Home » Krishna & Bhakti Yoga » Konsep Awatara dalam Hindu dan Kontroversinya

Konsep Awatara dalam Hindu dan Kontroversinya

 

Swami Krishnananda, dalam bukunya A Short History of Religious and Philosophic Thought in India (1994: 62) mengakui bahwa teori adanya awatara atau penjelmaan Tuhan (divine incarnation) ke dunia ini telah menjadi isu yang kontroversial dalam filsafat agama dan telah menjadi salah satu pertanyaan dan perdebatan menarik dalam kajian teologi atau ilmu ketuhanan. Bukan hanya menjadi pertanyaan bagi agama lain, beberapa sekte dalam Hindu sendiri pun tidak mengakui adanya konsep awatara tersebut.

Subramuniyaswami (1997: 601) menjelaskan bahwa di antara empat sekte terbesar Hindu, yaitu Saiwa, Waisnawa, Sakta, dan Smarta, sekte Saiwa tidak mengakui adanya doktrin awatara tersebut. Dalam hal ini, para penganut Saiwa menganggap tidak ada penjelmaan Tuhan yang hadir ke dunia ini. Sedangkan ajaran atau doktrin awatara, sangat dominan terutama dalam sekte Waisnawa atau pemuja Wisnu. Para Waisnawa meyakini, setidaknya ada sepuluh penjelmaan Wisnu yang telah muncul melakukan misinya di alam semesta ini. Dua sekte lainnya, yaitu Sakta dan Smarta meyakini bahwa Tuhan dan para dewa dapat saja menjelma ke bumi ini.

Mengapa Wisnu yang diyakini lebih banyak menjelma? Barangkali ini dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan konsep Tri Murti dalam Hindu. Brahma bertugas sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, sedangkan Siwa bertugas sebagai pengembali, pelebur alam semesta beserta isinya. Sebagai pemelihara alam semesta, wajarlah bila kemudian Wisnu yang harus lebih banyak ’terjun langsung’ mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan tetap terpeliharanya alam semesta dari gangguan-gangguan yang tidak diinginkan. Dua awatara Wisnu yang terkenal adalah Sri Ramachandra dan Sri Krishna. Kisah Ramayana dan Mahabhrata, yang berhubungan langsung dengan kisah kedua awatara itu sangat termashyur di seluruh dunia, dan di Indonesia, filsafat moral yang terkandung dalam kedua kitab itu menjadi pegangan hidup, khususnya bagi masyarakat Jawa penggemar wayang.

Perlu dicatat disini, bahwa dalam tradisi Waisnawa, kemunculan dan identitas awatara sejati Tuhan, telah dicatat atau diramalkan dalam kitab-kitab Weda. Kalau kemudian ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memaklumkan dirinya sebagai awatara atau penjelmaan Tuhan, tidak dengan serta merta klaim itu bisa diterima. Memang sangat disayangkan, di mana-mana seolah telah menjadi trend, orang yang memiliki kemampuan spiritual atau kesaktian bhatin sebagai hasil dari belajar yoga, sering mengaku dan mempermaklumkan dirinya sebagai Tuhan, atau utusan Tuhan kepada masyarakat awam. Kenyataan ini telah menimbulkan kesan negatif dalam benak masyarakat, yang menganggap konsep awatara sebagai sesuatu yang menyesatkan.

Tapi, kecenderungan itu bukan hanya terjadi dalam Hindu. Kita sering mendengar kasus-kasus dalam media masa, dimana ada orang tertentu yang mengaku dan memaklumkan kepada dunia bahwa dirinya adalah Imam Mahdi, Mesiah, atau Nabi Isa yang telah diramalkan dalam Injil dan Al-Qur’an, akan menjelma ke dunia menjelang terjadinya kiamat. Ada yang mengaku sebagai penjelmaan Malaikat Jibril, ada yang mengaku sebagai Kalki awatara, penjelmaan Wisnu, walaupun dia sendiri beragama Islam ataupun Kristen. Sekali lagi, kasus-kasus seperti inilah yang turut memunculkan kesan dan prasangka negatif terhadap konsep awatara dalam Hindu.

