Home » Hindu(is)me » Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?

Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?

Kreatif dan cerdas menangkap peluang bisnis. Mungkin begitulah istilah yang tepat untuk menggambarkan alasan dibalik akan hadirnya artis-artis pemeran serial Mahabharata ke Jakarta dan Bali bulan mendatang. Dengan kemasan program yang diberi judul “Panah Asmara Arjuna”, acara yang diprakarsai oleh Stasiun ANTV itu diprediksi akan berlangsung meriah. Kabar kehadiran para aktor tampan dan kekar dari India itu, sepertinya telah membuat histeria para penggemar setia mereka di Indonesia, terlebih kaum wanita. Perbincangan mengenai acara itu telah mewarnai media sosial.

Dari kacamata bisnis entertaintmen, hal itu tentu sah-sah saja. Tapi, ada yang sedikit mengusik pikiran saya, sejak saat pertama iklan itu muncul di televisi. Bukan karena tidak senang dengan kehadiran para artis itu ke Indonesia. Tapi penamaan dan konsep program itu yang membuat saya teringat sesuatu.

arjun with arrow“Panah Asmara Arjuna” membangkitkan kembali ingatan bawah sadar saya, bahwa di Indonesia, selama ini Arjuna memang terlanjur digambarkan sebagai seorang ‘playboy’, lelaki yang gemar bermain asmara dengan banyak wanita. Itu tergambar setidaknya dari judul lagu dan sinetron bertajuk ‘Arjuna mencari cinta”. Dan kali inipun, ‘Arjuna’ jauh-jauh datang dari India untuk kembali mencari seorang wanita Indonesia yang akan diboyongnya jalan-jalan ke ‘kerajaan Indraprastha’. ‘Wanita Cantik Indonesia’ pemenang sayembara yang berhasil tertembus panah asmara Arjuna itu akan berwisata asmara ke Bharatawarsa bersama sang ‘Shaheer Sheikh’ Arjuna.
Itu artinya, Arjuna yang sudah pernah menikahi 16 wanita Indonesia itu, tahun 2014 ini akan menambah lagi jumlah pendamping hidupnya. Belum puaskah Arjuna memiliki istri yang sudah lebih dari selusin itu?

Arjuna Menikahi 16 Wanita Indonesia?

Mengapa Arjuna dikenal dan terlanjur di cap sebagai seorang playboy di kalangan kaum wanita Indonesia? Semua itu tentu tidak terlepas dari penggambaran Arjuna dalam dunia pewayangan. Lagi-lagi, dunia pewayanganlah yang telah memperkenalkan tokoh-tokoh Pandawa dan Kaurawa kepada masyarakat luas di Indonesia, sebelum hadirnya serial film Mahabharata di televisi ataupun media online lainnya. Dalam cerita pewayangan di Jawa, Arjuna dijuluki dengan gelar ‘lelananging jagad’, yang artinya ‘lelakinya dunia’. Ketampanan dan sifat-sifat kekesatriaannya, membuat setiap wanita tergoda dan ingin menikah dengan putra Kunti itu.

Tidak tanggung-tanggung, sudah ada 16 orang wanita yang telah bertekuk lutut pada Arjuna. Mulai dari bidadari, putri raja, hingga wanita biasa. Itulah kehebatan dan kreatifitas para pujangga dan dalang yang menulis berbagai serat yang berisi pakem atau skenario kisah pewayangan. Mahabharata pun telah diadaptasi sedemikian rupa, sehingga seolah-olah terjadi di Indonesia. Tak mengherankan, banyak istri Arjuna yang memiliki nama asli Indonesia…hehehe…Berikut ini daftar nama mereka yang beruntung dipersunting Arjuna, ‘ratusan tahun’ yang lalu…

Nama istri Arjuna versi wayang Jawa

Dalam kisah Mahabharata di India, Arjuna ‘hanya’ menikahi 4 orang wanita. ‘Hanya’ empat wanita? Tentu kita harus ingat, bahwa pada konteks jaman saat itu, seorang ksatria boleh memiliki istri lebih dari satu orang. Mereka umumnya adalah para raja atau anggota keluarga kerajaan, yang dianggap mampu memberikan penghidupan yang layak dan perlindungan kepada para istrinya. Jadi, memiliki empat orang istri seperti yang dilakukan Arjuna adalah sesuatu yang dianggap wajar pada masa itu.

Lagi pula, Arjuna menikahi keempat wanita itu lebih dalam konteks memperluas ‘network’ atau jaringan. Para Pandawa perlu membangun persahabatan dan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan yang kuat, agar mereka mendapatkan bantuan dalam menghadapi perang melawan Kaurawa. Mereka membutuhkan jaringan pendukung yang kuat, dan salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membangun ikatan keluarga dengan para raja perkasa itu.

Arjuna menikahi Draupadi pada saat para Pandawa menyembunyikan diri dari para Kaurawa, setelah Kaurawa berniat membakar mereka dalam istana kardus di Warnabrata. Kepatuhan pada apapun perkataan ibu Kunti, membuat Panca Pandawa akhirnya menikah dengan Pancali, atas persetujuan Sri Krishna, penasehat dan guru spiritual mereka. Dalam perkembangannya, Draupadi, Dristhadyumna, dan Shikandin (ketiganya anak raja Drupada) terbukti memiliki peran besar dalam membantu Pandawa memenangkan perang di Kuruksetra.

