Home » Krishna & Bhakti Yoga » Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

Apa hubungannya dengan kitab-kitab suci? Memang masih bisa diperdebatkan, tapi bila kita berpikiran terbuka, berbagai kitab suci yang ada di dunia dapat diibaratkan seperti kamus itu. Semua kitab suci memuat ajaran-ajaran dasar atau prinsip-prinsip moral atau spiritual yang sifatnya universal. Perintah untuk menyembah Tuhan, mengasihi sesama manusia, jangan mencuri, jangan berjinah, pasti dapat kita jumpai dalam semua kitab suci. Itu pelajaran dasar, seperti halnya kamus saku dan kamus lengkap sama-sama memuat kata-kata populer. Tapi, kalau dianalisa secara obyektif, ada kitab suci yang memberikan pengetahuan spiritual yang lebih dalam dan lebih rinci, sedangkan yang lainnya tidak.

Sebagai contoh, cobalah merenungkan apa yang tersurat dan tersirat dalam beberapa ayat dari berbagai kitab suci berikut, sehubungan dengan pengetahuan rohani. Dalam buku “Dialog Timur dan Barat”, Hart dan Satyaraja (1989) memperbincangkan adanya informasi menarik, sehubungan dengan keluasan dan kedalaman kitab suci. Hart mengutip kitab Injil, dimana Yesus mengatakan “Sesungguhnya banyak hal yang ingin Aku beritahukan kepadamu, tapi telingamu belum mampu mendengarnya” (Yohannes 16.12); dan “Bila engkau tidak mempercayai-Ku saat Aku menyampaikan hal-hal material, lalu bagaimana engkau akan mempercayai saat Aku menyampaikan padamu hal-hal yang bersifat spiritual?” (Yohannes 3.12).

Menyinggung tentang rohani manusia, Abdullah dan Azhari (2005 : 58-59) dalam bukunya “Kekeliruan Teori Big Bang Ditinjau dari Kosmologi Al-Qur’an” mengutip Surah Al-Israa’ (17): 85 bahwa manusia hanya diberikan sedikit pengetahuan tentang rohani manusia, karena pengetahuan rohani manusia sepenuhnya menjadi kekuasaan Allah dan malaikat-Nya.

      “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : ’Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’

Dari ayat di atas jelas sekali bahwa Allah yang mengurus segala urusan rohani. Seberapapun terkuaknya permasalahan tentang rohani yang telah terjadi dimasa kini, yaitu masa setelah 14 abad diturunkannya Al-Qur’an, namun tetap hanya merupakan sedikit sekali dari pengetahuan tentang rohani yang dimiliki Allah.

 

Memang benar adanya, bahwa manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan dapat sepenuhnya memahami hal-hal rohani yang menjadi rahasia keagungan Tuhan. Tetapi, dalam Bhagavad-gita Sri Krishna memberikan pengetahuan yang sangat lengkap tentang sifat sang roh, sesuatu yang tidak diberikan dalam Al-Qur’an. Simaklah ayat-ayat berikut dalam Bhagavad-gita:

 na jāyate mriyate vā kadācin
nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ
ajo nityaḥ śāśvato ’yaṁ purāṇo
na hanyate hanyamāne śarīre

Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh (Bhagavad-gita  2.20)

 

dehino ’smin yathā dehe
kaumāraṁ yauvanaṁ jarā
tathā dehāntara-prāptir
dhīras tatra na muhyati

Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan yang terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu seseorang meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu. (Gita 2.13)

 

vāsāṁsi jīrṇāni yathā vihāya
navāni gṛhṇāti naro ’parāṇi
tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny
anyāni saṁyāti navāni dehī

 

“Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna” (Gita 2.22)

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Sri Krishna juga menjelaskan bahwa sang roh tidak dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, tidak terbakar oleh api, tidak terbasahi oleh air, tidak terkeringkan oleh angin, tidak larut oleh air, hidup selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan, dan tetap sama untuk selamanya.

