Home » Hindu(is)me » Bhatara Narada Keturunan Nabi Adam, dan Pernikahan Jin Islam dan Dewa Hindu dalam Dunia Pewayangan

Bhatara Narada Keturunan Nabi Adam, dan Pernikahan Jin Islam dan Dewa Hindu dalam Dunia Pewayangan

Narada MuniSebagaimana telah saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya, Rsi Narada yang dalam dunia pewayangan juga disebut Batara Narada atau Sang Hyang Kanekaputra, dimasukkan dalam sebuah silsilah yang dimulai dari Nabi Adam.

Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas alasan para wali dan pujangga Jawa dalam melakukan proses Islamisasi wayang, dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi figur, karakter, peran, dan kedudukan Batara Narada dalam Pewayangan, dengan mengacu pada hasil penelitian saya yang berjudul “TRANSFORMASI FIGUR, KARAKTER, DAN PERANAN ĀCĀRYA DALAM SASTRA HINDU INDIA KE DALAM DUNIA  WAYANG KULIT PURWA DI JAWA    (Studi Kasus terhadap Tokoh Ṛsi Nārada, Ṛsi Vyāsa, dan Dronācarya)

Baca juga artikel terkait :Rsi Narada, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?

Dalam tataran paham ajaran Hindu, kedudukan para dewa lebih tinggi derajat dan kemampuannya dibandingkan dengan manusia. Oleh karena itu, penempatan Bathara Narada sebagai keturunan Nabi Adam dan Hawa, sesungguhnya sulit untuk diterima dalam konsep agama Hindu.

Dalam kaitan ini, Ki Gaura Mancacaritadipura, seorang dalang beragama Hindu yang menjabat sebagai Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI)  menjelaskan bahwa dengan datangnya Islam di Jawa, telah terjadi pergeseran kegiatan wayang dari kegiatan keagamaan menjadi kegiatan kebudayaan. Menurut Ki Gaura, dalam ranah kebudayaan, orang lebih mudah melakukan perubahan atau inovasi dan pengenalan hal-hal baru, tanpa dianggap menentang nilai-nilai agama yang disakralkan oleh penganutnya.

Ki Gaura Mancacaritadipura, bersama Wakil Mentri Pendidikan Windu Nuryanti dalam sebuah Seminar di Jakarta

Ki Gaura Mancacaritadipura, bersama Wakil Mentri Pendidikan Windu Nuryanti dalam sebuah Seminar di Jakarta

“…Pada jaman Jawa kuna masih tidak banyak perubahan dari aslinya di India. … selanjutnya Islam masuk sehingga Ramayana Mahabharata termasuk tokoh-tokoh dalam wayang dan kegiatan wayang itu fungsinya berubah dari kegiatan keagamaan menjadi kegiatan kebudayaan, pindah dari ranah keagamaan ke ranah kebudayaan.

Dalam ranah kebudayaan, itu lebih luas peluang untuk melakukan perubahan atau inovasi sehingga ceritera ataupun lakon yang sifatnya pakem itu berubah sehingga lahir yang namanya lakon carangan dan lakon carang dinapur. Cerita yang ada di teks asli itu dikembangkan, dikembangkan bahkan diciptakan karakter-karakter baru, lakon-lakon baru yang tidak ada di teks aslinya.Ini yang kita lihat sekarang.

Sekarang lakon-lakon itu banyak sekali dan terutama yang bersumber dari Mahabharata lakon carangan carang dinapur itu sudah banyak sekali, sudah ratusan mungkin ribuan lakon. Jadi tokoh seperti Wyasa dan Drona, diteks aslinya itu mereka itu berperan sebagai resi sehingga karakternya tugasnya adalah memberikan bimbingan wejangan pada tokoh-tokoh masyarakat, terutama pada ksatria”

Kemudian dalam wayang-wayang yang modern, karakter-karakter mereka mengalami perubahan atau pergeseran sehingga Naradha menjadi cebol, Drona menjadi tangannya menjadi cacat, dan sebagainya. Jadi mereka tetap sebagai seperti resi ya, tapi mungkin juga perawakan mereka, maksudnya karakter mereka itu juga lebih bergeser menyerupai karakter kyai (Ki Gaura, wawancara tanggal 10 November 2011).