Tanpa bantuan Shikandin (lebih dikenal sebagai Srikandi dalam dunia pewayangan), Pandawa tidak mungkin bisa mengalahkan kakek Bhisma. Drishtadyumna lahir dengan tujuan memenuhi keinginan ayahnya, Raja Drupada, untuk membunuh Guru Drona. Tanpa bisa mengalahkan Kakek Bhisma dan Guru Drona, mustahil bagi Pandawa untuk memenangkan peperangan yang berlangsung selama 18 hari tersebut. Dengan demikian, pernikahan Arjuna dengan Drupadi menurut versi Mahabharata, memiliki tujuan-tujuan yang lebih luas, dan tidak sekedar berlandaskan asmara, apalagi semata karena ketampanan paras Arjuna.

Pernikahan Arjuna dengan Subadra, juga memiliki latar belakang yang hampir sama. Sri Krishna sengaja menikahkan Arjuna dengan adik perempuannya itu, agar ikatan kekeluargaan mereka semakin kuat. Sri Krishna yang memutuskan untuk tidak mengangkat senjata, dan hanya menjadi kusir kereta Arjuna, terbukti mampu secara ajaib membawa Pandawa memenangkan dharma melawan adharma. Dalam hitungan diatas kertas, kekuatan Kaurawa dan sekutu-sekutunya, tidak mungkin bisa dikalahkan oleh lima orang Pandawa. (Baca juga : Siapa Sesungguhnya Sri Krishna?)

Dari pernikahannya dengan Subadra itu, lahirlah Abhimanyu. Abhimanyu selanjutnya menikah dengan Uttari, putri Raja Wirata dari kerajaan Matsya, yang telah melindungi para Pandawa selama masa satu tahun penyamaran mereka. Raja Wirata terbukti menjadi sekutu yang sangat kuat bagi Pandawa.

Selain itu, pengeroyokan Abhimanyu secara curang oleh para Kaurawa dibantu Karna, Drona, Jayadrata, dan lain-lain, telah ‘membuka jalan’ bagi Arjuna untuk bisa mengalahkan Karna raja Anga, dengan cara yang bisa disebut curang pula, atas nasehat Sri Krishna. Anak dari Abhimanyu, yang masih berada dalam kandungan Uttari pada saat perang berlangsung, dikemudian hari dinobatkan menjadi raja Hastinapura dengan nama Raja Parikesit, setelah para Pandawa memutuskan untuk menempuh ‘vanaprastha’ .

Istri ketiga Arjuna adalah Citrangada. Saat menjalani hukuman pengasingan karena telah mengambil busurnya di kamar Draupadi, Arjuna menikah dengan Citrangada, seorang putri raja dari wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Orisa. Pernikahan itu, sebagaimana pernikahan lainnya, memiliki andil secara langsung maupun tidak langsung untuk membangun ‘network’ dengan kekuatan-kekuatan yang tidak dimiliki oleh para Pandawa saat itu.

Upaya Pembunuhan Karakter?

Dengan demikian, pernikahan Arjuna dengan keempat wanita seperti versi India, tidak semata-mata hanya karena hubungan asmara, seperti yang digambarkan dalam pewayangan Jawa. Arjuna jauh dari sifat playboy, dan tidak mempunyai istri sebanyak 16 orang, atau bahkan ada versi yang menyebut jumlahnya mencapai lebih dari 40 orang. Tidak diketahui secara pasti, apa sesungguhnya alasan para pembuat pakem wayang itu mempersepsikan Arjuna sebagai ksatria yang berbudi luhur, gagah perkasa, tapi gemar mengumbar asmara dengan banyak wanita?

Mengapa pula harus digambarkan bahwa Arjuna di pewayangan lebih dekat dan selalu dikawal tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong), yang sejatinya tidak ada dalam Mahabharata? Mengapa Arjuna tidak digambarkan sangat dekat dengan Sri Krishna? Mengapa bukan Arjuna yang menerima wahyu Bhagavad-gita dari Sri Krishna yang lebih dikenal di Jawa, melainkan kisah Bhima suci yang bertemu dengan Dewa Ruci di tengah samudra, dan mencapai pencerahan jiwa, lalu melahirkan konsep “manunggaling kawula lan Gusti’ yang terkenal itu yang lebih populer?

Tentu saja saya menyadari, bahwa segala sesuatu dan peristiwa memiliki konteksnya tersendiri, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Pastilah ada situasi yang melatarbelakangi suatu tindakan. Saya juga tidak bermaksud mengorek hal-hal yang telah terjadi di masa lalu. Hanya saja, sekali lagi, sangat disayangkan bila akibat sebuah tindakan di masa lalu itu, kini Arjuna ‘harus menyandang’ predikat sebagai playboy. Semoga saja, kehadiran aktor-aktor Mahabharata ke Indonesia, dalam balutan program bertajuk “panah Asmara Arjuna”itu tidak memiliki efek samping semakin melestarikan dan meneguhkan gelar Arjuna sebagai ‘lelananging jagad’, sosok Arjuna yang suka mengumbar panah asmaranya kepada setiap wanita. Welcome to Indonesia, aktor-aktor pujaanku….

Loading Facebook Comments ...