Karena itu, jangan heran bila kemudian ada yang melontarkan pendapat seperti berikut ini :

“Negeri India merupakan pusat berkumpulnya ribuan dukun dan “orang suci”. Kondisi seperti ini tentunya semakin menambah daya pikat bagi manusia di berbagai belahan dunia untuk mengetahui siapa sebenarnya “Sang Avatar Sejati”. Kalau boleh disimpulkan ….adalah raja dari segala raja dukun. Di India sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki kesaktian dan kemampuan di luar kebiasaan. Dewa yang disembah oleh penduduk India juga beragam. Hal ini juga didukung dengan berbagai sarana dan infrastruktur yang tersedia. Peran media audiovisual dan film-film yang beredar juga sangat kental dengan acara mistik dan kisah-kisah Mahabharata. Dengan demikian, penduduk India sudah sangat akrab dengan dunia klenik dan perdukunan.”

                                   Dari buku ‘Dajjal Sudah Muncul dari Khurasan” karya Abu Fatiah Al-Adnani (2006: 243)

Konsep Awatara dalam Bhagavad-gita

Sebagaimana telah disebutkan, konsep adanya awatara Tuhan dominan diyakini dalam tradisi Waisnawa, atau pemuja Wisnu. Karena itu, kita akan banyak merujuk pada kitab-kitab Waisnawa dalam upaya menelusuri sumber-sumber ajaran tentang awatara tersebut. Dua kitab utama Waisnawa adalah Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana. Perlu diketahui pula, bahwa dalam Waisnawa sendiri terdapat empat sampradaya atau garis perguruan utama, yang sedikit berbeda dalam penafsirannya terhadap hubungan antara Wisnu, Nârâyana, Krishna, dan para makhluk hidup atau jiwa. Perbedaan itu misalnya terletak dalam siapa yang dipuja, dan bagaimana kedudukan jiwa dan hubungannta dengan Tuhan.

Satguru Sivaya Subramuniya Swami (1997: 750) menyebutkan bahwa bagi Gaudiya Waisnawa, yaitu Waisnawa yang berasal dari garis perguruan Caitanya (1486-1533) dan berkembang di wilayah sekitar Benggala, Sri Krishna bukan hanya awatara Wisnu, melainkan adalah Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Memang, dalam Hindu, terdapat dua paham ketuhanan. Pertama, paham bahwa Tuhan itu tidak berwujud, tidak memiliki sifat (Nirguna Brahman). Kedua, adalah paham bahwa Tuhan itu memiliki wujud rohani (Saguna Brahman). Istilah yang sering digunakan untuk menamai kedua paham itu adalah aspek impersonal Tuhan, dan aspek personal Tuhan. Kedua paham ini memang memiliki dasarnya masing-masing dalam sloka-sloka Weda.

Marilah kita mulai dengan mengkaji ajaran awatara dalam Bhagavad-gita. Agar sesuai dengan tujuan kita memahami pengertian awatara menurut Bhagavad-gita, kita akan mengacu pada edisi terjemahan Bhagavad-gita karya A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, salah satu acarya dalam garis perguruan Gaudiya Waisnawa, yaitu Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Pengertian “Menurut Aslinya” dalam hal ini adalah berkaitan dengan amanat rohani yang asli, yang menjadi tujuan Sri Krishna menyabdakan Bhagavad-gita, sebagaimana yang dipahami dan dihayati oleh para guru suci pengajar Bhagavad-gita. Hal ini penting dipahami, mengingat saat ini ada ribuan terjemahan Bhagavad-gita, dengan penafsiran yang beragam, sesuai dengan latar belakang dan motif penterjemahnya. Seringkali dalam terjemahan dan penafsiran seperti itu, amanat rohani Bhagavad-gita sebagaimana yang dipahami oleh Arjuna dari Sri Krishna menjadi tersamar atau bahkan hilang. Tidak jarang, setelah membaca terjemahan seperti itu, para pembaca justru dibingungkan mengenai apa sesungguhnya amanat Bhagavad-gita.

Alasan lain mengapa Bhagavad-gita Menurut Aslinya dipilih untuk referensi dalam pembahasan ini adalah adanya pendapat para sarjana dan filosof seperti berikut ini.

“Di dunia Barat, tidak ada sastra Timur yang lebih sering dikutip daripada Bhagavad-gita, sebab Bhagavad-gita lah yang paling dicintai. Menterjemahkan karya seperti ini tidak hanya memerlukan keahlian dalam bahasa Sanskerta, tetapi juga keserasian batin tentang tema dan seni sastra. Sebab sanjak Bhagavad-gita adalah simponi. Dalam simponi itu Tuhan Yang Mahaesa dilihat dalam segala sesuatu.