Pendapat Ki Gaura tersebut senada dengan pendapat Ki Sumari, yang menyatakan bahwa dengan dijadikannya wayang sebagai media dakwah oleh para wali pada zaman dahulu, banyak perubahan yang dilakukan terhadap rupa, karakter, maupun kisah hidup tokoh-tokoh Ramayana dan Mahabharata (wawancara tanggal 11 November 2011).

Ki Gaura bersama  Any F. Noya saat tampil dalam acara 'Kick Andy"di Metro TV

Ki Gaura bersama Any F. Noya saat tampil dalam acara ‘Kick Andy”di Metro TV

Perubahan silsilah, penciptaan tokoh dan karakter baru dalam pewayangan di Jawa yang sudah bernuansa Islam tersebut dapat dilihat pada dibuatnya silsilah para dewa beserta nabi-nabi Islam dalam Serat Purwakanda, Serat Arjunasasrabahu, maupun Serat Paramayoga.

Namun demikian, Padmosoekotjo (1979) mengingatkan bahwa ada berbagai perbedaan yang sering ditemukan mengenai silsilah, perjalanan hidup, maupun peran seorang tokoh dalam ketiga serat yang sering dijadikan sebagai pedoman skenario atau pakem oleh para dalang wayang purwa di Jawa tersebut. Peringatan Padmosoekotjo menegaskan kembali pendapat Ki Gaura Mancacaritadipura yang menyatakan bahwa dalam ranah kebudayaan, seorang seniman memiliki lebih banyak kebebasan dalam melakukan inovasi dalam penciptaan figur, karakter, maupun peran tokoh-tokoh pewayangan sesuai dengan imajinasi dan daya kreativitasnya.

Kebebasan dalam berkreasi itulah yang menyebabkan sering ditemukannya perbedaan versi cerita dalam setiap pertunjukan wayang yang menampilkan tokoh yang sama. Dengan demikian, tidak heran bila terjadi transformasi atau perubahan yang cukup signifikan terhadap penggambaran figur tokoh Ṛsi Nārada dalam wayang kulit purwa di Jawa, jika dibandingkan dengan penggambarannya dalam kitab Ramayana dan Mahabharata di India klasik.

Silsilah para nabi dan dewa-dewi Hindu yang disusun oleh Ki Ranggawarsito. seorang pujangga Jawa dari Keraton Surakarta. Rsi Narada disebut sebagai Kanekaputra, adalah keturunan Nabi Adam dati garis Nabi Sis.

Silsilah para dewa menurut Serat Paramayoga, karya Ranggawarsita. Bathara Narada dalam silsilah ini disebut namanya sebagai Sang Hyang Kanakaputra, putra dari Sang Hyang Caturkanaka (Sumber: Padmosoekotjo, 1979: 28).

Dalam silsilah di atas, dapat diketahui bahwa nama dewa-dewa Hindu, meskipun beberapa diantaranya masih sama dengan nama mereka dalam versi Ramayana dan Mahabharata India, namun kedudukan mereka adalah sebagai anak cucu dari tokoh-tokoh baru yang diciptakan oleh para pujangga dan para dalang wayang purwa di Jawa. Tokoh-tokoh tersebut ada yang dihadirkan dari tokoh-tokoh Islam, seperti Nabi Adam dan Siti Hawa, Nabi Anwar, Nabi Sis, dan sebagainya; maupun tokoh-tokoh yang diciptakan berdasarkan konsep kosmologi alam semesta dalam sistem kepercayaan asli masyarakat Jawa yang masih bertahan dan tidak hilang setelah adanya pengaruh dari Hindu, Buddha, maupun Islam.

Bentuk lain Islamisasi wayang juga terlihat dengan adanya upaya untuk membuat silsilah pertemuan antara jin dan para dewa Hindu, sebagaimana yang dipaparkan dalam Serat Arjunasasrabahu.

Menurut Harsrinuksmo (1999: 158) Serat Arjunasasrabahu adalah karya tulis Raden Ngabehi Sindusastra yang terdiri dari 6 Jilid dalam Bahasa Jawa. Isi serat ini mengambil dasar dari Serat Kanda, yang sudah membaurkan cerita wayang dari Mahabharata dengan unsur-unsur keislaman.