Berbeda dengan pernyataan dalam kitab Injil dan Al-Qur’an yang menyebutkan keterbatasan pengetahuan yang diberikan kepada manusia, Sri Krishna menyatakan dan menjamin kepada Arjuna bahwa pengetahuan yang diterimanya bersifat lengkap, sebagaimana tergambar dalam sabda berikut :

jñānaṁ te ’haṁ sa-vijñānam
idaṁ vakṣyāmy aśeṣataḥ
yaj jñātvā neha bhūyo ’nyaj
jñātavyam avaśiṣyate

 

“Sekarang Aku akan menyampaikan pengetahuan ini kepadamu secara keseluruhan, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Dengan menguasai pengetahuan ini, tidak akan ada hal lain lagi yang belum engkau ketahui.”(Gita 7.2)

 

Jadi, berpegang pada pernyataan sloka ini, baik pengetahuan material yang dapat dilihat (jïänaà) maupun pengetahuan rohani yang tidak dapat dilihat (vijïänam) melalui panca indera manusia, disampaikan secara keseluruhan dalam Bhagavad-gita. Diakui atau tidak, pernyataan yang ada dalam beberapa kitab suci tersebut bisa menggambarkan cakupan dan ruang lingkupnya masing-masing.

Marilah kita simak sebuah contoh menarik lainnya, adanya persamaan makna dalam dua buah ayat, yang satu dari Hadist, yang lainnya dari Bhagavad-gita, tentang cahaya yang dimiliki oleh Tuhan. Ini untuk sekedar memberi contoh, bahwa sesungguhnya ada begitu banyak persamaan ajaran yang terdapat dalam kitab suci, sebagaimana ada persamaan-persamaan antara kamus saku dengan kamus lengkap.

Mengutip Al Gazali dalam bukunya ’Cahaya”, Abdullah dan Azhari (2005: 110) menyebutkan bahwa dalam salah satu Hadist, Nabi Muhammad menjelaskan Allah sebagai berikut :

“Allah memiliki tujuh puluh ribu hijab cahaya dan kegelapan. Apabila hijab-Nya dibuka, maka cahaya wajah-Nya akan membakar siapa saja yang melihat-Nya.”

Pada saat hadist tersebut dinyatakan oleh Rasullulah pada masa 14 abad yang lalu tentu pemahaman kita tentang alam dan kaidah-kaidah hukum fisika belum memadai seperti di abad ke 21 sekarang. Saat ini kita memiliki padanan kata hijab yaitu filter, adapter, tapis, tabir, penyangga, degradasi dan lain-lain. Besaran tujuh puluh ribu sebenarnya menyatkan suatu besaran yang sangat tinggi atau suatu besaran tak terhingga. Dengan demikian pengertian Hadist di atas jika dikaitkan dengan pemahaman dan pengetahuan saat ini adalah :

Eksistensi Allah memiliki sarana adaptasi dengan mendegradasikan Eksistensi-Nya hingga sesuai dengan keadaan makhluk atau ciptaan-Nya. Jika adaptasinya diputus atau dicabut barang sedikit saja, niscaya akan merusak dan menghancurkan setiap ciptaan-Nya

Bandingkan pernyataan Hadist di atas dengan sloka Bhagavad-gita 11.12, saat Arjuna melihat bentuk semesta (visvarupa) yang ditunjukkan oleh Sri Krishna, sebagai berikut     

divi sūrya-sahasrasya
bhaved yugapad utthitā
yadi bhāḥ sadṛśī sā syād
bhāsas tasya mahātmanaḥ

“Kalau beratus-ratus ribu matahari terbit di langit pada waktu yang sama, mungkin cahayanya menyerupai cahaya Kepribadian Yang Paling Utama dalam bentuk semesta itu”

 

Mengapa Arjuna berkata demikian? Pernyataan itu diungkapkannya, setelah Arjuna mampu melihat wujud-wujud ajaib yang diperlihatkan oleh Sri Krishna dihadapannya. Apa yang diuraikan oleh Arjuna tentang wujud-wujud rohani itu, jarang atau tidak banyak diuraikan dalam kitab-kitab suci lain. Atau perwujudan itu dikatakan tertutupi oleh hijab-hijab Tuhan, sering pula dibungkus dengan pernyataan ‘itu bukan urusan manusia’, atau ‘itu diluar batas jangkauan pemahaman manusia’.

