap paling matang, karena telah mempelajari seluruh pengetahuan rohani dari ayahnya, bahkan sejak ia masih dalam kandungan ibunya. Jadilah, Rsi Suka menjawab berbagai pertanyaan Raja Parikesit yang bijaksana itu. Pertanyaan terpenting yang diajukan oleh Raja Parikesit sangat bermakna dan relevan bagi kita semua. “Ketika seseorang mengetahui bahwa ajalnya akan segera menjemput, apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus diingatnya? Apa yang harus dipikirkannya?” demikian sang raja bertanya.

Jawaban terhadap pertanyaan utama itu, selanjutnya memunculkan tanya-jawab panjang antara Raja Parikesit dan Sukadeva Gosvami, yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Hampir seluruh landasan keyakinan dan praktek keagamaan Hindu, baik itu filsafat, etika, maupun upacaranya, dapat ditelusuri sumbernya dalam kitab Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana itu. Uraian tentang penciptaan alam semesta, kosmologi Veda, kisah-kisah tentang Prajapati Daksa dan Dewa Siwa yang saat ini ditampilkan dalam Film MAHADEWA, misalnya, terpaparkan dalam kitab yang disusun oleh Rsi Vyasadeva, setelah beliau menyusun kitab Mahabharata itu. Paham TRI MURTI dan bagaimana perannya masing-masing, juga dengan gamblang dijelaskan dalam kitab Bhagavata Purana yang sering dijuluki sebagai Ensiklopedi pengetahuan Veda itu….

Dalam kitab yang juga dikenal sebagai ulasan Vedanta Sutra itu, Rsi Vyasa meringkas paham ketuhanan yang diuraikan dalam kitab-kitab Veda. Rsi yang mampu melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan itu, menyatakan bahwa manusia dapat mendekatkan diri kepada Tuhan dalam salah satu dari 3 Aspek atau sifat/perwujudan Tuhan, yaitu sebagai Brahman, Paramaatman, dan Bhagavan.

vadanti tat tattva-vidas tattvam yaj jnanam advayam brahmeti paramatmeti bhagavan iti sabdyate “The Absolute Truth is realized in three phases of understanding by the knower of the Absolute Truth, and all of them are identical. Such phases of the Absolute Truth are expressed as Brahman, Paramatma, and Bhagavan.” (Srimad Bhagavatam. 1.2.11)

Secara sederhana, dapat dinyatakan bahwa Brahman adalah aspek Tuhan yang tidak berwujud, tidak terbayangkan, tidak terpikirkan, dan berada dimana-mana, sebagai sinar suci Tuhan. Paramaatman adalah aspek ‘perluasan atau perbanyakan’ Tuhan yang berada dalam diri setiap makhluk, yang juga dikenal sebagai Roh Yang Utama, yang bersemayam dalam semua insan. Dalam Bhagavad-gita 15.15 Sri Krishna menyatakan bahwa “Aku bersemayam dalam setiap mahkluk, ingatan, pengetahuan, dan pelupaan berasal dari-Ku”. Tuhan dalam aspek Paramaatman inilah yang menjadi obyek pendekatan diri oleh manusia melalui tahapan-tahapan dalam asthangga yoga atau jalan meditasi. Selain itu, setiap manusia sesungguhnya dilengkapi dengan hati nurani, suara hati, yang selalu menyuarakan kebenaran, tidak pernah berbohong. Inilah peran Paramatman dalam membimbing langsung kehidupan manusia.

Bhagavan adalah aspek Tuhan Yang bersifat Pribadi, atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Rsi Vyasa menegaskan bahwa Tuhan Maha Sempurna, yang berarti bahwa segala sesuatu yang bertentangan atau bertolak belakang, ada pada Tuhan. Itulah sebabnya, bila Tuhan tidak berwujud, maka pada saat yang sama sekaligus berwujud. Aspek Pribadi inilah yang disebut sebagai Bhagavan. Dalam kitab Bhagavata Purana inilah, Rsi Vyasadeva menegaskan identitas Sri Krishna sebagai Bhagavan, sumber dari segala penjelmaan, sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah menguraikan secara ringkas berbagai penjelmaan atau awatara yang pernah dan akan muncul di alam semesta ini, Rsi Vyasa menyatakan:

ete camsa-kalah pumsah
krishnas tu bhagavansvayam
indrari vyakulam lokam
mrdayanti yuge yuge

“All the incarnations are plenary portions or explansions of plenary expansions appearing in various universes to protect the theists; but Lord Krishna is the original Supreme Lord and the source of all”

(Srimad Bhagavatam, Skanda 1, Adhyaya 3, Sloka 28)

Inilah salah satu dasar utama, pemujaan Sri Krishna sebagai Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dikalangan sebagian besar umat Hindu di India dan dunia. Inilah alasan mengapa dalam Bhagavadgita, ketika Sri Krishna bersabda, dinyatakan dengan bahasa Sanskerta ‘Sri Bhagavan uvaca”. Kitab Bhagavad-gita lalu diterjemahkan sebagai “Song of God” atau Nyanyian Tuhan, Kidung Ilahi. Selanjutnya, kitab yang menguraikan keagungan Sri Krishna dan berbagai penjelmaan-Nya, dikenal dengan sebutan kitab Srimad Bhagavatam, atau Bhagavata Purana.

