Home » Akademik » Nasib Dosen yang ‘Lahir Belakangan’, dan Rimba Baru Bernama Kuantitatif

Nasib Dosen yang ‘Lahir Belakangan’, dan Rimba Baru Bernama Kuantitatif

Sejak digulirkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mereka yang berprofesi sebagai dosen bisa bernafas lega. Karena sejak saat itu, kesejahteraan dosen mulai lebih diperhatikan oleh pemerintah, diantaranya melalui program sertifikasi dosen (serdos). Mereka yang telah dianggap layak sebagai dosen profesional, akan mendapat Sertifikat Pendidik. Sebagai konsekuensinya, mereka yang telah tersertifikasi itu akan mendapatkan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok. Tentu saja ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Tapi, adakah konsekuensi lain dari ‘mimpi indah peningkatan kesejahteraan itu?”


Ternyata, seiring dengan itu, pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan nasional juga semakin memperketat kualitas dan kompetensi dosen. Berbagai peraturan baru digulirkan dalam kaitannya dengan upaya mengupgrade kompeteseni dan profesionalitas dosen. Artinya, banyak tuntutan yang harus dipenuhi oleh seorang dosen, agar tunjangan sertifikasinya tetap dibayar pemerintah.
Malangnya, saya yang belum sempat menikmati sertifikasi inipun sudah mulai terkena imbas dari berbagai regulasi itu. Saat mengikuti kegiatan orientasi penulisan jurnal ilmiah yang diadakan oleh kampus minggu ini, mata saya menjadi semakin terbuka. Betapa sejak saat ini saya harus mulai benar-benar berubah dalam cara berpikir dan cara melakoni profesi sebagai seorang dosen. Dr. Muhammad Said, narasumber yang juga dosen di STAIN Palangka Raya itu, seolah-olah hadir untuk menjawab kebimbangan saya selama ini.

Dr. Muhammad M Said, M.Ag, dosen STAIN Palangka Raya, penulis dan editor Jurnal terakreditasi Internasional

Dr. Muhammad M Said, M.Ag, dosen STAIN Palangka Raya, penulis dan editor Jurnal terakreditasi Internasional

Saya harus menentukan sikap sejak sekarang, berkaitan dengan karya ilmiah yang saya hasilkan. Saya diterima di STAHN Tampung Penyang untuk mengisi formasi sebagai Dosen Statistik Pendidikan, dengan latar belakang pendidikan Magister Pendidikan Luar Sekolah. Tahun 2010 saat itu, entah bagaimana, formasi seperti itu masih diperbolehkan. Lalu, dalam SK PNS saya dengan jelas tertulis bahwa saya memang dosen Statistik Pendidikan. Bagi saya, itu tidak menjadi masalah, karena saya juga sarjana lulusan program studi pendidikan fisika, yang tidak jauh-jauh dari matematika dan statistik. Sejak di SD hingga S1 saya juga sangat menikmati ilmu-ilmu eksakta dan rasanya, otak saya sudah sempat mengalami kuantifikasi.
Tapi masalahnya, sejak kuliah S2 jurusan Pendidikan Luar Sekolah, saya terlanjur jatuh cinta pada pendekatan kualitatif. Dan lebih banyak menulis dan menghasilkan penelitian yang berhubungan dengan agama Hindu. Terutama sejak berkenalan dengan sistem pendidikan tradisional Hindu model gurukula, dan juga pesantren. Keduanya begitu mempesona saya, betapa pendidikan karakter manusia, tidak cukup hanya diukur melalui manupulasi angka-angka. Begitupun, paradigma penelitian kini lebih banyak bergeser pada pendekatan kualitatif.

 