Dalam bentuk semesta itu, Arjuna melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi dengan banyak perhiasan rohani dan membawa banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau memakai kalungan bunga dan perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-Nya. Semua ajaib, bercahaya, tidak terbatas dan tersebar ke mana-mana. (Gita 11.10 – 11)

O Kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda yang maha agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki dan perutnya dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu mereka goyah, dan hamba juga goyah (Gita 11.23)

 

Menariknya, dari sudut pandang sains atau ilmu pengetahuan, sloka-sloka Bhagavad-gita ini mengingatkan para ilmuwan tentang dahsyatnya cahaya yang ditimbulkan oleh ledakan bom nuklir. Robert Oppeinheimer, pembicara utama dari Komisi Energy Atom USA, sangat terkejut ketika ia mengutip sloka ini, setelah menyaksikan uji peledakan bom atom pertama di daerah New Meksiko. Selanjutnya, dalam sebuah jumpa pers, ia berkata bahwa bom nuklir itu mengingatkannya pada sabda Sri Krishna dalam Bhagavad-gita 11.32 “Aku adalah waktu, aku adalah kematian, penghancur segalanya” (Visvanathan, 2001: 99).

Dengan pemahaman tentang sifat-sifat kitab suci seperti yang diuraikan di atas, kita akan mencoba memahami konsep awatara dalam Hindu. Asumsinya adalah bahwa meskipun ajaran awatara mungkin dianggap bertentangan, atau tidak diuraikan dalam Al-Qur’an ataupun Injil, mestinya umat lain tidak boleh serta merta menghakimi umat Hindu telah menyekutukan Tuhan. Karena, sebagaimana yang telah kita paparkan dan bahas, kitab Weda memberikan keterangan yang jauh lebih lengkap tentang sifat-sifat ketuhanan dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya. Weda adalah kamus lengkap, sebuah ensiklopedi, bukan sekedar kamus saku.

bersambung ke konsep-awatara-dalam-hindu-dan-kontroversinya….

Referensi :

Abdullah, Mudjoni & Azhari, Siswahyudi. 2005. Kekeliruan Teori Big Bang Ditinjau dari Kosmologi Al-Qur’an. Jakarta, Yayasan Majelis Ta’lim HDH

Al-Adnani, Abu Fatiah. 2006. Dajjal ’Sudah Muncul dari Khurasan. Solo: Granada Mediatama.

 Bhaktivedanta Swami, A. C. 1982. Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Jakarta : Bhaktivedanta Book Trust Indonesia.

 ——————————— .1978. Srimad Bhagavatam. Bhaktivedanta Book Trust, USA.

Hart, Alvin V.P. & Satyaraja dasa Adhikari. 1989. Krishna Consciousness and Christianity. East-West Dialogue. New York, Steven J. Rosen.

Jabir, Akif Manaf. 1997. The Hidden Treasure of Al-Qur’an. Benggala: The Dabir Khas Book Trust.

Sanjaya, Gde Oka & Maswinara, I Wayan (Eds). 2001.Tanya Jawab Hindu untuk Pemula. Surabaya, Paramitha

 

 Satsvarupa das Gosvami. 1977. Element of Vedic Thought and Culture. USA, Bhaktivedanta Book Trust.

 Subramuniyaswami, Satguru Sivaya. 1997. Dancing With Siva. USA, Himalayan Academy.
Tim Penyusun KWI. 1996. Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta,Kanisius-Obor.

 

Tim Penterjemah Al-Qur’an. 1984. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia.

Woodward, Mark R.. 1999. Islam Jawa. Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Yogyakarta, LKiS.

 

Pages: 1 2 3 4

Loading Facebook Comments ...

1 Comment

  1. kangsury4nto says:

    Terima kasih kepada para sahabat yang telah berkenan mengunjungi artikel ini

Comments are closed.