Om Vishnupada A.C. Bhaktivedanta Swami tentu saja mempunyai rasa simpati yang mendalam dengan tema Bhagavad-gita. Disamping itu, Beliau membawa pengertian yang istimewa, suatu penyampaian yang perkasa dan meyakinkan menurut tradisi bhakti…Swami Bhaktivedanta sungguh-sungguh berjasa kepada para siswa dengan memberi arti segar pada epos yang tercinta ini. Biar bagaimanapun pandangan kita, hendaknya kita semua bersyukur atas bhakti yang telah mewujudkan karya ini yang penuh cahaya.”

Dr. Geddes MacGregor,

Emeritus Distinguished Professor of Philosophy

University of Southern California, Amerika Serikat

 

“Saya sangat terkesan dengan edisi Bhagavad-gita hasil karya A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Edisi ini sesuai dengan taraf kesarjanaan dan dapat dipercaya. Buku ini adalah buku yang sangat berharga baik bagi para sarjana maupun orang awam dan sangat berguna sebagai buku pelajaran serta bahan mata kuliah. Saya segera dapat menganjurkan supaya edisi ini dimiliki oleh murid-murid saya. Isi dan perwajahan buku ini indah sekali.”

Dr. Samuel D. Atkins

Professor of Sanskrit, Princeton University, Amerika Serikat.

Salah satu kelebihan Weda adalah, orang boleh mempertanyakan atau meragukan pernyataan-pernyataan Weda yang dianggap meragukan dan kontroversial, tanpa harus orang itu dihakimi sebagai murtad atau menentang kehendak Tuhan. Itulah yang terjadi pada Arjuna. Ketika Sri Krishna menyatakan bahwa jutaan tahun sebelumnya, ajaran Bhagavad-gita yang sama pernah disabdakan oleh Sri Krishna kepada Wiwaswan (Dewa Matahari) dan kemudian Wiwaswan mengajarkannya kepada Manu, leluhur manusia (Gita 4.1-2), Arjuna memprotes pernyataan itu. Bagaimana mungkin Sri Krishna yang sebaya dengan Arjuna telah menyabdakan ajaran itu kepada Wiwaswan, yang menurut kelahiran, jauh mendahului mereka?

Menjawab protes Arjuna itu, Sri Krishna lalu menjelaskan dengan menjawab sebagai berikut :

 

śrī-bhagavān uvāca
bahūni me vyatītāni
janmāni tava cārjuna
tāny ahaṁ veda sarvāṇi
na tvaṁ vettha paran-tapa

Sri Krishna bersabda : engkau dan Aku sudah dilahirkan berulang kali. Aku dapat ingat segala kelahiran itu, tetapi engkau tidak dapat ingat, wahai penakluk musuh (Gita 4.5)

 ajo ’pi sann avyayātmā
bhūtānām īśvaro ’pi san
prakṛtiṁ svām adhiṣṭhāya
sambhavāmy ātma-māyayā

 

Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku Penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap zaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli (Gita 4.6)

Dalam ulasan dan penjelasannya terhadap kedua sloka di atas, Bhaktivedanta Swami menguraikan sebagai berikut :

