Home » Akademik » Sri Krishna, Rsi Narada, dan Guru Drona dalam Dunia Pewayangan, sebuah Catatan Kecil…

Sri Krishna, Rsi Narada, dan Guru Drona dalam Dunia Pewayangan, sebuah Catatan Kecil…

 

bhatara kresno

bhatara kresno

Jujur, saya berterima kasih pada TPI (kini berubah menjadi MNC), Youtube, ANTV, dan media broadcast lain yang memfasilitasi masyarakat Indonesia saat ini untuk menikmati film Mahabharata, Ramayana, Mahadewa, dan sejenisnya. Film-film yang memvisualisasikan ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana itu, terbukti sangat digemari oleh masyarakat luas, bukan hanya oleh kalangan umat Hindu. Dulu, saat film Mahabharata pertama kali ditayangkan oleh TPI di awal tahun 1990-an, masyarakat Indonesia sangat menyukainya, dan sebagian diantaranya ada yang dengan ikhlas meninggalkan aktivitasnya saat itu, demi bisa menonton tayangan yang penuh nilai-nilai moral tersebut.

Tahun 2014 ini, saat film-film itu digarap dengan versi baru oleh StarTV India dan ditayangkan oleh ANTV  serta diupload secara lengkap di channel Youtube, terlihat jelas betapa rating-nya luar biasa. Komentar-komentar seputar perilaku tokoh-tokoh Mahabharata dan Mahadewa, dan tidak lupa fans pages pada artis-artis pemeran film-film bernuansa rohani Hindu itu, tampak jelas menghiasi media sosial seperti Facebook.

Saya sendiri khususnya selalu mengagumi Sri Krishna, Sri Wishnu, atau Sri Narayana, yang selalu tampil sebagai problem solver. Selalu mampu memberikan solusi dan alternatif jalan keluar pemecahan untuk setiap masalah yang dihadapi oleh para dewa dan umat manusia. Barangkali memang itulah salah satu ‘tupoksi (tugas pokok dan fungsi)’ beliau sebagai Pemelihara Alam Semesta. Dalam pakem-pakem dan lakon wayang purwa di Jawa, sifat Sri Krishna sebagai ‘problem solver’ dan sutradara itu tetap dipertahankan oleh para dalang. Meskipun wayang telah digunakan sebagai media dakwah bagi para wali songo, namun karakter dan sifat kehinduan Sri Krishna itu tidak banyak dimodifikasi.

Sri Krishna dijuluki dengan sebutan ‘ratu bhinatara’ oleh para dalang versi wayang Jawa. ‘Ratu bhinatara’ berasal dari dua kata, ‘ratu’ yang berarti ‘raja’; dan kata ‘bhinatara’ yang artinya ‘memiliki sifat sebagai bhatara’. Itulah sebabnya, Sri Krishna dinamai Sri Bhatara Kresno dalam pakem-pakem itu. Sri Krishna diakui sebagai titisan Bhatara Wishnu, dimana istilah ‘bhatara’ identik dengan para dewa dari kahyangan.

Hal ini berbeda dengan misalnya penggambaran figur dan karakter Resi Narada dan Dronacarya dalam pakem dan lakon dunia pewayangan Jawa. Kedua tokoh guru besar dalam pendidikan tradisional Hindu itu, telah mengalami begitu banyak perubahan dan pergeseran baik dalam penggambaran bentuk tubuh, raut muka, perilaku, dan perannya. Orang yang menggemari pertunjukan wayang kulit di Jawa, lalu menonton film Mahabharata dan Mahadewa yang ditayangkan di ANTV saat ini, pasti bisa merasakan perbedaan besar bagaimana Rsi Narada dan Pandita Drona digambarkan dalam kedua versi itu. Begitupula dengan tokoh-tokoh Mahabharata yang lainnya.

