Home » Catatan Perjalanan » Belajar Konsistensi dari Kakek Penjual Minyak Tanah Keliling

Belajar Konsistensi dari Kakek Penjual Minyak Tanah Keliling

Sore ini, saya menyempatkan diri naik sepeda untuk sekedar mencari keringat. Berhari-hari duduk sambil memelototi dekstop, membuat seluruh tubuh terasa pegal dan kaku. Menempuh rute mengelilingi Bundaran Besar kota Palangka Raya, lalu menuju jalan Imam Bonjol, dan lanjut mengitari Bundaran kecil di depan kantor gubernur Kalimantan Tengah. Lalu menyusuri Jalan G. Obos hingga mendekati putaran Jalan Raya Galaxy, seterusnya putar balik menelusuri jalan Mangku Rambang yang penuh dengan penjual tanaman hias.

Hari sudah menjelang senja, karena memang saya meninggalkan rumah sudah jam 17.15 . Ini adalah jam dimana orang-orang pekerja non formal juga mulai beranjak pulang. Karenanya, sepanjang jalan saya berpapasan dengan para pedagang bakso yang mengayuh gerobak baksonya dengan agak gontai. Ada yang terlihat sudah hampir habis terjual dagangannya. Tapi ada juga yang memang masih cukup banyak persediaannya. Berjualan bakso memang biasanya sampai jam 9 malam masih laku. Itu pengalaman pribadi saya dulu saat masih jualan bakso sambil kuliah ditahun 1996. Hanya saja, saat itu gerobak bakso saya tidak memakai sepeda sehingga bisa dikayuh, karenanya harus berjalan kaki mendorongnya.

Para pedagang buah yang menggelar dagangannya dipinggiran jalan G. Obos juga sudah mulai membereskan dagangan mereka. Ada yang memakai bak terbuka mobil pickup, tapi lebih banyak yang menggelarnya di atas gerobak dorong. Harga buah di kota Palangka Raya memang cukup mahal, karena hampir sebagian besar didatangkan dari luar Palangkaraya, terbanyak dari Jawa. Seberapa untung para pedagang ini ya? Bukankah kalau tidak laku, dagangan buah mereka membusuk hari demi hari? Apakah yang laku terjual bisa menutupi modal dan dapat untung ya?

Diantara penjual buah yang setiap hari saya lihat di sepanjang jalan G.obos adalah seorang nenek yang menggelar dagangannya di atas papan beralas tikar. Buah-buah tradisional dan lokal  yang dia jajakan: pisang awak, pisang kepok, pepaya, nenas, dan sejenisnya, yang dari tampak luarnya sudah kurang menarik minat pembeli. Saya sering merasa kasihan melihatnya, karena kuatir dagangan perempuan renta itu tidak laku. Tapi di saat yang sama, saya salut luar biasa kepada mereka-mereka itu. Usia sudah uzur, tapi masih tetap bersikeras bekerja kasar, dan tidak mau berpangku tangan. Lebih salut pada mereka ini, yang berani dagang dengan resiko kelelahan dan juga rugi, dari pada para pengemis yang menengadahkan tangan pada para pengunjung warung tenda di sepanjang jalan Yos Sudarso, dekat Bundaran Besar.

Saya juga melihat para pekerja bangunan yang duduk-duduk bergerombol di depan barak yang dibangun darurat di lokasi bangunan proyek garapan mereka , setelah seharian bekerja di tengah terik matahari. Dan, melihat mereka, saya punya ikatan rasa khusus. Karena sebagian besar pekerja bangunan itu adalah orang-orang dari daerah yang bernama Pangkoh, yang masuk wilayah Kecamatan Pandih Batu dan Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau. Orang mengira, Pangkoh hanya terdiri dari satu desa, yang semua penduduknya menjadi perantau.

Tidak, sebenarnya Pangkoh terdiri dari setidaknya 33 desa transmigrasi, yaitu Pangkoh 1 sampai dengan Pangkoh 11, yang menyebar di kiri-kanan aliran Sungai Kapuas di wilayah yang dulu bernama Kecamatan Pandih Batu.  Ada sungai buatan yang menjadi jalur lalu lintas utama untuk masing-masing Pangkoh, dengan kelotok atau perahu menjadi sarana transportasi utama warga transmigran. Itu dulu, sebelum dibangunnya jalur darat. Masing-masing Pangkoh, terdiri dari Blok A, Blok B, Blok C, dan ada pula yang sampai Blok D. Masing-masing Blok itu sejatinya adalah sebuah desa, yang dibagi menjadi bagian kiri dan dan bagian kanan sungai buatan itu.Tidak pernah ada data yang pasti, berapa ribu kepala keluarga jumlah transmigran yang menempati seluruh desa di pangkoh itu.

