Home » Krishna & Bhakti Yoga » Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)

Berikut ini beberapa ‘cara ibadah’ yang saya amati dari ‘orang bule’, dua teman saya dari Ukraina yang sedang mengoperasikan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah itu…

Menjadikan Membaca sebagai Proses ‘Mendengar’ dan ‘Cara Ibadah’

Kegemaran membaca kedua orang teman Hindu dari Ukraina itu memang tidak diragukan lagi. Setiap malam, atau bahkan siang hari ketika kabut asap sangat pekat sehingga jarak pandang tidak memungkinkan mereka untuk terbang, maka membaca menjadi kegiatan utama mereka. Jalan-jalan atau nonton televisi, sepertinya sudah tidak lagi menarik bagi mereka. Mungkin sudah bosan juga, karena sudah sering mereka lakukan diberbagai negara sebelumnya…holy gadget

Hebatnya, mereka membaca dari apa saja, bisa ‘kitab suci’ dan terbanyak justru dari ‘tablet suci’ mereka. Saya biasa bergurau dengan mereka, karena Ipad mereka berisi banyak ajaran-ajaran suci, maka saya menyebutnya ‘tablet suci’ atau ‘Blackbarry suci”. Dalam tablet suci itulah hampir semua pengetahuan tentang Hindu, termasuk Bhagavad-gita, Bhagavata Purana, dan literatur penting lainnya, telah tersedia dalam terjemahan bahasa Rusia atau Ukraina. Luar biasanya, semua bahan bacaan itu – bisa dalam bentuk buku elektornik (e-book), artikel web, atau berbagai video dalam channel Youtube – ditulis dalam huruf atau alphabet Rusia, bukan dalam huruf Latin! Saya berani katakan, bahwa jumlah literatur dan sumber bacaan Hindu yang telah ditulis dalam huruf dan bahasa Rusia itu, jauh lebih banyak dari apa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Darimana saya tahu kegemaran mereka membaca itu? Ya, karena setiap kali saya bertemu keduanya, mereka selalu ‘lapor’ tentang apa yang barusan mereka baca. ‘Laporan’ itu biasanya berbentuk pertanyaan yang mereka ajukan pada saya, ketika ada hal yang mereka anggap masih mengganjal, atau kontroversial dari sudut pandang masyarakat luas. Maklumlah, mereka menganggap saya ‘lebih tua’ dari mereka, dan kenyataannya memang begitu. Saya lebih tua sepuluh tahun dari mereka, meski tinggi badan saya menyembunyikan kenyataan itu…hahaha…

me with mr dennis and mike

Terus terang, saya sering gelagapan dibuatnya. Apa yang mereka tanya, kerapkali hanya tertulis dalam buku-buku yang hanya pernah saya tahu judulnya, tanpa pernah melihat barangnya. Maklumlah, bahan-bahan bacaan atau literatur Hindu berbahasa Inggris, masih tergolong barang mewah bagi saya. Tidak punya tabungan dolar amerika atu Euro, atau kartu kredit dengan saldo aman untuk membelinya dari toko-toko buku luar negeri. Akhirnya, saat ‘adu bacaan’ begitu, saya selalu keok. Dan… harga buku yang tidak terjangkau oleh kantong saya, menjadi satu-satunya senjata pamungkas untuk membela diri, untuk menutupi kelemahan saya yang tidak gemar membaca 😉

Saat sambil berseloroh saya mempertanyakan apakah mereka tidak bosan membaca dan belajar agama setiap hari begitu, jawaban mereka sempat membuat saya terhenyak.

“Lho, bukankah membaca adalah salah satu dari sembilan proses dalam bhakti-yoga? Mengapa Anda masih mempertanyakannya?” sergah sang pilot.

“Membaca adalah proses bhakti yoga? Ah, yang benar? Saya baru mendengar ada ajaran seperti itu. Bagaimana bisa, dari mana sumbernya?” tanya saya jujur, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan balik seperti itu.