Sayangnya, harus diakui, banyak terjemahan Bhagavata Purana yang beredar saat ini di Indonesia lebih banyak berupa ringkasan, yang seolah-olah isinya hanya kumpulan kisah-kisah yang kadang tidak memberikan makna spiritual yang menyentuh. Salah satu terjemahan otentik setiap sloka disertai penjelasan dan ulasannya yang bonafit dan memiliki sifat kesarjanaan yang tinggi dan memiliki dampak luas dalam perombakan spiritual masyarakat Barat , diberikan oleh A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, atau yang sering disapa Srila Prabhupada. Mempelajari kitab Bhagavadgita dan dipadu dengan mendalami kitab Bhagavata Purana secara teratur dibawah bimbingan yang benar, telah terbukti mampu menimbulkan fenomena semakin banyaknya orang dinegara Amerika, Rusia, dan juga Timur Tengah, kini mendekatkan diri kepada Tuhan melalui jalan Bhakti Yoga, dan menjadikan Sri Krishna sebagai Tujuan Tertinggi hidup mereka.

Setelah mendengar seluruh uraian tentang keagungan Sri Krishna, berbagai penjelmaan-Nya, dan kisah-kisah teladan para penyembah-Nya, Raja Parikesit mencapai pencerahan jiwa, dan sangat-sangat siap secara rohani, menghadapi ajal yang menjemputnya. Kesempurnaan tertinggi kehidupan manusia ini tercapai, apabila saat maut menjemput, kita mampu ingat kepada Sri Krishna, Sri Narayana, Sri Wishnu, Mahadewa, Ishvara, Jagannatha, Sri Hari Murari….(narayana-smriti) dan tentu saja, semua itu membutuhkan latihan terus menerus…..jangan berharap ingatan itu akan datang tiba-tiba, apalagi bila rasa sakit yang luar biasa mendera raga seseorang, fokus pikiran biasanya tertuju pada rasa sakit itu, dan persentase ingat kepada Tuhan sering dipertanyakan…

Dalam bait kedua mantra Tri Sandhya juga terdapat pernyataan “eko narayana na dwityo asti kascit” yang diterjemahkan “hanya satu Tuhan itu, Narayana, tiada kebenaran yang mendua…” Sesungguhnyalah, sama seperti Raja Parikesit, saat ini kita juga akan menghadapi kematian dalam tujuh hari…kalau tidak Senin, Selasa, …..bisa jadi hari minggu, tujuh hari dalam seminggu, 24/7. Sayangnya, kita tidak seberuntung raja besar itu, yang tahu secara pasti kapan sang maut menjemput. Bagi kita, maut adalah misteri, yang sekuat tenaga kita upayakan untuk menghindarinya…

Sri Krishna Janmasthami 18 Agustus 2014 hari ini adalah moment yang sangat bermakna, saat yang sangat mujur bagi kemajuan spiritual kita, bila kita dengan ketundukan hati turut serta dalam merayakannya. Happy Sri Krishna Janmasthami….selamat berpuasa selama 24 jam sambil menyibukkan diri dalam berbagai pelayanan bhakti, untuk menyambut puncak perayaan itu, malam ini pukul 24.00. Tentu kita masih ingat, bahwa Sri Krishna lahir dalam penjara Raja Kamsa, pamannya yang lalim itu, tepat pada tengah malam…

Cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk menghayati hari penuh makna ini adalah dengan mengulang-ulang pengucapan Maha Mantra:

HARE KRISHNA HARE KRISHNA KRISHNA KRISHNA HARE HARE

HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE

Cara yang paling efektif dan mudah dilakukan adalah dengan mendengarkan lagu-lagu Mahamantra itu atau sloka-sloka bhagavad-gita yang ditembangkan dalam format MP3 dan sejenisnya, sambil terus menjalankan aktivitas keseharian kita. Sekarang ini, sudah tidak jamannya lagi membaca kitab suci, karena ada laptop suci, ipad suci, mp3 player suci, tablet suci, hape suci, dan lain sebagainya, bukan? Kini ayat-ayat suci Veda sudah dapat dibaca dan dipelajari dalam bentuk digital dan portable, tidak harus melulu dalam bentuk kitab….Mari kita jadikan semua produk teknologi canggih itu, sebagai media untuk melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna…

Semoga, seperti halnya para Pandawa yang mampu melawan 100 Kaurawa dan sekutunya, semata-mata atas bimbingan dan pertolongan Sri Krishna, begitu pula kita dapat menapaki hari-hari yang lebih baik, menghadapi pergulatan bhatin, kemelut jiwa, dan aneka galau lainnya, dengan senantiasa berlindung dan melakukan pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, atau Sri Wishnu, SANG PEMELIHARA ALAM SEMESTA. Semoga… Mari kita tingkatkan makna dan manfaat rohani menyaksikan film MAHABHARATA yang sedang booming saat ini, dengan tidak berhenti pada sekedar mengagumi ketampanan dan kecantikan para artis pemerannya semata….hahahaha….Sri Krishna Bhagavan ki Jay…

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. […] Pernikahan Arjuna dengan Subadra, juga memiliki latar belakang yang hampir sama. Sri Krishna sengaja menikahkan Arjuna dengan adik perempuannya itu, agar ikatan kekeluargaan mereka semakin kuat. Sri Krishna yang memutuskan untuk tidak mengangkat senjata, dan hanya menjadi kusir kereta Arjuna, terbukti mampu secara ajaib membawa Pandawa memenangkan dharma melawan adharma. Dalam hitungan diatas kertas, kekuatan Kaurawa dan sekutu-sekutunya, tidak mungkin bisa dikalahkan oleh lima orang Pandawa. (Baca juga : Siapa Sesungguhnya Sri Krishna?) […]

Comments are closed.