Wayang dengan kisah Mahabharata yang telah diadaptasi sedemikian rupa agar sesuai dengan pola pikir dan kebudayaan Jawa, dimanfaatkan sebagai media pengajaran agama Islam yang sangat efektif oleh para penyebar ajaran Islam di Jawa pada masa itu. Upaya pelestarian dan penulisan pakem wayang seperti itu memuncak pada masa pemerintahan kerajaan Islam di Surakarta pada abad ke-17 sampai abad ke-19 (Pradipta, 2005).
Perubahan figur dan karakter tokoh-tokoh Mahabharata India ke dalam tokoh-tokoh pewayangan Jawa oleh para penyebar Islam, dilakukan dengan menyesuaikan terhadap konteks sosiokultur yang dianut oleh masyarakat Jawa pada masa itu. Karena itu bila dilakukan perbandingan karakter antara tokoh Mahabharata India dan tokoh pewayangan Jawa, khususnya dalam wayang purwa, akan dijumpai perbedaan karakter yang sangat mencolok (Guritno, 1988; Mulyono, 1998).
Pemanfaatan kisah Mahabharata dalam bentuk wayang sebagai media pengajaran agama Islam, dapat dilihat baik dalam bentuk lakon/alur cerita maupun dalam penggambaran figur atau bentuk tubuh para tokoh Pandawa. Misalnya penggambaran tokoh Yudhistira yang di atas kepalanya memakai sepotong kertas putih (sumping). Kertas putih tersebut menggambarkan pusaka para Pandawa yang disebut Kalimasada. Jika kertas tersebut dibuka, maka akan ada tulisan kalimat syahadat, yang merupakan kewajiban pertama dalam Rukun Islam. Kalimat syahadat menegaskan komitmen seseorang yang beragama Islam, yang menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah. Dengan mengenakan sumping tersebut, telah menunjukkan bahwa Yudhistira, tokoh Mahabharata tersebut telah menganut agama Islam (Soetrisno, 1977).

yudhisthira

Prabhu Yudhisthira

Begitu pula, tokoh Bhima digambarkan memakai gelang supit urang, mukanya selalu menunduk dan belakangnya yang tinggi, seperti orang sedang shalat. Ia tidak melayani orang lain sebelum pekerjaannya sendiri selesai, isyarat bahwa sholat tidak boleh dibatalkan. Bima mempunyai Aji Pancanaka yang selalu digenggam kuat sebagai senjata perang, yang berarti jika shalat dikerjakan dengan baik, ia mempunyai kekuatan yang tangguh. Arjuna sebagai kesatriya yang tangguh, jiwanya teguh dan senang berpuasa. Berpuasa ini menggambarkan Rukum Islam yang ketiga, yaitu menjalankan puasa selama bulan Ramadhan (Zarkasi, 1977).
Selain itu, penggambaran figur dan karakter tokoh dalam wayang purwa yang jauh berbeda dari aslinya juga dilakukan terhadap tokoh yang memiliki gelar bhatara, resi, ācārya, dan guru-guru spiritual Hindu yang ada dalam kitab Mahabharata. Dalam dunia pewayangan Jawa, Bhatara Nārada , misalnya, dilukiskan dengan bentuk tubuh cebol bulat, berwajah tua, dengan kepala menengadah ke atas, dan telah menunaikan ibadah haji. Sedangkan Pendeta Drona dilukiskan sebagai pendeta berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar biasa serta sangat mahir dalam berperang. Tangannya pengkor, dan hidungnya bengkok, karena pernah dihajar oleh tokoh bernama Gandhamana, tokoh rekaan yang sejatinya tidak ada dalam kisah asli Mahabharata India (Mulyono, 1998).

Pandita Drona

Pandita Drona

Begitu pula, Ṛsi Vyasa yang dalam wayang purwa disebut Begawan Abiyasa, dikisahkan menikahi Dewi Ambika, yang melahirkan seorang anak laki-laki bernama Drestarastra dan bermata buta. Dalam kisah Mahabharata di India, penyebab kebutaan Drestarastra adalah karena Dewi Ambika yang memejamkan mata karena terkejut melihat wujud Resi Vyasa pada saat mereka berhubungan badan (Dutt, 2001).

rsi narada wayang

Penggambaran Rsi Narada dalam versi Wayang Kulit Purwa di Jawa Timur dan Jawa Tengah

