Home » About Me » AutoBiografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, dan Perjumpaan dengan Hare Krishna (1)

AutoBiografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, dan Perjumpaan dengan Hare Krishna (1)

DSC_9489“Bagaimana dengan Anda sendiri? Bagaimana Anda menjadi Hindu? Sejak kapan Anda bertemu dengan ajaran Kesadaran Krishna ini?”

Demikian dua teman dari Ukraina itu balik bertanya. Mereka sudah panjang lebar bercerita tentang perkenalan mereka dengan ajaran Hindu. Kini, gantian mereka yang ingin tahu kisah saya. Bagaimana ceritanya, saya sampai bisa bertemu dengan ajaran Bhakti Yoga yang memfokuskan pemujaan kepada Sri Krishna sebagai Isthadevata itu? Karena ajaran Krishna dalam Bhagavad-gita itulah, kami dipertemukan dan menjadi lebih akrab dari saudara saat ini.

Mendapat pertanyaan demikian, saya mencoba memeras ingatan. Saya jawab bahwa memang selama ini, kebanyakan orang tidak menduga kalau saya penganut Hindu. Merekapun bertanya, mengapa saya sebagai orang Jawa, bisa beragama Hindu? Apakah setelah saya menikah dengan wanita Bali, baru saya memeluk agama Hindu? Begitu mereka menerka-nerka. Padahal, saya beragama Hindu, karena terlahir dalam keluarga Hindu. Sama seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, mereka menganut agama Islam karena terlahir dalam keluarga beragama Islam. Begitu seterusnya. Kakek nenek dan moyang saya memang beragama Hindu, berasal dari Kabupaten Blitar. Semestinya orang tidak perlu heran dengan hal ini. Bukankah pusat kerajaan Majapahit, kerajaan Hindu terbesar di Indonesia itu, dulu berada di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Timur? Jadi, jika kemudian masih ada orang Jawa yang bertahan memeluk agama Hindu, agama leluhur mereka, seharusnya itu bukanlah hal yang aneh.

DSC_6494

Tapi begitulah. Sudah terlanjur berkembang stigma, bahwa kalau ada orang beragama Hindu, pastilah dia orang Bali. Atau orang Dayak di Kalimantan Tengah, yang menganut Hindu Kaharingan. Selain dianut oleh dua suku itu, seolah Hindu tidak dianut oleh orang dari suku lain di Indonesia. Pemahaman keliru itu sudah berkembang sedemikian rupa, sampai-sampai keberadaan orang Jawa yang beragama Hindu, seolah tidak pernah terdengar. Bahkan, pernah juga saya mendapat pertanyaan yang nadanya menyudutkan, “Kok bisa Mas Surya masih beragama Hindu? Apa alasannya?”

Pertanyaan terakhir itu sama saja dengan mempertanyakan, mengapa saya masih tetap setia menjadi pemeluk Hindu, padahal kenyataannya, semakin banyak orang Bali, orang Jawa, atau orang Kaharingan yang meninggalkan agama leluhur mereka? Bagaimana saya masih bertahan Hindu, ketika menurut data sensus penduduk, jumlah penduduk beragama Hindu di Indonesia semakin menyusut dari tahun ke tahun? Tidak jauh-jauh untuk mencari fakta itu. Dulu, awal tahun 1980-an, di desa transmigran kami di Pangkoh IV, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau (dulu masuk Kabupaten Kapuas), ada sedikitnya 70 Kepala Keluarga beragama Hindu. Kami berasal dari Blitar dan Banyuwangi di Jawa Timur. Kini, jumlah mereka yang masih bertahan Hindu, bisa dihitung habis dengan jari tangan, tidak sampai perlu tambahan jemari kaki.

IMG_1058 copy copy

Saya ingat betul, teman-teman Hindu di desa saya itu masih beragama Hindu sampai mereka lulus SMP. Itu karena kami masih mendapat pelajaran agama Hindu dari guru. Godaan dan tantangan mulai muncul, saat mereka mulai melanjutkan ke sekolah menengah atau kuliah ke kota. Entah merasa minder atau tidak mampu menjelaskan ajaran yang mereka imani, akhirnya mereka tidak lagi pergi ke pura desa kami, saat pulang kampung di tengah liburan sekolah atau kuliah mereka. Fenomena serupa terjadi di banyak tempat, dan berlangsung dengan cepat. Kurangnya pembinaan, menjadi salah satu faktor pemicunya. Lalu, bagaimana saya masih bisa bertahan ditengah semua itu? Buku Biografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, Utsawa Dharma Gita di Palangka Raya tahun 1996, dan apa lagi ya? Satu persatu memori saya  hinggap pada momen-momen unik yang telah mengantarkan saya pada keadaan saat ini. Autobiografi Mahatma Gandhi? Apa hubungannya dengan saya, yang sekolah di SMA I Pangkoh, sekolah di ‘udik’ yang di tahun 1990-an saat itu terletak dibelantara hutan karet?  Bagaimana buku autobriografi tokoh perdamaian dari India itu, bisa mempengaruhi ‘jalan hidupku’ hingga bisa bertahan sebagai pemuda Hindu? (bersambung..)

Loading Facebook Comments ...