Padahal, dalam kurikulum di STAHN Tampung Penyang, menurut hemat saya, tidak ada matakuliahnya yang relevan secara langsung dengan bidang ilmu PLS. Meski sesungguhnya pendidikan agama Hindu adalah bentuk langsung pendidikan non formal dan informal, pendidikan sepanjang hayat (konsep catur asrama) namun secara keilmuan, keduanya dalam rumpun dan bidang ilmu yang berbeda.  Pendidikan luar sekolah masuk dalam rumpun ilmu pendidikan, sedangkan pendidikan agama Hindu masuk dalam rumpun agama.
Jadi, saya berada dalam sebuah oposisi binner. Kini saatnya saya menentukan pilihan, apakah harus mengambil s3 Pendidikan Luar Sekolah lagi, ataukah mengambil bidang ilmu lain yang lebih dekat dengan statistik. Tentu konsekuensinya, tulisan-tulisan saya juga harus lebih banyak berkaitan dengan statistik pendidikan.
Kehadiran Dr. Muhammad Said yang telah berpredikat sebagai penulis jurnal terakreditasi internasional itu, sepertinya menjawab dilema saya selama ini. Saat saya bertanya tentang bidang keilmuan mana yang sebaiknya saya pilih dengan latar belakang pendidikan dan SK itu, ditegaskannya bahwa lebih baik saya menekuni statistik pendidikan. Karya ilmiah saya mestinya lebih banyak berkaitan dengan statistik pendidikan. Itu kalau bercita-cita suatu saat bisa menjadi guru besar. Itu juga berarti saya sebaiknya kuliah program doktor dengan mengambil bidang ilmu yang dekat dengan statistik. Dan sepertinya, bidang ilmu yang mewadahi statistik pendidikan adalah Program Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Kalau sudah begini, rasanya benar celetukan teman-teman dosen muda yang bilang, “Ah, kalau sudah begini, nyesal lahir belakangan….Banyak profesor yang kita kenal saat ini, kayaknya tidak hebat-hebat amat, tapi dengan mudah bisa jadi guru besar, karena dulu aturannya tidak seribet sekarang…” seloroh mereka.

Rasanya ada benarnya juga keluhan teman-teman itu. Terlepas semua tuntutan kualifikasi dan kompetensi dosen itu dilatarbelakangi tuntutan persaingan global yang makin ketat, tapi bukankah tidak semua orang yang  kini jadi dosen, benar-benar bercita-cita jadi dosen sejak awal kuliahnya? Apakah di era sebelum tahun 2005, ada ‘tanda-tanda’ atau ‘firasat’  akan munculnya makhluk-makhluk bernama ‘LINIERITAS’, ‘RUMPUN ILMU’, ‘BIDANG ILMU’, dan sejenisnya yang harus dipertimbangkan saat orang akan kuliah S2 atau S3? Bukankah bisa kuliah S2 saja, bagi orang kampung seperti saya saat awal tahun 2001 itu, adalah anugrah tak terbayangkan? Siapa yang berpikir saat itu, bahwa nasib secara mengejutkan menjerembabkan kami dalam profesi sebagai dosen?

Tapi sudahlah, dunia memang terus berputar. Mau mengikuti putarannya, ataukah ingin terseok jauh ditinggalkannya?
Yah, ambil saja sisi positifnya. Mungkinkan itu adalah hikmah dibalik kegagalan saya mendaftar S3 Pendidikan Luar Sekolah di beberapa perguruan tinggi India? Negeri yang terkenal ‘kumuh’ tapi pendidikannya berkualitas tinggi sekaligus berbiaya murah itu, memang membuat saya ‘jengkel’.  Bagaimana tidak? Pada jurusan yang saya lamar, semua proses pendaftaran terpampang online di website kampusnya. Nama-nama pendaftar program PhD, semuanya secara detil disebutkan. Ada ratusan kandidat yang melamar. Setelah melalui seleksi berkas, latar belakang linieritas pendidikan, wawancara akademik dan kualitas proposal disertasinya, akhirnya dipilih mereka yang benar-benar memenuhi syarat. Berapa yang terpilih dari ratusan pelamar itu? Hanya TIGA ORANG. Gila! Dan, saya sudah pasti tidak termasuk diantara ketiga orang yang terpilih itu, karena memang hampir dari semua segi, tidak memenuhi kriteria mereka.

Tentu kita masih sangat bersyukur, ketika masih ada kampus-kampus di Indonesia yang ‘menjajakan program doktornya’ secara door to door, dan semuanya menjadi UGM…Universitas Gampang Masuknya…..hahaha

Ah, apakah itu berarti saya harus mengubur impian selama ini untuk bisa kuliah di luar negeri? Entahlah….tunggu saja apa kata sang sutradara. Yang jelas, bidang ilmu statistik pendidikan akan menjadi ‘rimba baru’ yang siap menyesatkan saya dalam belantaranya yang luas tak terkira. Terima kasih Dr. Muhammad Said, Anda telah memberikan pencerahan dalam dilema akademik saya selama ini, tapi juga jujur, menambah kegalauan saya.  Tak lupa, selamat datang kembali KUANTITATIF dalam kehidupanku….

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. Komang Widyana says:

    Osa.Syarat2 untuk Serdos apa saja pak,klo boleh tahu?…
    Semoga sukses untuk S3nya pak

Comments are closed.