Sedangkan dalam wayang purwa, disebutkan penyebab kebutaan Drestarastra adalah karena Begawan Abiyasa memejamkan mata saat merayu dan berhubungan badan dengan Dewi Ambika. Perbedaan ini terjadi karena dalam budaya Jawa, diyakini bahwa penyebab kelahiran buruk pada seorang bayi adalah akibat ulah bapaknya (Padmopuspito, 1986).
Jelaslah bahwa pertunjukan wayang purwa di Jawa menjadikan kisah-kisah kepahlawanan dalam kitab Ramayana dan Mahabharata sebagai sumber skenario cerita dan sumber ajaran moral serta budi pekerti bagi masyarakat luas. Namun pada saat yang sama, terjadi perubahan yang disengaja dan cukup signifikan dalam menggambarkan figur, karakter, asal-usul, kisah hidup, maupun peranan tokoh-tokoh utama dalam kitab Ramayana dan Mahabharata yang oleh umat Hindu dikenal sebagai kitab Itihasa tersebut.
Dalam kitab Mahabharata India, tokoh-tokoh seperti Ṛsi Nārada, Resi Wyasa, Dronācarya (Mahaguru Drona), Kripācarya (Mahaguru Kripa), dan lain-lain menempati kedudukan yang sangat penting sebagai guru-guru suci yang sangat dihormati. Tokoh-tokoh besar tersebut diakui sangat besar peranannya dalam proses penerimaan, pelestarian, dan penyebarluasan ajaran-ajaran Weda sebagai kitab suci umat Hindu (S. J. Rosen, 1995).
Bagi umat Hindu di Indonesia, fenomena pemanfaatan isi kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan tokoh-tokoh utama di dalamnya sebagai media pengajaran agama dan budaya diluar Hindu tersebut menarik untuk dikaji dan dicermati. Ada dua dasar pertimbangannya, yaitu sebagai berikut. Pertama, Ramayana dan Mahabharata adalah dua kitab Itihasa yang menduduki posisi penting dalam khasanah sastra atau pustaka suci Hindu. Hal ini karena salah satu kitab suci penting yang menjadi pedoman dan penuntun hidup bagi umat Hindu di seluruh dunia, yaitu Bhagavad-gita, tercantum di dalam kitab Mahabharata, yaitu dalam bagian Bhisma Parwa (Rosen, 2002).
Para maharesi Hindu menyatakan bahwa untuk memudahkan dalam mempelajari dan memahami ajaran kitab suci Weda secara benar, orang harus mempelajari Weda melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Sebab dalam kitab Itihasa dan Purana dijumpai ajaran moral dan kesusilaan (Susila) dan tradisi (Ācāra) yang hidup di dalam masyarakat (Titib, 1996b: 4 – 5).
Ṛsi Vyasa dalam kitab Vayu Purana 1.120 menegaskan pentingnya memahami ajaran Veda melalui Itihasa dan Purana tersebut sebagai berikut:
Itihasa puranambhyam vedam samupabrhmhayet
Bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharisyati

Terjemahan:
Hendaknya Veda dijelaskan melalui sejarah (Itihasa) dan Purana (sejarah dan mitologi kuna), Veda merasa takut kalau seseorang yang bodoh membacanya. Veda berpikir bahwa dia (orang yang bodoh itu) akan memukulku.

Kedua, dalam kitab Manusmerti II.6 dinyatakan bahwa untuk memahami dan menjalankan dharma, manusia harus berpegang pada sumber-sumber dharma, yang salah satu diantaranya adalah perilaku para acārya. Sumber-sumber dharma, menurut MahaṚsi Manu adalah sebagai berikut:

Vedo’khilo dharma mūlam smrti sile ca tad vidam
Acäras caiva saadhunam atmanastustir eva ca

Terjemahan:
Veda adalah sumber dari segala dharma, yakni agama, kemudian barulah smrti, disamping séla (kebiasaan atau tingkah laku yang baik dari orang yang menghayati dan mengajarkan ajaran Veda) dan kemudian äcära yakni tradisi-tradisi yang baik dari orang-orang suci (sädhü) atau masyarakat yang diyakini baik serta ätmanastuñöi, yakni rasa puas diri yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Maha Esa (Ngurah, 1999).

Dalam kaitan dengan ayat tersebut, dalam tradisi Hindu, para tokoh seperti Ṛsi Nārada, Ṛsi Vyasa, dan Pendeta Drona adalah dalam kategori sebagai para sadhu (orang-orang suci) yang pikiran, ucapan, dan tindakannya menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat umum.
Dalam sastra Hindu, dan dalam praktek keagamaan di India hingga saat ini, ketiga tokoh mahaguru itu dikenal dengan sebutan acārya. Acārya adalah “a highly respected teacher, the wise one who practice what he preached. A title generally bestowed through diksa an ordination, such as in Sivācharya priest tradition” (Subramuniya Swami, 1997; Rosen, 1995). Dalam tradisi Waisnawa, Ṛsi Nārada dan Ṛsi Vyasa ditempatkan pada urutan tertinggi dalam silsilah guru-guru suci (acārya) garis perguruan rohani (parampara) yang menurunkan ajaran-ajaran Catur Veda (Bhaktivedanta, 1996).

