Home » Krishna & Bhakti Yoga » Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Dalam Islam, Nabi dan Rasul adalah Manusia Biasa

Agama-agama Abrahamis lahir karena adanya wahyu yang diterima oleh seorang nabi. Berdasarkan perbedaan mandat atau perintah yang diterima melalui wahyu seperti itu, mereka mengenal istilah nabi dan rasul. Para nabi adalah tokoh-tokoh yang menerima wahyu Tuhan, baik secara langsung maupun melalui perantaraan para malaikat. Para nabi tidak berkewajiban mengajarkan wahyu yang diterimanya ke seluruh dunia. Menurut sebuah referensi, jumlah nabi ini mencapai dua belas ribu orang lebih. Hal ini dapat dimaklumi, karena dalam Qur’an 35.24 dinyatakan, “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pembawa peringatan. Dan tidak ada satu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan”            

Juga, dalam tradisi bangsa Arab kuno, setiap pemimpin suku biasanya diakui sebagai nabi oleh masing-masing masyarakatnya.

Berbeda dengan nabi, para rasul mendapat mandat atau tugas khusus untuk mengabarkan, memberitakan, mengajarkan dan menyebarluaskan wahyu dan ajaran yang diterima dari Tuhan ke seluruh dunia. Istilah ’utusan Tuhan’ sering disamakan dengan rasul ini. Dalam Islam, Nabi Muhammad diyakini sebagai rasul Allah yang penutup, atau yang terakhir. Sedangkan dalam Kristen, kedua belas murid Yesus disebut sebagai para rasul.

Berbeda dengan umat Kristen yang meyakini Yesus sebagai inkarnasi Allah, tapi juga sekaligus manusia biasa 100%, umat Islam meyakini bahwa para nabi dan rasul adalah manusia biasa, insan atau makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan Nabi Muhammad yang diyakini sebagai rasul dan nabi terakhir pun, adalah manusia biasa. Kenyataan ini terungkap dalam riwayat hidup nabi sendiri. Bahwa nabi dan rasul adalah manusia biasa, ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya Surat (9) At Taubah ayat 128 “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaan) mu, terhadap orang-orang mu’min ia teramat pengasih dan penyayang”.

Nabi Muhammad adalah rasul Allah, dan diyakini sebagai nabi terakhir dari seluruh rangkaian nabi yang diutus Allah untuk menjalankan tugasnya di muka bumi ini. Nabi Muhammad disebut sebagai insan kamil, atau manusia (makhluk) ciptaan yang paling sempurna. Segala pemikiran, perilaku, dan ucapan-ucapan Nabi Muhammad dianggap sebagai contoh ideal yang harus ditiru oleh umat Islam di seluruh dunia. Karena itulah, dalam Islam terdapat Hadist dan Sunnah nabi selain Al-Qur’an. Hadist adalah kumpulan perkataan dan ucapan Nabi Muhammad yang didengar, dicatat dan kemudian diriwayatkan oleh para sahabat dekat nabi. Hadist ini berbeda dengan Al-Qur’an, dimana ayat-ayat Al-Qur’an diyakini sebagai perkataan atau ucapan Nabi Muhammad saat dalam keadaan menerima wahyu Allah. Sedangkan Sunnah adalah perilaku atau perbuatan sehari-hari nabi Muhammad yang dijadikan panutan atau suri tauladan, yang dianggap sebagai penerapan dan penjelasan dari ajaran-ajaran Al-Qur’an

Woodward (1999: 6) memberikan penjelasan tentang perbedaan antara Al-Qur’an dengan Hadist sebagai berikut:

Syariah adalah hukum Islam. Bersama dengan Al-Qur’an dan hadis ia membentuk inti Islam normatif. Al-Qur’an merupakan catatan-catatan kehidupan Muhammad sebagai seorang nabi, wahyu-wahyu yang diterimanya dan ajaran-ajarannya. Hadis adalah “tradisi-tradisi”: ucapan-ucapan, praktek-praktek dan ritus-ritus yang tidak ada dalam Al-Qur’an tetapi jelas berasal dari Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Seorang muslim dianggap sebagai orang yang saleh dalam hidupnya, bila telah mampu meneladani dan mempraktekkan semua ucapan dan perilaku Nabi Muhammad (Jabir, 1997). Ini berarti pula umat Islam harus menjalankan perintah-perintah Allah dalam Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Mematuhi larangan menyekutukan Tuhan, seperti yang tertuang dalam Surah Al-Ikhlas itu, tentu menjadi sangat penting. Karenanya, sampai kapan pun, umat Hindu tidak bisa berharap umat Islam ’yang saleh’ dapat menerima keyakinan adanya awatara atau penjelmaan Tuhan dalam Hindu.

