Home » Krishna & Bhakti Yoga » Belajar Manajemen Modern dari Pengasingan Pandawa (1)

Belajar Manajemen Modern dari Pengasingan Pandawa (1)

brihanala2Skenario Sangkuni berjalan mulus. Ia berhasil merebut kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa, melalui tipu muslihat dan perilaku curang. Demikianlah, di meja judi itu Yudhisthira dan adik-adiknya kehilangan segalanya: kerajaan, harga diri, dan terutama kesucian istri mereka, Drupadi. Duryodana dan Dursasana yang biadab, berniat menelanjangi Pancali dalam sidang kerajaan Hastinapura, dihadapan orang-orang suci seperti Bhisma, Guru Drona, Guru Kripa, dan para petinggi kerajaan lainnya. Raja Dhristarastra yang buta itu, justru terang-terangan mendukung perilaku tak manusiawi anak-anaknya, para Kurawa. Beruntung, secara gaib Draupadi diselamatkan oleh Sri Krishna.

Sangkuni dan Duryodana pun tersenyum puas. Permainan dadu dengan mata dadu yang telah dia rancang sedemikian rupa, berhasil mengeksploitasi sifat mulia sekaligus kelemahan Yudhisthira. Putra tertua Pandu itu senantiasa berpegang teguh pada dharma, ia pantang berkata bohong, selalu menepati kewajiban sebagai seorang ksatria. Sifat saleh Yudhisthira itu, sangat dipahami oleh Sangkuni. Dia tahu, bahwa pewaris sah tahta Hastinapura itu, tidak akan menolak bila diundang ke istana oleh pamannya, Raja Drhristarastra. Ia telah menganggap ayah para Kaurawa itu sebagai orang tuanya sendiri. Dia sama sekali tidak menaruh curiga, saat dalam undangan itu mereka juga diajak bermain dadu. Permainan dadu, pada masa itu, dianggap sebagai sebuah permainan asah otak belaka. Sejenis permainan catur, dan tidak dimaksudkan sebagai judi dengan pertaruhan harta benda seperti saat ini.

Akibat lain dari kekalahan dalam permainan dadu itu tak kalah menyengsarakan bagi para Pandawa. Duryodana, atas nasehat Sangkuni, memberikan hukuman berupa pengasingan selama 12 tahun bagi kelima putra Pandu dan Draupadi. Mereka harus meninggalkan kerajaannya, dan hidup ditengah hutan. Selain itu, setelah masa 12 tahun tersebut berakhir, Pandawa diharuskan menyamar selama satu tahun, dan tidak boleh ditemukan identitasnya oleh para Kaurawa. Jika mereka gagal, hukuman itu akan diulang lagi dari awal. Itulah siasat licik Sangkuni untuk menguasai kerajaan Indraprastha, tanpa harus melalui perang dan penaklukan bersenjata.

Karena berpegang teguh pada kebenaran, Yudhisthira memutuskan menerima pengasingan mereka. Tentu saja, mereka bertekad untuk mampu merebut kembali kerajaan mereka, setelah pembuangan itu berakhir. Itulah sebabnya, selama masa pengasingan itu, para Pandawa melakukan berbagai daya upaya demi meningkatkan kompetensi diri mereka masing-masing.

Kisah para Pandawa yang berada pada titik terendah kehidupan, hingga pada akhirnya mampu mengalahkan 100 orang Kaurawa, sungguh menginspirasi banyak tokoh manajemen modern. Mereka berusaha menganalisa dan merumuskan, nilai-nilai manajamen modern apa saja yang bisa dipetik dari kisah Mahabharata yang agung tersebut. Terutama, bila analisis yang digunakan adalah model analisis SWOT (Strenght, Weakness, Oportunity, dan Threat), yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau tantangan. Apa yang dilakukan Pandawa selama pengasingan, dan mampu menyamar selama setahun penuh tanpa dikenali oleh Kaurawa yang memiliki ‘sistem radar’ yang canggih itu? Bagaimana analisa SWOT itu ‘diterapkan’ oleh para Pandawa? Mari kita coba menyimaknya…(bersambung)…

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. arisno says:

    Osa,,,,,,,, kelanjutannya bgmna lg pak….

Comments are closed.