Home » Krishna & Bhakti Yoga » Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Begitulah. Kita harus maklum, ternyata masih ada anggapan bahwa umat Hindu menyekutukan Tuhan, hanya karena umat Hindu meyakini adanya awatara. Jadi, bukan hanya cara sembahyang umat Hindu yang menggunakan arca Tuhan yang mereka sebut menyekutukan Tuhan, bahkan keyakinan adanya titisan atau penjelmaan Tuhan pun   dianggap sebagai sebuah perbuatan syirik.

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa ketersesatan dan dosa terbesar tak terampuni bagi manusia, adalah perbuatan menyekutukan Allah. Menyekutukan Tuhan atau mempersamakan Tuhan dengan apapun adalah perbuatan syirik. Woodward dalam bukunya Islam Jawa (1999 : 122) mengutip kupasan Dr. Husaini A. Majid Hasyim, seorang sarjana santri kontemporer yang berkaitan dengan perbuatan menyekutukan Allah. Husaini mengutip surat Al-Ikhlas, dan kemudian menyimpulkan bahwa yang dilakukan umat agama lain adalah ’tidak lurus’ :

         “…seperti yang ia tegaskan sendiri dalam surat al-Ikhlas di mana Ia menyatakan bahwa :”Katakanlah : Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tiada seorang pun yang setara dengan Dia.”

         Atas dasar ayat pertama itu, maka seluruh manusia harus cenderung kepada agama Islam dengan meninggalkan agama-agama lain. Sebagaimana halnya kita diharuskan ikhlas kepada Allah dalam berakidah, kita juga diharuskan ikhlas kepada Allah dalam beribadah, seperti salat dan zakat, dan itulah agama yang lurus.”

Woodward menyebutkan bahwa kupasan Dr. Husaini tersebut sebenarnya merupakan kritik tersembunyi yang ditujukan terhadap Islam yang banyak dipraktekkan orang Jawa, yang dianggap telah banyak menyimpang karena pengaruh ajaran kejawen. Di kalangan orang Islam Jawa, ada tradisi pemujaan kepada para wali. Kendati pemujaan kepada wali menjadi bagian penting dari paham pemujaan (devotionalism) santri, namun kebanyakan kiai merasa bahwa orang Jawa telah menyelewengkannya ke pemujaan roh-roh dan fenomena alam. Sebagaimana kita ketahui, ajaran kejawen juga banyak mendapat pengaruh dari ajaran Hindu dan Buddha di Indonesia pada masa lampau. Tentu saja, kritik tersebut juga berlaku bagi keyakinan dan cara peribadatan yang dilakukan oleh orang Hindu.

Sumber Perdebatan: Yesus adalah Inkarnasi Allah

Kiranya, cukup penting untuk diketahui sumber persoalan yang dikaitkan dengan turunnya Surah Al-Ikhlas tersebut. Adanya penegasan bahwa Allah itu Esa, tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan sering dianggap sebagai kritik terhadap paham ketuhanan Kristen yang meyakini Allah sebagai Tritunggal. Bahwa menurut iman Kristiani, Allah memang maha esa dan maha tunggal, tetapi dalam melaksanakan karya-keselamatan-Nya di dunia ini menunjukkan sifat Tritunggal (Trinitas). Dalam buku Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi (1996) diberikan penjelasan mengenai paham Trinitas tersebut.

         “Keyakinan monoteis orang Kristen disertai pula dengan keyakinan bahwa Allah itu tidak hanya berada di sorga sebagai Pencipta (asal-usul segala ciptaan) yang Maha Kuasa yang jauh dari ciptaan-Nya, melainkan juga sebagai Allah yang aktif memasuki kancah kehidupan di dunia, dan memberikan banyak pengaruh bagi terjadinya pertumbuhan, perkembangan, dan kehidupan baru di muka bumi ini.Ini ibarat matahari, yang tidak hanya berada jauh di atas sana, melainkan juga memancarkan berkas-berkas cahaya dan menimbulkan panas-kehangatan yang mempengaruhi kehidupan di bumi. Begitupula Allah dalam pandangan umat Kristen diyakini hanya ada Satu, tetapi Allah yang Satu itu selain sebagai Bapa disurga juga sebagai Allah yang memancarkan rahmat-sabda-kasih-kebaikan-Nya secara nyata kepada manusia (Allah Putera). Yesus Kristus adalah Allah Putera itu. Dan pancaran kasih tersebut berdaya-kuasa memberikan jiwa, kehidupan baru, terang, petunjuk, inspirasi, kekuatan, kesegaran, semangat, keberanian, dll kepada manusia (inilah Allah Roh Kudus). Ini seperti halnya matahari, yang tidak hanya berupa benda langit yang berada jauh di atas sana, melainkan juga memancarkan berkas-berkas cahaya dan menimbulkan panas-kehangatan yang mempengaruhi kehidupan di muka bumi…”

