Home » Krishna & Bhakti Yoga » Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’

Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’

“Why Krishna and not Kristus? Mengapa Anda memilih sembahyang pada Krishna? Bagaimana Anda bisa menerima Krishna sebagai Tuhan?” pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari mulut saya. Saya sempat berkelakar pada mereka, bahwa selama ini, kalau saya melihat pria ‘bule’ menerbangkan pesawat-pesawat kecil di wilayah Kalimantan Tengah, pastilah mereka sedang melakukan pelayanan pada Kristus. Tumben, kali ini ada pilot bule yang menerbangkan helikopter di udara seputaran Palangka Raya, tapi sedang melayani Krishna…ha ha ha

 

mikhailo nikitenko
Setelah tiga hari bergaul dan lebih akrab dengan dua orang teman baru itu, saya tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Benar-benar ingin tahu, apa alasan dua orang dari Ukraina yang sedang bertugas memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu, memilih masuk Hindu dan menerima Sri Krishna sebagai Tuhan sesembahan mereka. Kok bisa-bisanya, ya?
Selama ini, melalui media online, saya memang sudah sering membaca bahwa di Ukraina dan juga Rusia, banyak orang yang memeluk ajaran Hindu, khususnya Bhakti Yoga, dan menerima Sri Krishna sebagai tujuan pemujaan mereka. Dan ternyata benar. Di Kiev, ibukota Ukraina, menurut teman saya itu, ada lebih dari 6000 orang penyembah Sri Krishna, dan mereka memiliki kuil atau temple yang besar, dengan berbagai kegiatan pembelajaran dan pengajaran yang sangat aktif. Belum lagi di kota-kota lainnya seperti kota Donya, yang kini sedang bergolak dan menjadi pemberitaan dunia karena jatuhnya pesawat MH17 milik Malaysia Airline, akibat tembakan rudal pemberontak pro Rusia, beberapa bulan lalu.
Sebagai negara pecahan Soviet Union atau Uni Soviet, dalam benak saya, pastilah penduduk Ukraina juga pernah mengenal paham ‘komunis’ dan ‘atheis’. Dua istilah yang sampai saat ini masih sangat tabu untuk didiskusikan, apalagi sampai dianut oleh masyarakat Indonesia.
Sebagaimana sudah menjadi ‘label’ umum dalam masyarakat, sebagai penduduk negara di Eropa Timur, wajarlah jika mereka beragama Kristen atau Katholik, selayaknya orang benua Eropa pada umumnya. Tapi mereka memeluk Hindu, bekerja di perusahaan swasta Saudi Arabia yang melayani penyewaan pesawat dan kargo, dan tetap ‘khusuk’ menjalankan prinsip-prinsip bhakti-yoga kepada Sri Krishna selama bertugas di Kalimantan, membuat saya memberanikan diri bertanya langsung kepada kedua orang yang usianya belum genap 30 tahun itu. Mumpung bisa klarifikasi langsung, begitu maksud hati saya…
Dan, sebagai seorang pilot dan teknisi helikopter, pastilah mereka orang-orang berpendidikan, terpelajar, dan terbiasa dengan kehidupan mewah di negara-negara maju. Saya berharap, jawaban mereka akan lumayan ‘ilmiah dan rasional’, dan tidak terlalu emosional atau dogmatis…. Kalau fenomena banyak teman saya di Indonesia yang meninggalkan Hindu karena alasan ekonomi, pekerjaan dan status sosial, perkawinan, atau kurangnya pembelajaran agama Hindu selama ini, bagi saya itu bisa dimaklumi. Tapi, kebanyakan teman-teman dari Barat yang saya temui, mereka masuk Hindu bukan karena alasan-alasan klasik seperti itu.
“Well, saya sudah lama menjadi ateis…” kata sang pilot mulai menjawab pertanyaan saya sambil terkekeh. Dia melanjutkan, “Not Exactly atheist, karena sebenarnya, secara tradisi alami di negara kami, kami lahir sebagai Kristen atau Katholik”.
“Lalu, bagaimana Anda mengenal Krishna?” tanya saya makin tertarik.

DSC_6516
Merekapun lantas menceritakan pengalamannya masing-masing. Bahwa sebenarnya, menganggap Tuhan tidak ada, dan segala sesuatu di dunia ini terjadi hanya secara kebetulan, terbukti tidak menentramkan hati. Mereka sudah membaca berbagai literatur yang berbau ‘ateis’dan berusaha menjalaninya, namun masih juga tidak merasa nyaman. Tetap saja mereka merasakan kegalauan jiwa, dan kehampaan menyiksa bhatin. Itulah sebabnya, setelah ambruknya Unisoviet dan berakhirnya perang dingin, masyarakat di sana sangat merindukan ajaran-ajaran religius bersumber pada agama.
Tentu tak ketinggalan, mereka juga pernah mempelajari kitab-kitab agama ‘tradisi’ mereka. Lalu, kitab Bhagavadgita yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa rumpun Rusia, juga mereka baca. Mereka berpendapat bahwa ajaran Sri Krishna itu jauh dari dogma-dogma yang tabu untuk dipertanyakan. Terbukti, dalam dialog antara Krishna dan Arjuna sebelum perang di Kuruksetra tersebut, Arjuna berulang kali menyanggah dan mendebat ‘Basudewa Krishna”, bila menurutnya ada sabda yang ‘tidak masuk’ nalar, atau bertentangan dengan nilai-nilai yang dipahami oleh Putra Kunti itu selama ini. Tapi Sri Krishna tidak marah, atau mengancam memberikan azab pedih yang kekal kepada Arjuna. Bukan Tuhan yang Pencemburu…. Selalu saja Sri Krishna mampu memberikan pencerahan bathin terhadap segala dilema dan kegalauan yang dihadapi oleh sahabatnya itu.
Penjelasan tentang hakekat sejati jiwa manusia, secara rinci dan ilmiah, ada dalam Bhagavad-gita. Pertanyaan-pertanyaan filosofis yang bila ditanyakan dalam ajaran lain dianggap ‘makar’ dan dijawab ‘manusia tidak berhak mengetahui hal itu, hanya Tuhan yang tahu’, semuanya terjawab dalam literatur Veda. Nilai filosofinya sangat dalam, dan tidak berisi ancaman-ancaman yang akan mengirim orang ke neraka selamanya, bila tidak meyakini ajaran tertentu. Menurut mereka, ajaran Bhagavadgita dan Veda tidak membagi atau menggolongkan manusia berdasarkan ‘yang beriman’ dan ‘tidak beriman’di pihak lainnya. Jiwa, sang roh, adalah identitas sejati semua makhluk”. Kalau orang memahami dan menjalankan ajaran Veda secara benar, kata mereka, orang itu akan mendapatkan kedamaian hati dan kemajuan kehidupan spiritual. Jika setiap individu merasakan damai dan menghormati makhluk lain, maka konflik-konflik dan peperangan dalam masyarakat yang sering mengatasnamakan agama seperti di Timur Tengah saat ini, bisa dihindari. Rupanya, karena bekerja cukup lama di perusahaan yang berbasis di Timur Tengah, sedikit banyak mereka tahu akar permasalahan yang terjadi di wilayah itu, yang sangat gencar dipublikasikan media masa saat ini.