Lalu, apa yang mendasari keyakinan umat Hindu tentang adanya awatara Tuhan? Mengapa Weda tidak mengecam umat Hindu, bila mereka meyakini bahwa Tuhan juga bisa menjelma ke dunia ini dengan misi-misi tertentu? Apa perbedaan antara nabi dengan awatara? Tidak adakah ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mendukung ajaran awatara dalam Weda?

Kamus Saku dan Kamus Lengkap, sebuah Analogi

 

“Kalau benar Tuhan itu mahaesa, maha tunggal, mengapa ajaran kitab suci yang satu bertentangan dengan kitab suci yang lain? Tidakkah ini adalah bukti bahwa ada banyak Tuhan, dan masing-masing agama punya Tuhan nya sendiri-sendiri?”

Wajar bila pertanyaan seperti itu muncul dalam benak manusia. Kalau mau jujur, sebagian besar penganut agama Abrahamis (Yahudi, Islam, dan Kristen) punya cara pandang dan kesimpulan seperti ini. Paling tidak pemahaman seperti ini tergambar dalam celetukan sinis “apakah Tuhan orang Hindu doyan makan? Kok setiap hari minta banten dan sesaji?”. Jadi ada istilah ’Tuhan orang Hindu, Tuhan kami, dan Tuhan mereka.” Lalu “tiada Tuhan selain Allah” seolah merupakan penegasan anggapan bahwa ada banyak Tuhan lain, tapi yang benar-benar Tuhan hanya Allah.

Bagaimana mestinya umat Hindu memahami dan menyikapi hal ini? Mengapa ada banyak kitab suci dengan ajaran yang berbeda-beda? Bhaktivedanta Swami memberikan sebuah analogi yang mungkin bisa membantu memahami persoalan kemajemukan ajaran dalam berbagai kitab suci. Apa beda antara kamus saku dengan kamus lengkap, atau sebuah ensiklopedi? Apa bedanya, misalnya, antara “Oxford Pocket Dictionary” (Kamus saku Oxford) dengan “Webster’s New World College Dictionary”? Atau, apa bedanya kamus saku bahasa Indonesia, dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia?

Baik kamus saku maupun kamus lengkap, sama-sama memuat entri kata-kata populer atau kata-kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Tapi sesuai namanya, kamus saku hanya menjelaskan arti sebuah kata secara ringkas. Sedangkan dalam kamus lengkap, selain memuat arti setiap kata, juga dilengkapi dengan contoh makna kata itu sesuai dengan bidang ilmu atau konteks kalimatnya. Ambillah contoh kamus Inggris – Indonesia. Kata rice misalnya, akan kita temukan baik dalam kamus saku maupun kamus lengkap. Tapi, dalam kamus saku, kata rice hanya diberikan artinya : ‘nasi’; ‘padi’; ‘beras’; ‘gabah’. Tidak ada penjelasan lain. Sedangkan dalam kamus lengkap, selain memuat arti kata rice, disertai pula penjelasan dan contohnya dalam kalimat, kapan ‘rice’ berarti nasi, kapan berarti gabah, dan dalam konteks apa artinya menjadi beras dan padi. Karena itu, jangan heran ketika suatu hari pernah ada seorang turis dari Inggris yang datang ke Yogya, hanya berbekal kamus saku Inggris – Indonesia, dengan penuh percaya diri memesan makanan pada sebuah warung angkringan di Malioboro sambil berkata: “Bu, saya mau makan gabah…”.Tentu saja turis itu jadi bahan tertawaan.

Bedanya lagi, kamus lengkap atau ensiklopedi memuat kata-kata atau istilah-istilah khusus yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari, atau hanya berkaitan dengan bidang ilmu tertentu yang tidak bisa ditemukan dalam kamus saku. Karenanya, jangan mencari makna kata hedonisme, multikulturalisme, panenteisme, plug and play, labirin, psikoanalisis, dan sejenisnya dalam sebuah kamus saku. Bersiaplah untuk kecewa, Anda tidak akan menemukannya.

Lalu, apakah dengan keterbatasan itu, pemilik kamus lengkap bisa mengatakan bahwa kamus saku itu salah atau tidak berguna? Atau sebaliknya, pemilik kamus saku boleh mengklaim bahwa apapun yang ada dalam kamus lengkap, yang tidak tertera dalam kamus sakunya, pasti salah, mengada-ada, dan menyimpang? Semestinya tidak. Orang harus sadar bahwa kedua kamus saku dan kamus lengkap sama-sama diperlukan, sesuai tingkat kebutuhan masing-masing pengguna.

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. kangsury4nto says:

    Terima kasih kepada para sahabat yang telah berkenan mengunjungi artikel ini

Comments are closed.