Krishna sudah membicarakan keistimewaan kelahiranNya: walaupun Krishna barangkali kelihatannya seperti orang biasa, namun Krishna ingat segala sesuatu dari banyak “kelahiran-kelahiran-Nya” dari masa lampau, sedangkan manusia biasa tidak dapat ingat apa yang telah dilakukannya beberapa jam saja sebelumnya. Kalau orang biasa ditanya apa yang dilakukannya tepat pada jam yang sama sehari sebelumnya, sulit sekali ia menjawab dengan segera. Pasti dia harus memeras ingatannya untuk mengenang apa yang sedang dilakukannya tepat pada jam yang sama satu hari sebelumnya…Kemudian sekali lagi Krishna menjelaskan tentang prakåti atau bentuk Beliau. prakåti berarti alam dan juga berarti svarûpa, atau “bentuk diri seseorang”. Krishna menyatakan bahwa Beliau muncul dalam badan-Nya Sendiri. Krishna tidak menggantikan badan-Nya, seperti makhluk hidup biasa yang berpindah-pindah dari satu badan ke dalam badan yang lain. Meskipun roh terikat mempunyai salah satu jenis badan dalam penjelmaannya sekarang, tetapi ia mempunyai badan yang berbeda pada dalam penjelmaan yang akan datang. Di dunia material, makhluk hidup tidak mempunyai badan yang tetap, melainkan ia berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain. Akan tetapi, Krishna tidak melakukan demikian. Bilamana Krishna muncul, Krishna muncul di dalam badan asli yang sama, melalui kekuatan rohani yang dimiliki oleh Beliau. Dengan kata lain, Krishna muncul persis dalam badan-Nya yang kekal, tidak dicemari oleh dunia material ini. Walaupun Krishna muncul dalam badan rohani yang sama dan walaupun Krishna adalah Penguasa alam semesta, kelihatannya Beliau dilahirkan seperti makhluk hidup biasa. Kendatipun badan Krishna tidak merosot seperti badan material, masih ada kesan seolah-olah Sri Krishna mengalami pertumbuhan dari masa bayi sampai masa kanak-kanak dan dari masa kanak-kanak sampai masa remaja. Pada waktu perang Kuruksetra, cucu Krishna sudah banyak dirumah-Nya, atau dengan kata lain, usia Krishna sudah cukup lanjut menurut perhitungan material. Tetapi badan Krishna masih seperti seorang pemuda yang berumur dua puluh atau dua puluh lima tahun. Kita tidak pernah melihat gambar Krishna dalam usia tua, karena Krishna tidak pernah menjadi tua seperti kita, walaupun Krishna adalah kepirbadian tertua dalam seluruh ciptaan – masa lampau, masa sekarang, maupun masa yang akan datang. Badan dan kecerdasan Krishna juga tidak pernah merosot atau berubah. Karena itu, cukup jelas, walaupun Krishna berada di dunia material, Krishna adalah bentuk kekal kebahagiaan dan pengetahuan yang sama dan bentuk yang kekal itu tidak dilahirkan. Badan dan kecerdasan rohani Krishna juga tidak pernah berubah. Sebenarnya, Krishna muncul dan menghilang bagaikan matahari yang terbit, bergerak di hadapan kita, kemudian hilang dari penglihatan kita. Apabila matahari tidak kelihatan, kita berpikir bahwa matahari sudah terbenam, dan apabila matahari berada di hadapan mata kita, kita berpikir bahwa matahari berada di kaki langit. Sebenarnya, matahari selalu berada pada kedudukan yang tetap, tetapi oleh karena mata kita mempunyai kelemahan dan kurang kuat, kita memperhitungkan muncul dan tenggelamnya matahari di langit. Oleh karena itu, muncul dan menghilangnya Sri Krishna sama sekali berbeda dari muncul dan menghilangnya makhluk hidup biasa manapun, terbukti bahwa Krishna adalah pengetahuan kekal penuh kebahagiaan atas kekuatan dalam dari Dirinya – dan Beliau tidak pernah dicemari oleh alam material. Weda juga membenarkan bahwa Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa tidak dilahirkan namun kelihatannya Beliau dilahirkan dalam banyak manifestasi. Kesusasteraan pelengkap Weda juga membenarkan bahwa walaupun rupanya Krishna dilahirkan, Beliau tetap tidak menggantikan badan-Nya. Dalam sejarah Bhagavata Purana atau Srimad Bhagavatam, diuraikan bahwa Krishna muncul di hadapan ibu-Nya sebagai Nârâyana, berlengan empat, lengkap dengan perhiasan, enam jenis kehebatan sepenuhnya. Krishna muncul dalam bentuk kekal Beliau yang asli. Itu merupakan karunia Beliau yang tiada sebabnya, dianugerahkan kepada para makhluk hidup supaya mereka dapat memusatkan pikiran kepada Tuhan Yang Mahaesa dalam bentuknya yang asli, bukan hanya pada angan-angan atau bayangan. Orang yang tidak percaya pada bentuk pribadi Tuhan menyalahtafsirkan dan menganggap bentuk-bentuk Krishna adalah angan-angan atau bayangan seperti itu. Kata mâyâ atau âtma-mâya, menunjukkan karunia Krishna yang tiada sebabnya, menurut kamus Visvakosa. Krishna menyadari segala peristiwa pada waktu Beliau muncul dan menghilang dahulu kala, tetapi begitu makhluk hidup biasa mendapat badan jasmani lain, ia melupakan segala sesuatu tentang badan yang dimilikinya pada masa lampau. Krishna adalah Tuhan Yang Mahaesa, penguasa semua makhluk hidup karena Krishna melakukan kegiatan ajaib yang melampaui kekuatan manusia selama Beliau berada di muka bumi ini. Karena itu, Krishna selalu tetap sebagai Kebenaran Mutlak yang sama tanpa perbedaan antara sifat Beliau dan badan Beliau…”

