Home » Krishna & Bhakti Yoga » Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadatnya? (Bagian 1)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadatnya? (Bagian 1)

sadhvi bhagavati

Pertanyaan itu justru muncul dalam percakapan saya dengan beberapa teman lama, yang kebetulan beragama Islam dan Kristen, beberapa waktu lalu. Saat kami membicarakan makin tebalnya kabut asap di Kota Palangka Raya, maka obrolanpun akhirnya menyinggung dua orang Hindu dari Ukraina – yang satu pilot, satu lagi teknisi helikopter – yang sedang berusaha memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah bersama Tim BNPB itu. Sejak awal September hingga akhir November 2014, mereka dikontrak untuk upaya memadamkan api dari udara. Mengetahui bahwa saya sering terlihat bersama kedua orang itu, maka rekan-rekan saya itupun mengutarakan rasa ingin tahunya.OLYMPUS DIGITAL CAMERA

”Kalau ‘orang bule’ masuk Hindu begitu, bagaimana cara sembahyangnya? Apakah mereka juga sembahyang ke pura? Sama tidak ibadahnya dengan ibadah umat Hindu di Bali, atau di Indonesia? Terus cara belajar dan mendalami agama Hindunya bagaimana?” begitulah tanya mereka penasaran.

Aha. Menarik juga pertanyaannya. Saya baru sadar, mengapa teman-teman saya itu sampai bertanya begitu. Karena mereka berlatar belakang Muslim dan Kristiani, yang cara beribadah umatnya relatif seragam di seluruh dunia. Jadi, kalau ada orang dari benua manapun masuk Islam atau Kristen, atau Katolik, pastilah ibadahnya tidak jauh-jauh dari sholat lima waktu, atau pergi kebaktian ke gereja pada hari minggu. Mereka juga mendalami Alquran, atau mendengar khotbah-khotbah bersumber dari Injil melalui para pendeta. Meski ada banyak mazab dalam Islam – bahkan kadang saling berperang fisik satu sama lain – , serta terdapat ratusan denominasi (sekte) dalam Kristen dan Katholik, tapi tetap saja cara peribadatan mereka relatif sama. Lalu, bagaimana dengan umat Hindu?

Tidak hanya sekali ini saja, saya juga pernah mendapat pertanyaan serupa dari teman-teman Hindu sendiri. Setelah membaca Majalah Media Hindu, mereka jadi tahu bahwa banyak orang dari benua Amerika, Eropa, Australia, dan Afrika, kini telah beralih menjadi penganut ajaran Veda, meski identitas baru itu tidak selalu tertulis di KTP atau passport mereka. Pertanyaannya, kalau mereka-mereka itu beragama Hindu, bagaimana cara sembahyangnya?

“Apakah mereka juga ber-trisandya dan muspa seperti kita? Juga, apa ada banten-banten atau sesaji dan upacara seperti kita Hindu di Indonesia?” begitulah salah satunya pertanyaan dari saudara-saudara saya yang kebetulan Hindu dari Jawa, dan sudah sekitar lima tahun terakhir ini berwiraswasta di Palangka Raya. Baginya, cara peribadatan umat Hindu di Indonesia yang beragam, tidak lagi mengherankan. Ritual umat Hindu di Bali yang sedikit berbeda dengan umat Hindu di Jawa, atau dengan umat Hindu di Kalimantan Tengah, sudah bisa mereka dipahami, karena adanya pengaruh perbedaan adat dan budaya yang mewarnai ajaran Hindu di masing-masing daerah itu.

“Saya kadang juga sempat berpikir…” lanjut saudara saya itu…”Khan, banyak orang Hindu di Indonesia yang pindah agama, salah satunya katanya karena menganggap cara sembahyang dan ritual Hindu itu rumit, ribet, dan dangkal… itu saya baca-baca dan dengar langsung dari teman-teman kita di Jawa yang pindah dari Hindu lho  Mas” ujarnya mencoba menjelaskan alasan pertanyaannya itu .

Lha, ini kok ternyata malah orang Barat masuk Hindu, apa mereka tidak merasakan keribetan seperti itu? Bagaimana dengan orang-orang bule yang menganut Hindu, apa saja yang mereka lakukan untuk menghayati ‘kehinduan mereka’dalam kesehariannya? Kalau sedang berada di rumah, seperti para pilot itu, apa yang mereka lakukan untuk ibadahnya? ” tanyanya bertubi-tubi…

***

rampuri baba

Pertanyaan dari teman beragama lain, dan saudara saya yang memang terlahir dalam keluarga Hindu di Jawa itu, cukup membuat saya merenung. Tapi saya juga tidak bisa menjawab secara memuaskan, karena memang ada beragam alasan mengapa ribuan orang Barat itu masuk Hindu.

Tapi, karena yang ditanya teman saya adalah dua orang Hindu dari Ukraina itu, maka saya mencoba menjawabnya sebatas yang saya tahu dari kedua orang itu. Sejak keduanya berada di Palangka Raya, memang boleh dikatakan hampir setiap hari saya berkomunikasi dengan mereka. Kebetulan, mereka memuja Sri Krishna karena awalnya membaca Bhagavad-gita, hampir serupa dengan latar belakang saya. Jadilah, kami selalu punya bahan untuk berbincang dan berdiskusi.

Selain beberapa kali mereka datang untuk ‘dharsan’ pada Sri Krishna dan sembahnyang bersama di rumah-rumah kami, saya juga sering diundang ke kamar mereka di hotel Aquarius, tempat Tim yang terdiri dari 6 orang Ukraina itu, menginap selama di Palangka Raya. Karena itulah, saya jadi bisa mengamati, apa saja yang dilakukan oleh ‘orang Hindu Bule’ itu dalam kegiatan ibadahnya.

Secara sederhana, berdasarkan yang sering saya ‘pergoki’, mereka melakukan kegiatan-kegiatan berikut untuk memelihara dan mempraktekkan ‘sraddha dan bhakti’ mereka (bersambung…)

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. Komang Widyana says:

    Bagus artikelnya pak, lho kok ada Prince Charles di sampulnya
    ?……

Comments are closed.