 

Selain itu, dalam iman Kristen diyakini pula bahwa Tuhan juga menjelma atau berinkarnasi ke dunia ini. Adimasana (2004) menjelaskan adanya paham inkarnasi, yaitu sehubungan dengan ’ke-Allah-an dan ke-manusia-an’ Yesus, sebagai berikut:

Menurut keyakinan Kristen, Yesus bukanlah nabi biasa. Ia nabi yang istimewa. Keistimewaannya terletak pada hal-hal berikut ini: (1) kedatangan-Nya telah dipersiapkan oleh Allah melalui nubuat-nubuat dan ramalan-ramalan para nabi sebelumnya, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama; (2) seluruh pribadi-Nya mencerminkan sifat-sifat Ilahi; (3) seluruh hidup-Nya (perkataan dan perbuatan-Nya mencerminkan kemanusiaan yang sempurna, dalam arti bersih, suci, dan benar. Umat Kristen lalu berkeyakinan bahwa Yesus adalah betul-betul manusia (manusia 100%) dan betul-betul Allah (Allah 100%), tetapi keduanya itu menyatu dalam satu pribadi…”

Paham ketuhanan Trinitas (Tritunggal) inilah yang sering menjadi pertanyaan, terutama kaum Muslim yang meyakini bahwa Allah itu Esa (tauhid). Mereka bertanya, mengapa orang Kristen selalu berkata bahwa Allah mereka hanya satu tetapi dalam doa-doa mereka selalu menyebut Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus? Bukankah itu berarti ada tiga Allah yang berbeda? Menurut keyakinan Kristen, Yesus atau Isa adalah Allah Putra, Allah sendiri yang menjelma ke dunia ini, yang menjembatani hubungan manusia dengan Allah. Keyakinan ini didasarkan pada pernyataan Yesus sendiri dalam Injil : “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yohannes 14.10); “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohannes 10.30); “Siapa melihat Aku, dia telah melihat Bapa” (Yohannes 14.9); “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”(Yohannes 14.6)

Perumpamaan matahari dengan cahayanya, seperti yang telah dipaparkan di atas, sering diberikan sebagai jawaban terhadap pertanyaan ini. Namun, tak urung paham ketuhanan Trinitas ini menjadi polemik tak berkesudahan. Paham inilah yang seolah mendapat kritikan dalam Surah Al-Ikhlas tersebut. Konflik antara Kristen dengan Islam masih terus dipicu oleh perbedaan pendapat dalam memahami sifat-sifat Tuhan yang sama-sama mereka sebut sebagai ’Allah’ tersebut.

Kesimpulannya, paham adanya inkarnasi atau penjelmaan Tuhan itu tidak dapat diterima dalam Islam. Wajarlah kalau sebagian sarjana penulis buku perbandingan agama dan buku antropologi, yang berlatar belakang Islam, tidak mau mengakui bahwa Weda adalah juga wahyu Tuhan. Mengakui bahwa Weda adalah wahyu Tuhan, karena diajarkan langsung oleh titisan atau penjelmaan Tuhan, secara tidak langsung mengakui bahwa Tuhan bisa menjelma, bisa berwujud seperti manusia. Hal ini bertentangan langsung dengan prinsip tauhid, yang ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. kangsury4nto says:

    Terima kasih kepada para sahabat yang telah berkenan mengunjungi artikel ini

Comments are closed.