Selanjutnya, Sri Krishna menjelaskan mengapa Tuhan harus menjelma ke dunia ini :

 yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata
abhyutthānam adharmasya
tadātmānaṁ sṛjāmy aham

 

Kapan pun dan di manapun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela – pada waktu itulah Aku Sendiri menjelma, wahai putra keluarga Bharata. (Gita 4.7)

 

Ungkapan ’såjämy aham’ berarti ’Aku menurun’ atau ’Aku menjelma’. Sabda inilah yang menjadi dasar ajaran adanya penjelmaan atau awatara Tuhan dalam Hindu. Kata ’awatara’ berasal dari bahasa Sanskerta avatâra. Bhaktivedanta Swami memberikan definisi avatâra sebagai berikut : “Avatâra—literally means “one who descends.” A partially or fully empowered incarnation of the Lord who descends from the spiritual sky to the material universe with a particular mission described in scriptures.” Jadi awatara secara harfiah berarti “orang yang menurun”, penjelmaan yang dikuasakan secara penuh atau secara sebagian dari Tuhan yang turun dari alam rohani ke alam material ini untuk menjalankan misi tertentu, sesuai dengan yang diuraikan dalam kitab suci.

Adapun misi dari penjelmaan-penjelmaan itu, dijelaskan Krishna pada sloka berikutnya :

 paritrāṇāya sādhūnāṁ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saṁsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge

 

Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat, dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku muncul pada setiap jaman. (Gita 4.8)

Jadi, berdasarkan sloka di atas, ada tiga misi utama yang diemban oleh penjelmaan Tuhan atau seorang awatara, yaitu : 1) menyelamatkan orang saleh; 2) membinasakan orang jahat; dan 3) menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma.

Kalau kita pelajari, dalam kisah-kisah para nabi dan rasul Kristen dan Islam, mereka juga mengemban tugas yang sama seperti yang disabdakan oleh Sri Krishna. Mereka muncul pada masa-masa krisis, dan kedatangannya adalah sebagai utusan Tuhan untuk menyelesaikan krisis yang dihadapi oleh komunitas yang mendiami wilayah tertentu, dan pada jaman tertentu pula.

Misalnya, Nabi Musa diyakini diutus untuk membinasakan Raja Fir’aun yang zalim, dan menerima wahyu Tuhan yang dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah. Sepuluh Perintah ini kemudian menjadi dasar berdirinya agama Yahudi, agama bangsa Israel. Ketika ribuan tahun kemudian, terjadi penyimpangan pada agama Yahudi, datanglah Yesus atau Nabi Isa untuk memperbaiki situasi itu, dan dari sini lahirlah agama Kristen. Begitu pula, Nabi Muhammad datang pada jaman Jahiliyah yang melanda kawasan Arab pada sekitar abad kelima dan keenam Masehi. Sesuai dengan tuntutan keadaan jaman masa itu, maka dalam rangka kembali menegakkan prinsip-prinsip dharma, wahyu-wahyu Tuhan dalam Al-Qur’an berisi perintah dan larangan yang sesuai dengan konteks jaman Jahiliyah itu. Seperti telah disampaikan pada bagian terdahulu, kelahiran Islam dianggap sebagai kritik dan koreksi terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Nasrani.