Menurut ajaran Islam jin dikatakan sebagai makhluk dengan kehendak bebas, diciptakan Allah dari api tanpa asap, sedangkan manusia diciptakan dari tanah liat. Menurut al-Qur’an, jin memiliki kehendak bebas, dan Iblis (setan) menyalahgunakan kebebasannya di hadapan Allah dengan menolak perintah untuk sujud kepada Adam ketika Allah memerintahkan kepada malaikat dan jin untuk melakukannya. Karena menolak perintah Allah, iblis diusir dari surga dan kemudian disebut dengan setan. Selain pertemuan manusia dengan jin, upaya mempertemukan antara malaikat sebagai makhluk Allah dengan para dewa juga dapat dilihat dalam serat Arjunasasrabahu (Harsrinuksmo, 1999) .

silsilah Jin dan Dewa Hindu

Silsilah bercampurnya Jin dengan para dewa menurut Serat Arjunasashrabahu (Sumber: Ensiklopedi Wayang Indonesia Jilid 6, 1999: 1653; Padmosoekotjo, 1979: 38)

Berdasarkan beberapa referensi yang telah dipaparkan, jelaslah bahwa proses islamisasi wayang, yaitu memanfaatkan wayang sebagai media dakwah atau media penyebaran agama Islam, telah menyebabkan terjadinya transformasi atau perubahan dalam penggambaran figur/rupa, karakter, dan peran Ṛsi Nārada sebagai salah seorang ācārya Hindu yang sangat besar jasanya dalam penerimaan, penyebarluasan, dan pelestarian ajaran Veda.

Pengaruh Sistem Organisasi Sosial Masyarakat Jawa

Pertunjukan wayang kulit purwa di Jawa dan juga di Pulau Bali, biasanya dikaitkan dengan peristiwa kehidupan manusia. Wayang di kedua wilayah itu biasanya dipertunjukkan pada perayaan pernikahan, syukuran, ulang tahun, khitanan, upacara tingkeban, otonan, dan sebagainya. Saat ini wayang bahkan dipertunjukkan pada saat peresmian kantor, tujuh belas agustus, saat upacara bersih desa, dan hari-hari lain yang disepakati bersama oleh masyarakat penggemarnya.

Harsrinuksmo (1999: 792) menyatakan bahwa perkembangan wayang kulit purwa di Jawa tidak terlepas dari apa yang disebut sebagai imajinasi Jawa. Menurutnya, meskipun dasar cerita utama yang digunakan pada lakon-lakon wayang kulit purwa adalah Ramayana dan Mahabharata, namun imajinasi orang Jawa terhadap tokoh-tokoh wayang, berbeda dengan imajinasi orang India terhadap tokoh Ramayana dan Mahabharata. Demikian pula imajinasi mengenai situasi yang melatarbelakangi cerita itu. Orang Jawa punya bayangan yang seringkali jauh berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh orang India.

Apa yang dinyatakan oleh Harsrinuksmo tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana orang Jawa menggambarkan figur atau rupa tokoh-tokoh wayang, sesuai dengan latar belakang situasi Jawa. Penggambaran figur Bathara Narada, yang jauh berbeda dengan penggambarannya dalam Mahabharata ataupun berbagai Purana, telah disesuaikan dengan imajinasi orang Jawa tentang bagaimana figur seorang pendeta yang dianggap mewakili rupa, kepribadian dan peran seorang pendeta.

Sebagian orang Jawa membayangkan bahwa beberapa kerajaan dalam pewayangan ada di Pulau Jawa – yang dalam pewayangan disebut Tanah Jawa. Menurut Sir Thomas Stanford Rafles, Gubernur Jenderal Inggris yang pernah berkuasa di Jawa dalam bukunya The History of Java, sebagian besar kerajaan dalam pewayangan, dibayangkan orang Jawa terletak di Jawa Tengah (Harsrinuksmo, 1999: 792)

Menurut Raffles, ada orang Jawa yang menganggap misalnya kerajaan para Pandawa, yaitu kerajaan Indraprastha, terletak di Dataran Tinggi Dieng, dengan pusatnya di lokasi Candi Gedong Songo. Selanjutnya, Astina dibayangkan terletak di sebelah barat daya Yogyakarta sekarang. Dan kota Dwarawati yang diperintah oleh Krishna terletak disekitar Kota Pati.