“Anda tahu tentang Nava-lakshana bhakti? Sembilan proses atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang disampaikan Pangeran Prahlad kepada ayahnya yang kejam, Hiranyakashipu itu?” tanya Mr.Dennis, teknisi helikopter yang sebelumnya pernah bertugas di Afghanistan selama empat tahun terakhir, sebelum penugasan mereka ke Indonesia saat ini.

“Yes, of course, I know about that” jawab saya. Bagi saya, kesembilan cara yang bisa dipilih oleh umat Hindu untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Tuhan itu, bukanlah hal yang baru. Sudah sering saya dengar, karena tokoh-tokoh pendarmawacana Hindu pun sering mengutip ayat-ayatnya, saat mereka berceramah di pura, atau menulisnya dalam buku-buku Hindu di Indonesia.

“Lihat ayat ini” kata Mr. Mike, sang pilot, sambil meminta saya memperhatikan ‘tablet suci’ nya. Dia memperlihatkan kitab Bhagavata Purana digital yang semuanya tertulis dalam huruf dan bahasa Russia, kecuali hanya ayat aslinya yang tetap dalam huruf Devanagari. Saya rasanya tidak asing dengan ayat Skanda 7, Adhyaya 5, Sloka 23-24 dari Srimad Bhagavatam itu.

sri-prahlada uvaca

sravanam kirtanam vishnoh

smaranam pada-sevanam

arcanam vandanam dasyam

sakhyam atma-nivedanam

iti pumsarpita vishnau

bhaktis cen nava-lakshana

kriyeta bhagavaty addha

tan manye ‘dhitam uttamam

Selama ini, terjemahan umum ayat itu dalam bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

“Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sri Visnu), dapat dilakukan dengan sembilan cara, yaitu sravanam (mendengar kebesaran-Nya), kirtanam (mengagungkan nama-Nya), smaranam (senantiasa mengingat-Nya), padasevanam (melayani kaki padma-Nya), arcanam (melakukan pemujaan dalam wujud Arca atau murti), vandanam (memanjatkan doa-doa), dasyam (pelayanan dan pengabdian diri), sakhyam (mengembangkan sikap persabatan dengan-Nya) dan atmanivedanam (penyerahan jiwa raga secara total kepada Tuhan).”

 

Mr. Mike lalu melanjutkan menjawab pertanyaan saya, mengapa membaca itu penting.

“Proses pertama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan adalah melalui Sravanam, bukan?” tanya Mr. Mike

“Ya, benar. Tapi, bukankah sravanam itu artinya adalah ‘proses mendengar’, bukan ‘proses membaca’? Bagaimana ‘mendengar’ itu lalu berubah menjadi ‘membaca’?” jawab saya sekaligus mempertanyakan. Entah bagaimana, karena hampir setiap hari bertemu, mendebat atau saling mempertanyakan pendapat dan peryataan seperti ini, seolah menjadi hal yang terbiasa bagi kami bertiga. Bukan untuk adu pintar atau merasa sok tahu, tapi sekedar sharing sejauhmana apa yang pernah kami ketahui.

“Memang benar, sravanam itu secara harfiah berarti mendengar….Tetapi, bukankah mendengar, itu tidak harus melalui telinga? Oke, untuk jaman dahulu, orang barangkali hanya bisa mendengar kebesaran Tuhan itu melalui proses mendengar langsung dari guru-guru suci. Itu ketika pembelajaran masih dilakukan melalui cara Upanisad, duduk di dekat kaki guru….” Mr. Mike menyambung memaparkan pemikirannya. Saya suka dengan cara pandangnya yang modern dan kontekstual begitu dalam membaca pesan kitab suci. Sayapun menyimak dengan seksama pelajaran spiritual dari seorang pilot….(bersambung)

mike and helidennis in heli

Loading Facebook Comments ...