Awatara-Awatara Wisnu dalam Kitab Bhagavata Purana

Bhagavata Purana atau dikenal pula sebagai Srimad Bhagavatam, adalah sumber ajaran terpenting bagi para Waisnawa. Berdasarkan keterangan yang terdapat dalam kitab ini sendiri, Bhagavata Purana disusun oleh Rsi Wyasa, atau Rsi Badarayana setelah Beliau mengkodifikasi Catur Weda, dan menyusun Mahabharata. Visvanathan dalam bukunya Tanya Jawab Hindu Bagi Pemula (Sanjaya & Maswinara, 2001: 106) menguraikan Bhagavata Purana sebagai berikut :

         “…Kitab ini berisikan 18.000 sloka dan dua belas bab yang dikenal sebagai skanda. Kitab ini ditulis oleh Rsi Badarayana, yang juga dikenal sebagai Vedavyâsa. Pendiri utama kitab Srimad Bhâgavatam ini adalah Rsi Suka (Sukadeva Goswami), putra Vedavyâsa. Kitab ini diceritakan kepada Raja Pariksit, penerus terakhir dinasti para Pandawa, oleh Rsi Suka, tujuh hari sebelum kematian sang raja oleh ular Taksaka yang telah diramalkan sebelumnya. Kebanyakan buku ini berisikan dialog antara Raja Pariksit dan Rsi Suka. Srimad Bhagavatam terdiri dari berbagai kisah tentang awatara Wisnu. Sepuluh bab dalam kitab ini berisikan kisah tentang Krishna awatara secara mendetail. Bab terakhir berisikan penjelasan tentang kisah Kaliyuga, masa sekarang dan awatara Wisnu yang terakhir yaitu Kalki. Juga ada penjelasan yang detail tentang pralaya, penghancuran total, pada bab terakhir…”

Dalam kitab inilah disebutkan bahwa sebenarnya, awatara Tuhan tak terhitung jumlahnya. Ini sesuai dengan uraian Weda, bahwa penciptaan dan peleburan alam semesta ini adalah sebuah siklus yang berlangsung terus menerus, dan ada jutaan alam semesta material. Para ilmuwan mengatakan bahwa bumi adalah bagian dari Galaksi Bimasakti. Sedangkan Galaksi Bimasakti sendiri hanyalah salah satu dari jutaan galaksi yang hingga saat ini belum banyak diketahui oleh jangkauan ilmu pengetahuan manusia.

Walaupun para ilmuwan masih meragukan ada tidaknya kehidupan dalam planet-planet dalam jutaan galaksi itu, tetapi kitab-kitab Weda secara tegas menyebutkan bahwa ada berbagai jenis kehidupan dalam planet-planet tersebut. Tentu saja, jenis kehidupan yang ada di sana disesuaikan dengan dimensi atau sifat-sifat masing-masing planet itu. Rasanya, tidaklah sulit memahami adanya berbagai dimensi planet dan dimensi jenis kehidupannya. Bukankah kita mengenal istilah ’alam lain’, ’dunia lain’, ’alam gaib’ dan ’makhluk halus’ untuk menyebut adanya jenis makhluk hidup beserta alamnya yang tidak kasat mata di sekitar kita?

Karena itulah, awatara atau penjelmaan Tuhan dapat mengambil wujud berbagai spesies atau jenis kehidupan. Pengambilan wujud itu disesuaikan dengan tuntutan misinya. Sehubungan dengan sifat-sifat awatara, Danavir Goswami (2000: 133) mengutip Bhaktivedanta Swami menjelaskan sebagai berikut :

       Avatâra means ’one who descends’. All the incarnations of the Lord, including the Lord Himself, descend on the different planets of material world as also in different species of life to fulfill particular missions. Sometimes He comes Himself, and sometimes His different plenary portions or parts of the plenary portions, or his differentiated portions directly or indirectly empowered by Him, descend on this material world to execute certain specific functions. Originally, the Lord is full of opulences, all prowess, all fame, all beauty, all knowledge, and all renunciation. When they are partly manifested through the plenary portions or parts of the plenary portions, it should be noted that certain manifestations of His different powers are required for those particular functions. When in the room small electric bulbs are displayed, it does not mean that the electric power house is limited by the small bulbs. The same powerhouse can supplay power to operate large-scale industry dynamos with greater volts. Similiarly, the incarnation of the Lord display limited powers because so much power is needed at that particular time.”