Dari sanalah saya berasal, orang tua saya transmigran di Unit Pemukiman Transmigrasi Pangkoh IV/B Kiri. Itu sebabnya, saya lulus dari SD Negeri Pangkoh IV/B Kiri, demikian yg tertulis dlaam ijazah. Sejak tahun 1980, kami adalah transmigran gagal, yang wilayahnya terisolir, dan hasil cocok tanam tidak bisa diharapkan selalu panen…Karenanya, untuk menyambung hidup, ribuan warga Pangkoh merantau ke daerah lain, untuk mencari nafkah. Nama Pangkoh begitu terkenal dikalangan masyarakat Palangka Raya sejak awal tahun 1990-an, dan dulu identik dengan para tukang, pemborong, dan kuli bangunan. Atau juga para pembantu rumah tangga. Hingga kini pun keadaannya tidak banyak berubah….

Diam-diam saya lantas mensyukuri, bahwa dulu nekad kuliah, meski sambil jualan bakso dan juga nyambi kerja jadi kuli bangunan. Setidaknya, Tuhan memberikan jalan bagi saya, untuk saat ini mendapatkan mata pencaharian yang tidak harus menguras tenaga di tengah terik matahari.

Sambil terus bersyukur, saya menelusuri jalanan pulang, yang sebagian gelap tidak berlampu. Karena sambil melamun, tanpa sadar, saya nyaris menabrak gerobak seorang penjual minyak tanah keliling. Oh…rupanya dia seorang kakek penjual minyak tanah langganan kami. Kebetulan, hingga saat ini, kami masih memakai kompor minyak tanah untuk memasak. Melihat kakek itu, saya merasa semakin iba, tapi salut dan hormat luar biasa.

Entah apa alasannya, hingga saat ini, kakek itu tidak menjajakan minyak tanahnya dengan mengendarai sepeda onthel, seperti lazimnya para pedagang minyak tanah keliling lainnya. Dia memakai gerobak dorong yang sudah reot. Ada drum kecil yang dia masukkan dalam gerobak itu , sebagai tempat menyimpan minyak yang dijualnya. Lalu ada beberapa kaleng blek dan jerigen. Tak lupa dia juga menyediakan tabung gas isi 3 kilogram. Sudah sejak bertahun-tahun, dia berkomitmen menekuni pekerjaannya itu, ditengah hiruk pikuk konversi mitan ke gas yang dilakukan oleh pemerintah. Ditengah makin populernya gas elpiji, konsumen minyak tanahnya makin berkurang dari hari ke hari.

Tapi, kakek yang sepertinya berasal dari orang daerah Banjarmasin itu, tetap saja menekuni pekerjaannya. Pagi-pagi saat saya berangkat ke kampus, saya sering mendengar teriakan khasnya “nyak, minyak…”. Dan, bukan sekali ini saja, saya berpapasan dengan kakek itu saat hari sudah lewat magrib begini. Ditengah seliweran kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, dengan sabar kakek itu mencari jalan agar bisa menyeberang Bundaran Besar, setiap hari, bahkan di tengah hari gelap begini. Tak jarang, sepeda motor atau mobil harus mengerem mendadak, karena tidak menyadari ada gerobak minyak tanah yang melinatas di depan mereka. Hmmm…saya salut dan mengagumi komitmen dan konsistensi kakek itu. Harga dirinya jauh lebih terhormat, daripada mereka yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan pikiran mereka, bukan sekedar mencukupi kebutuhan hidup.

Oh Sri Krishna, Engkau Maha Besar. Orang-orang seperti ini, mengingatkan saya betapa seharusnya, dengan mata pencaharian saya yang jauh lebih ringan, saya bisa berbuat lebih baik dalam pekerjaan saya. Mestinya, saya tidak makan gaji buta, dengan mengingat tetesan keringat kawan-kawan yang sebagian saya temui dalam perjalanan naik sepeda sore ini, untuk mendapatkan nafkah mereka. ….

 

Loading Facebook Comments ...