 
 Pengaruh Perkembangan Seni Rupa dan Seni Kriya
Seni pewayangan merupakan cabang kesenian yang paling lengkap. Di dalamnya mengandung perpaduan berbagai jenis seni, baik seni sastra, seni rupa, seni drama, seni gerak/tari, seni suara, dan seni musik. Perpaduan berbagai cabang seni ini menyatu menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan wayang, sehingga memancarkan pesona yang adiluhung dan adiguna. Berada pada puncak kesempurnaan karya cipta manusia dan mempunyai multifungsi dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Terkait dengan hal tersebut, Ki Gaura mengatakan bahwa terjadinya perubahan-perubahan dalam pewayangan termasuk figur tokoh itu disebabkan adanya pergeseran fungsi wayang yang terjadi dalam masyarakat, yaitu wayang yang semula merupakan bagian dari aktivitas keagamaan, namun kemudian bergeser menjadi aktivitas kebudayaan. Adanya pergeseran dari ranah keagamaan menjadi ranah kebudayaan. Dari ranah kebudayaan, itu lebih luas peluang untuk melakukan perubahan atau inovasi sehingga ceritera ataupun lakon yang sifatnya pakem itu berubah sehingga lahir yang namanya Lakon Carangan dan Lakon Carang Dinapur. Cerita yang ada di teks asli itu dikembangkan, bahkan diciptakan karakter-karakter baru, lakon-lakon baru yang tidak ada di teks aslinya. ini yang kita lihat sekarang. Sekarang lakon-lakon itu banyak sekali dan terutama yang bersumber dari mahabarata lakon carangan carang dinapur itu sudah banyak sekali, sudah ratusan mungkin ribuan lakon.

Aug06118

Situasi tersebut yang kemudian memunculkan perubahan-perubahan dalam pewayangan, termasuk perubahan pada figur tokoh-tokoh wayang.

“ ….. karakter-karakter mereka mengalami perubahan atau pergeseran sehingga Naradha menjadi cebol, drona menjadi tangannya menjadi cacat, dan sebagainya. Jadi mereka tetap sebagai seperti resi ya, tapi mungkin juga perawakan mereka, maksudnya karakter mereka itu juga lebih bergeser menyerupai karakter kyai …..” (Wawancara tanggal 10 November 2011.)

Perubahan figur dan karakter tokoh wayang dari pakem yang ada, salah satu penyebabnya yaitu datangnya Islam dan upaya-upaya Islamisasi oleh para wali terhadap masyarakat Jawa. Hal ini dibenarkan oleh Ki Sumari, salah seorang dalang yang merupakan anggota SENAWANGI.

“ ….. Itu juga karena faktor Islamisasi itu tadi agar dapat diterima oleh umat Islam, wayang hubungannya dengan dakwah. Karena kan itu dari Hindu, padahal Islam datang kan baru pada abad 14, sedangkan wayang kan sudah ada sebelumnya, kalau itu langsung di bumi hanguskan padahal itu kan sudah mendarah daging di masyarakat, maka oleh para wali wayang itu kemudian di Islamisasi. Jadi bukan para wali yang membuat wayang, karena sebelumnya sudah ada ….. “ (Wawancara dengan Bpk. Sumari tanggal 10 November 2011).

Referensi

Harsinuksmo, Bambang, dkk. (1999). Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jilid 6. Jakarta: SENAWANGI

Mulyono, S. (1982). Apa dan Siapa Semar. Jakarta: Gunung Agung.

Mulyono, S. (1998). Wayang dan Karakter Manusia. Jakarta: CV Haji Masagung

Padmopuspito, A. (1986). Serat Kandhaning Ringgit Purwa Jilid 4. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Padmosoekotjo, S. (1979). Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita (Cap-capan 1. ed.). Citra Jaya: Surabaya.

Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia. (2002). SUMMARY RESEARCH REPORT WAYANG – The Traditional Puppetry and Drama of Indonesia, Candidature File of the Republic of Indonesia For Proclamation of Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity by UNESCO in May 2003. Jakarta: Sena Wangi.

Sutini. (2009, April 15). Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang: Ditinjau dari Sejarah Perkembangan Serta Peranannya dalam Menunjang Pendidikan Kepribadian Bangsa Retrieved August 23, 2011, from http://www.facebook.com/note.php?note_id=113765652501

Loading Facebook Comments ...