Terjemahan bebasnya :

         Awatara berarti ‘dia yang menurun atau menjelma’. Semua penjelmaan Tuhan, termasuk Tuhan sendiri, menurun ke berbagai planet di dunia material ini dan juga muncul dalam berbagai spesies atau bentuk kehidupan untuk memenuhi misi-misi tertentu. Kadang-kadang Tuhan hadir secara langsung, dan kadang-kadang penjelmaan-penjelmaan Beliau yang diberikan kekuasaan secara penuh (luar biasa), atau sebagian kecil kekuasaan baik secara langsung maupun tidak langsung, muncul di dunia material ini untuk menjalankan sebuah tujuan khusus tertentu. Sesungguhnya Tuhan memiliki sifat-sifat maha hebat, maha kaya, penuh kemashyuran, maha indah, penuh pengetahuan, dan penuh ketidakterikatan dalam kapasitas yang tiada batas. Ketika sifat-sifat yang tiada batas itu diwujudkan secara sebagian melalui utusan-utusan yang dikuasakan secara penuh atau secara sebagian, harus dicatat bahwa memang pada saat itu perwujudan khusus dari berbagai kemahakuasaan Beliau dibutuhkan sesuai taraf kebutuhan dari misi tertentu itu. Ketika dalam sebuah ruangan, sebuah bola lampu kecil menyala, tidak berarti bahwa kemampuan atau daya pembangkit listrik yang menyalakan lampu itu hanyalah sebesar daya yang ditampilkan oleh bola lampu yang kecil tersebut. Pembangkit listrik yang sama dapat menyuplai daya yang mampu mengoperasikan dinamo-dinamo industri berskala besar dengan tegangan yang jauh lebih tinggi. Begitu pula, penjelmaan-penjelmaan Tuhan memperlihatkan kekuasaan atau kehebatan yang terbatas, karena memang hanya sejauh itu kekuasaan itu dibutuhkan pada keadaan atau situasi tertentu.”

Jenis-Jenis Awatara

Secara umum, umat Hindu hanya mengetahui bahwa ada sepuluh awatara Wisnu. Dari sepuluh itu, sembilan sudah muncul, sedangkan yang satu lagi masih dinantikan kedatangannya. Tapi sebenarnya, selain sepuluh awatara itu, dalam Bhagavata Purana juga diuraikan awatara-awatara lainnya. Termasuk pula disebutkan klasifikasi atau jenis-jenis awatara, sesuai dengan sumber asalnya, dan misinya masing-masing.

Danavira Gosvami (2000: 134) menyebutkan ada 6 jenis awatara sebagai berikut :

  1. Purusa-awatara : awatara yang berhubungan dengan tugas-tugas penciptaan alam semesta. Awatara itu adalah : Karanodakasayi Wisnu, Garbhodakasayi Wisnu dan Ksirodakasayi Wisnu
  2. Lilâ-avatâra, kata ’lilâ’ secara harfiah berarti ‘permainan atau kegiatan Ilahi’, terdiri dari 25, yaitu : Catur Kumara, Narada, Varaha, Matsya, Kurma, Vamana, Yajna, Nara-Narayana, Kapila, Dattâtreya, Hayasirsa, Hamsa, Dhruvapriya, Rsabha, Prthu, Nrsimha, Dhanvantari, Mohini, Parasurama, Raghavendra, Vyasa, Balarama, Krishna, Buddha, Kalki.
  3. Guna-avatâra, yaitu awatara yang bertugas sebagai penguasa sifat-sifat alam, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Siwa.
  4. Manvantara-avatâra, yaitu awatara yang bertugas menjadi berbagai Manu dalam satu siklus hidup Dewa Brahma. Ada 14 Manu dalam satu hari bagi Brahma.
  5. Yuga-avatâra, yaitu awatara yang khusus muncul pada setiap Yuga atau jaman, dengan ciri-ciri warna badan: 1) sukla (putih) pada Satya-Yuga; 2) rakta (merah) pada Treta-Yuga; 3) syâma (biru awan) untuk Dvapara-Yuga; dan 4) krisna (hitam) atau kadang pita (kuning) keemasan pada jaman Kali-Yuga
  6. Saktyavesa-avatâra, yaitu makhluk atau jiwa yang dipilih dan diberikan kekuatan dan kekuasaan tertentu oleh Tuhan untuk menjalankan misi khusus di bumi ini. Contoh jenis awatara seperti ini adalah para nabi dan rasul yang dipilih sebagai utusan Tuhan untuk menerima wahyu dan menyebarkan agama tertentu.