 

Selain itu, bahasa di Ukraina, ternyata masih banyak dipengaruhi dan banyak sekali  persamaannya dengan  bahasa Sanskerta. Menurutnya, sebenarnya dulu peradaban Hindu telah pernah berkembang di wilayah negara-negara seperti Ukraina. Hingga saat inipun, masih ada kata seperti “krishen’ dan ‘wishen’ yang mirip dengan kata “Krishna’ dan “Wishnu”. Nama-nama bilangan dalam bahasa Ukraina, masih mirip dengan angka dalam bahasa Sanskerta, yaitu turunan dari kata asal kata ‘eka, dwi, tri, catur’, dan seterusnya. Karena akar budaya itulah, masyarakat Ukraina kini dengan mudah menerima kembali ajaran-ajaran Hindu, setelah situasi negara itu memungkinkan.
Saya sangat kagum pada keluasan wawasan dan bacaan mereka pada literatur=literatur Hindu, terbukti dari berbagai argumen yang mereka sampaikan. Semuanya didasarkan pada ajaran sastra, dan bukan spekulasi atau tafsiran mereka sendiri. Membaca, mempelajari dan bahkan mempertanyakan apa yang ada dalam kitab-kitab suci, rupanya menjadi kebiasaan mereka, sebelum akhirnya memutuskan untuk ‘jatuh cinta’ pada Sri Krishna.
“Membaca Bhagavad-gita dan literatur Veda lainnya, membuat galau saya sebagai mantan atheis terobati…ha..ha..ha….” ujar Mr. Mikhailo, sang pilot. Pertemuan dengan kami yang di Palangka Raya juga membuat mereka merasa mendapat anugerah yang luar biasa.
“Selama ini, sebelum menjalankan misi seperti sekarang ini, saya selalu berdoa kepada Krishna, agar saya selalu dilindungi, dan dapat menjaga bhakti saya kepada-Nya sampai tingkatan tertentu. Supaya tidak terlalu merosot mental dan jiwa saya. Meski tidak mudah melakukannya ditengah pekerjaan dan lingkungan asing yang cukup menantang seperti misi saya di Kongo, Sudan, Uganda, dan negara-negara Afrika lainnya beberapa tahun lalu” katanya mengungkapkan kegembiraan.
“Krishna selalu mengingatkan saya dari dalam hati,pada hari-hari kemarin…”lanjutnya. “Tapi hari ini, di Palangka Raya ini, Beliau mengingatkan saya ‘dari luar’, karena tanpa diduga, kami bertemu dan bisa dharsan pada Krishna hari ini di ashram ini. Kami sungguh bahagia…, bertemu anda-anda ditengah misi memadamkan kebakaran hutan ini… ini adalah sebuah miracle… Krishna…connecting people….but He is not handphone Nokia, right?? Hahaha…” tambahnya bergurau seraya mencakupkan tangan.
Saya senang mendengar jawaban mereka atas pertanyaan saya. Juga merasa terharu, karena keseriusan mereka dalam menjaga jiwa dan pikirannya, agar selalu ingat pada Krishna ditengah segala suasana. Itulah sesungguhnya yang dimaksud Kesadaran Krishna. Sadar dan selalu ingat pada Tuhan, dalam setiap aktivitas atau kegiatan. Lebih terharu lagi, saat melihat mereka dengan lahap menikmati prasadam yang kami suguhkan, meskipun sayurnya hanya campuran daun singkong, bayam, oseng tempe, sayur nangka, dan krupuk singkong….tanpa rasa enggan atau gengsi sedikitpun.

 

Padahal harusnya mereka bisa melahap KFC atau beef burger sambil menikmati bir di Hypermart jalan Yos Sudarso. Tapi mereka vegetarian, dan kata mereka menu hotel yang bisa mereka nikmati selama ini hanya “noodle and and toffu’, migoreng sama tahu plus nasi putih… hehehe….
Terima kasih Krishna, akhirnya pernah juga saya bertemu bule ‘pilotnya’ Krishna, agar tidak melulu ketemu bule ‘pilotnya’ Kristus selama hidup di Kalimantan… Om Tat Sat.

 

Loading Facebook Comments ...