Home » Catatan Perjalanan » Dilema Proyek Senilai 32 M

Dilema Proyek Senilai 32 M

Sp Backdrop WISUDA STAHN 2014-small“Saya dapat proyek 32 M nih….” Jawab saya enteng saat terdengar sebuah suara nyeletuk. Saya baru saja memarkir motor di halaman aula tempat even wisuda kampus akan diadakan. Saat saya menurunkan baliho berukuran besar dari motor, suara itu terdengar lagi, “Lho, Mas, sampean ini sebenarnya dosen apa tukang spanduk, to? Opo tukang syuting?”
Ceplosan protes teman SMA saya, mengawali percakapan kami yang secara tidak terduga bertemu di moment yudisium kampus hari ini. Teman yang sama-sama dari transmigrasi Desa Pangkoh itu, selama ini meniti karir sebagai ‘tukang photo’ dan bekerja di Aline, sebuah studio photo terkenal di kota Palangka Raya. Dia biasa melayani photo panggilan saat ada momen-momen seperti acara yudisium, wisuda, pernikahan, atau kegiatan lain yang butuh dokumentasi.
Melihat saya menenteng kamera, handycame dan juga spanduk yang masih harus di pasang, dia ‘mempertanyakan’ profesi saya..he..hee… “Mbok jangan serakah begitu, kasih bagian kami-kami ini…Jadi dosen ya ngajar aja, ngga usah nyambi-nyambi gitu….” Begitu selorohnya. Kami pun lantas terlibat percakapan akrab penuh canda. Saling bercerita, bagaimana awalnya tertarik pada hobi ngotak-ngatik kamera. Tak lupa sesekali mengingat cerita-cerita saat dulu sekolah di Pangkoh, dan juga update kabar teman-teman seangkatan kami lainnya.
Serakah? Merampas lahan nafkah orang lain? Benarkah saya sejahat itu? Diam-diam sesudah obrolan itu, saya merenung. Meski hanya bergurau, kata-kata teman itu cukup menukik juga…Selama ini saya memang dikenal oleh mahasiswa sebagai pekerja serabutan. Kalau ada order spanduk untuk hampir semua kegiatan di kampus, teman-teman meminta saya yang mendesain dan mencetaknya. Saat ada acara-acara yang perlu dokumentasi photo atau video, paling sering saya yang dimintai tolong. Buntutnya, hampir bosan mahasiswa dan teman-teman sejawat di kampus melihat saya nenteng spanduk, baliho, atau ‘menongkrongi’ acara ritual dan seremonial lainnya. Tak heran, ada teman yang begitu melihat saya nenteng spanduk, mereka bertanya, “Dapat proyek berapa M, Mas Surya?”

Sebentar, jangan dikira itu proyek bernilai miliaran, lho. Saya biasa bergurau pada teman-teman, saat dapat pesanan spanduk ukuran 3 meter, saya bilang saya lagi nggarap proyek 3 M. Karena backdrop wisuda yang saya bawa tadi pagi berukuran 4 x 8 meter, makanya saya bilang pada teman saya itu, saya dapat proyek 32 M ha..haha..ha..
Apa tidak merasa gengsi? Dosen kok nyambi jadi tukang spanduk? Terkadang, menyelinap juga pertanyaan begitu di benak saya. Ah, entahlah, saya cuek. Terserah orang mau bilang apa… Sudah cukup lama saya bercerai dengan gadis molek bernama ‘GENGSI’ itu. Sejak orang tua gagal panen dan tidak lagi bisa membiayai kuliah S1 saya dulu, saat itu juga saya memutuskan jalinan kasih saya dengan NONA GENGSI yang dulu sangat mencintai saya. Dialah sesungguhnya cinta sejati saya….dan sampai setua inipun, saya belum pernah berpikir untuk rujuk kembali dengannya…
Yang jelas, saya menikmati hobi memotret dan menyuting moment2 yang saya anggap penting didokumentasikan. Secara otodidak, saya belajar software-software video editing, sampai bisa menyajikan hasilnya dalam format DVD. Entahlah, sampai kapan hobi ini saya turuti. Yang jelas, dulu saya tidak pernah bermimpi bisa jadi dosen. Saat kecil saya bercita-cita jadi guru, karenanya saya mengambil jurusan Pendidikan Fisika saat S1. Ketika tiba-tiba saja ada yang mengajak dan membiayai kuliah S2, saya menurut saja saat diajak mengambil jurusan Magister Pendidikan Luar Sekolah di Universitas Negeri Yogyakarta. Tahun-tahun itu, menempuh S2 masih tergolong ekslusif, tidak semudah sekarang. Dan, awal tahun 2000 waktu itu, belum ada wacana bahwa untuk bisa menjadi guru besar atau profesor, seorang dosen harus linear latar belakang pendidikannya. Setidaknya, pendidikan S2 dan S3 nya harus serumpun bidang ilmunya. Wacana itu baru bergulir saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mulai digulirkan.

DSC_6063
Sedikitpun saya tidak pernah membayangkan, akan mengajar di kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu. Apalagi mata kuliah keahlian yang ditetapkan untuk saya adalah Statistik Pendidikan. Lengkaplah sudah, nyaplirnya ilmu saya. Ketiganya tidak nyambung: sarjana pendidikan fisika, magister pendidikan luar sekolah, dan mata kuliah keahlian diberikan statistik pendidikan. Tulisan-tulisan saya lebih banyak seputar agama Hindu, yang tidak nyambung dengan statistik. Lalu hobinya photo-photo dan bikin spanduk… Nah, kalau sudah begitu, bisa profesional dari mana? Kalau mau studi lanjut Doktor (biar bisa monDOK di kanTOR), mesti mengambil jurusan apa? Padahal, pingin juga suatu hari nanti berganti panggilan jadi ‘Prof’ (pakai F, singkatan dari profesor) bukan dijuluki “PROV” seperti sekarang ini, karena  saya dianggap PROVokator… Ah…entahlah, pusing juga ujung-ujungnya. Mendingan ngurusin proyek-proyek bernilai 4 M saja deh…ikuti saja nasib ini akan bergulir kemana…Atau, anda juga mau ikut-ikutan memprotes saya? Hahaha…

Loading Facebook Comments ...