Setelah menguraikan berbagai awatara beserta kegiatan serta misinya masing-masing, Rsi Suka, putra Vyasa menyatakan, bahwa walaupun Krishna juga muncul ke dunia ini, sama seperti awatara lainnya, tetapi sesungguhnya Krishna adalah avatâri, atau sumber segala awatara. Dalam Bhagavata Purana 1.3.28, identitas Krishna itu dinyatakan sebagai berikut:

 ete cāṁśa-kalāḥ puṁsaḥ
kṛṣṇas tu bhagavān svayam
indrāri-vyākulaṁ lokaṁ
mṛḍayanti yuge yuge

 

Terjemahan :

All of the above-mentioned incarnations are either plenary portions or portions of the plenary portions of the Lord, but Lord Sri Krishna is the original Personality of Godhead. All of them appear on planets whenever there is a disturbance created by the atheists. The Lord incarnates to protect the theists.

“Semua penjelmaan tersebut adalah bagian dari penjelmaan penuh, ataupun bagian dari bagian penjelmaan penuh Tuhan, tetapi Sri Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Semua penjelmaan itu muncul di berbagai planet kapanpun terjadi gangguan yang ditimbulkan oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Tuhan menjelma untuk melindungi orang yang percaya kepada Tuhan.”

 

Sekali lagi, anggapan bahwa Weda bukan wahyu Tuhan tidaklah beralasan. Anggapan itu muncul hanya karena kurangnya pemahaman terhadap konsep awatara dalam Weda. Dalam kitab-kitab Weda, meyakini adanya awatara Tuhan juga tidak dianggap sebagai perbuatan melecehkan ataupun menyekutukan Tuhan. Karena pada dasarnya, Tuhan Yang Mahaesa adalah maha segalanya, dan batasan-batasan yang diberikan oleh manusia tidak akan mampu benar-benar membatasi atau bahkan mengurangi keagungan dan kemahakuasaan Tuhan.

 avajānanti māṁ mūḍhā
mānuṣīṁ tanum āśritam
paraṁ bhāvam ajānanto
mama bhūta-maheśvaram

 

“Orang yang bodoh menjelekkan Diriku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Mahaesa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada”.(Sri Krishna dalam Bhagavad-gita 9.11)

 

Seolah tidak mendapat tempat sama sekali dalam kancah         teologi agama-agama Abrahamik, keyakinan umat Hindu
tentang adanya awatara atau penjelmaan Tuhan ke dunia ini dianggap dan disebut oleh mereka sebagai tindakan menyekutukan Tuhan!   Apakah sloka di atas, yang disabdakan Sri Krishna ribuan tahun yang lalu, adalah antisipasi untuk tuduhan seperti itu?

Banggalah menjadi Hindu!

 

Referensi :

Abdullah, Mudjoni & Azhari, Siswahyudi. 2005. Kekeliruan Teori Big Bang Ditinjau dari Kosmologi Al-Qur’an. Jakarta, Yayasan Majelis Ta’lim HDH

Al-Adnani, Abu Fatiah. 2006. Dajjal ’Sudah Muncul dari Khurasan. Solo: Granada Mediatama.

 Bhaktivedanta Swami, A. C. 1982. Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Jakarta : Bhaktivedanta Book Trust Indonesia.

 ——————————— .1978. Srimad Bhagavatam. Bhaktivedanta Book Trust, USA.

Hart, Alvin V.P. & Satyaraja dasa Adhikari. 1989. Krishna Consciousness and Christianity. East-West Dialogue. New York, Steven J. Rosen.

Jabir, Akif Manaf. 1997. The Hidden Treasure of Al-Qur’an. Benggala: The Dabir Khas Book Trust.

Sanjaya, Gde Oka & Maswinara, I Wayan (Eds). 2001.Tanya Jawab Hindu untuk Pemula. Surabaya, Paramitha

 

 Satsvarupa das Gosvami. 1977. Element of Vedic Thought and Culture. USA, Bhaktivedanta Book Trust.

 Subramuniyaswami, Satguru Sivaya. 1997. Dancing With Siva. USA, Himalayan Academy.
Tim Penyusun KWI. 1996. Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta,Kanisius-Obor.

 

Tim Penterjemah Al-Qur’an. 1984. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia.

Woodward, Mark R.. 1999. Islam Jawa. Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Yogyakarta, LKiS.

 

 

 

Loading Facebook Comments ...

2 Comments

  1. Raihan says:

    Terlalu panjang dan bertele-tele ulasannya…

  2. agusman says:

    menarik!!

Comments are closed.