Jelaslah bahwa kitab Ramayana dan Mahabharata sebagai Itihasa merupakan bagian dari kitab smṛiti, yang menjadi sumber pedoman untuk memahami Weda, dan menjalankan ajaran dharma. Begitu pula, tokoh-tokoh acārya seperti Ṛsi Nārada, Ṛsi Vyasa dan Pendeta Drona, adalah figur teladan yang dihormati jasa-jasanya dalam pengajaran dan pelestarian ajaran spiritual Weda.

Namun dalam prakteknya, setelah berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa, kisah-kisah dalam Ramayana dan Mahabharata beserta tokoh-tokoh yang ada di dalamnya telah mengalami berbagai adaptasi. Adaptasi tersebut terutama terjadi dalam dunia pewayangan di Jawa, khususnya wayang purwa. Dalam proses adaptasi tersebut, terjadi transformasi figur, karakter, dan peranan tokoh-tokoh utama yang ada dalam sastra Hindu India. Transformasi itu dilakukan agar nilai-nilai luhur ajaran Hindu dapat diterima ke dalam latar belakang agama, sosial, dan budaya masyarakat Jawa.
Persoalannya, proses transformasi tersebut berdampak pada terdistorsinya ajaran-ajaran Hindu yang kemudian berkembang dan tertanam dalam pemahaman masyarakat luas penggemar wayang purwa. Transformasi figur, karakter, dan peran para acārya dalam sastra Hindu menjadi pandita (dibaca pandito) yang menyampaikan dakwah-dakwah Islam dalam pementasan wayang purwa, juga cenderung mengaburkan keutamaan kepribadian, bahkan sampai pada tingkatan tertentu dapat dikatakan telah terjadi upaya pembunuhan karakter terhadap para maharesi dan resi-resi Hindu.

Fenomena tersebut jelas-jelas merugikan bagi upaya pemahaman ajaran Hindu secara benar dan utuh, baik bagi umat Hindu sendiri di Jawa, maupun oleh umat di luar Hindu sebagai penggemar pertunjukan wayang purwa. Apalagi, sejak tanggal 7 November 2003, wayang Indonesia telah diakui sebagai sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO (Pradipta, 2005).
Menurut saya, tayangan film-film Ramayana, Mahabharata, Mahadewa, dan sejenisnya saat ini, diharapkan bisa setidaknya meluruskan kembali berbagai hal yang selama ini terlanjur melekat dalam kesadaran kolektif masyarakat penggemar wayang…

Referensi

Bhaktivedanta, S. (1996). Srimad Bhagavatam Skanda I Jilid 2 (Tim Penterjemah, Trans.). Jakarta: PT. Pustaka Bhaktivedanta.

Dutt, M. N. (2001). Mahabhrata with Sanskrit Texts and English Translation. New Delhi: Parimal Publications.

Guritno, P. (1988). Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mulyono, S. (1982). Apa dan Siapa Semar. Jakarta: Gunung Agung.
Mulyono, S. (1998). Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta: CV Haji Masagung

Ngurah, I. G. M. (1999). Buku Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Paramita.
Padmopuspito, A. (1986). Serat Kandhaning Ringgit Purwa Jilid 4. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Pradipta, B. (1999). The Role and Qualities of Arjuna in Jawa and India. Disertasi, University of Delhi, Delhi 110007, India.
Pradipta, B. (2005). The Arjuna of India and Java. General and Cultural Comparative Observation. Paper presented at the Confluence: India – Indonesia Cultural Relationship, Erasmus Huis, Jakarta. Seminar retrieved from
Rosen, S. J. (1995). The lives of the Vaishnava saints : Shrinivas Acharya, Narottam Das Thakur, Shyamananda Pandit. India: Folk Books.
Rosen, S. J. (2002). The Hidden Glory of India. China: The Bhaktivedanta Book Trust.

Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia. (2002). SUMMARY RESEARCH REPORT WAYANG – The Traditional Puppetry and Drama of Indonesia, Candidature File of the Republic of Indonesia For Proclamation of Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity by UNESCO in May 2003. Jakarta: Sena Wangi.

Soetrisno. (1977). Falsafah Pancasila sebagaimana Tercermin dalam Falsafah Jawa. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM.
Subramuniyaswami, S. S. (1997). Dancing With Siva. USA: Himalayan Academy
Titib, I. M. (1996b). Pengantar Weda untuk Program DII. Jakarta: Hanoman Sakti.
Zarkasi, E. (1977). Nilai Islam dalam Pewayangan. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.

 

 

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. agusman says:

    catatan yang menceraahkan…setujuuuu

Comments are closed.