Home » Catatan Perjalanan » Tukang Bakso ‘Plat Merah” (Part II)

Tukang Bakso ‘Plat Merah” (Part II)

Semua itu berawal dari kebingunganku mencari biaya hidup sehari-hari. Dan pastinya biaya kuliah. Semester I, aku sempat numpang hidup di kios sempit dipinggir jalan di Pasar Mini, pas di pertigaan Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pangeran Samudra saat itu. Pemiliknya tetangga kampungku di Pangkoh IV, dan dia berjualan bensin eceran. Di sela-sela kuliah, aku membantu berjualan bensin. Lumayan, setidaknya aku dikasih makan siang sekali sehari.
Tak betah disitu, aku lantas ikut kerja mebel kayu sambil kerja bangunan di Jl. Kecubung, Komplek Perumahan Palangka Permai, dekat Masjid Raya. Sekarang komplek itu lebih dikenal dengan nama Perumahan G. Obos XII. Di mebel yang pemiliknya kenalan ayahku, dan pernah tinggal di Pangkoh itu, aku ditugasi mengamplas pintu, jendela, atau kusen. Sesekali aku diminta membantu membuat adonan luluh (campuran semen dan pasir), membantu menantu pemilik mebel itu yang pemborong bangunan.
Dengan begitu, aku bisa dapat makan tiga kali sehari, dan dapat tempat menginap gratis. Untuk biaya beli kertas membuat laporan dan makalah, aku terpaksa meminta bantuan dari temanku, yang ikhlas memberiku setelah kubantu membuatkan laporan atau makalahnya. Satu semester berlalu…untuk membayar SPP semester II-ku yang hanya sekitar Rp 165.000 per semester waktu itu, aku kumpulkan dari honor sukarela yang kudapat dari membantu ngaduk semen itu. Tentu saja tidak cukup. Untuk menggenapinya, aku harus berhutang pada keluarga teman seangkatanku Jurusan Kimia, yang ayahnya saat itu berjualan di Kantin FKIP. Di rumah keluarga temanku itulah aku sering numpang makan, setiap kali aku kelaparan. Aku berhutang budi pada mereka, dan belum bisa membalasnya hingga kini.
Lalu, kapan aku bertemu dengan bos baksoku yang orang Padang itu?
Awal semester II, aku mendapat secercah harapan. Salah seorang dosenku menawari aku untuk tinggal dan menjaga kios kecilnya di komplek Amaco, Jalan Raya Galaxy. Kios itu berukuran kurang lebih 3 x 4 meter, menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Di belakang kios itu ada rumah BTN milik dosen itu, yang disewakan kepada mahasiswa dari pulau Sumatra. Jadilah kios itu sebagai tempat tinggalku. Pakaian, buku-bukuku menyatu dengan barang-barang yang dijual di kios itu. Untuk kebutuhan makanku, setiap pagi aku harus berjalan kaki mengambilnya ke rumah di kompleks dosen itu di Jalan Yos Sudarso. Tidak ada fasilitas untuk masak atau bahkan merebus air sekalipun di kios itu. Aku kadang harus mengambil makan jam 5 pagi, saat pembantunya belum selesai masak. Jadilah makanan sisa hari kemarin yang ku konsumsi sehari penuh. Saat aku harus kuliah, aku digantikan oleh sang istri, yang menurutku cukup galak orangnya…(hehehe …maaf).
Bukan aku tidak tahu membalas budi, atau berniat mengungkap keburukan orang yang telah berjasa membantuku. Tapi selama di kios itu, aku tak mendapatkan apa yang semula dijanjikan. Aku masih harus membantu teman-temanku mengerjakan tugas, agar aku bisa dapat kertas untuk mengumpul tugasku. Bajuku pun tak pernah berganti selama satu semester. Sampai akhirnya ada seorang teman kuliahku, seorang ibu-ibu guru di SMP Muhammadiyah Palangka Raya, yang membelikan baju kuliah untukku. Dia beralasan membeli baju untuk suaminya, tapi kekecilan, karenanya ditawarkan ke aku. Mungkin supaya aku tidak tersinggung. Dan barangkali juga dia sudah tidak tahan dengan bau bajuku yang itu-itu saja, jarang dicuci pula.
Ini tidak bagus kalo kuceritakan, tapi memang kisah nyata. Karena sering tak dapat jatah makan, aku sering kelaparan. Tetanggaku di komplek itu lalu mengajariku untuk berbuat tidak jujur.
“Sudahlah, kamu ambil saja Mie goreng itu di kardus, To. Daripada kamu kelaparan begitu… Kalau mau rebus, ini ada panci dan kompor…” begitu salah satu tetangga kiosku membujuk. Rupanya mereka kasihan melihat kondisiku. Tapi aku juga tidak berani ceroboh mengambil makanan sembarangan. Meski aku kelaparan, aku pilih menahan diri. Soalnya setiap barang yang keluar harus aku catat di pembukuan, sedetil-detilnya. Permen seratus perakpun harus kucatat, dan semua harus klop dengan catatan belanja sebelumnya….Biaya kuliah yang dijanjikan sebelumnya, tak kunjung kudapatkan juga…
Salah satu pembeli yang sering mengunjungi kiosku adalah orang berperawakan tinggi besar, berwajah penuh wibawa, dengan jenggot yang panjang seperti penampilan orang Afganisthan. Dia tinggal tepat di samping kanan rumah dan kios yang aku tempati itu. Dari pembantunya yang sering belanja di kiosku aku akhirnya aku tahu, bahwa orang itu bekerja sebagai konsultan proyek-proyek di Dinas PU Palangka Raya. Setiap hari aku melihat seorang sopir datang ke rumahnya. Mobil dinasnya kijang warna biru, plat merah, dengan Nomor B 1789 FQ. Kabarnya, istrinya yang asli Sunda itu adalah seorang dokter umum yang bertugas di Rumah Sakit di Palangka Raya.
Sesekali, suami istri itu memang melintas di depan kiosku, saat mereka jalan kaki pagi hari. Mereka terlihat ramah, dan sering menganggukkan kepala saat melihat aku berada di dalam kios. Saat sesekali belanja di kiosku, Bapak itu memang sempat menanyakan pekerjaanku. Rupanya sesekali dia melihat aku pulang membawa buku, saat berangkat atau pulang kuliah. Kujawab bahwa aku sambil kuliah, dan menjaga kios itu sebagai pekerjaan sambilan….
Hampir satu semester berlalu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan di kios itu. Takut kalau meninggalkan kios itu, nilai matakuliahku akan diotak-atik oleh dosenku itu. Aku memutar otak, setiap hari berusaha memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat itu. Aku butuh biaya hidup dan biaya kuliah. Kalau terus-terusan begini, aku tak bisa membiayai kuliahku sendiri.
Suatu hari, inspirasi itu datang. Kakak tingkatku yang kuliah di Jurusan fisika, ada yang kuliah sambil berjualan nasi goreng di malam hari. Hampir setiap malam dia lewat di komplek Amako, bahkan sering kali di atas jam 12 malam. Aku sangat mengagumi Mas Sulkhan, itu nama kakak tingkatku itu. Dia mampu kuliah secara mandiri, hanya dengan berjualan nasi goreng.
Saat kuminta pertimbangan soal keadaanku, dia menganjurkan agar aku mencoba mandiri. Berusaha sendiri seperti yang dia lakukan. Tapi dia menyarankan aku untuk tidak berjualan nasi goreng, karena melihat badanku yang kurus kerempeng. Jualan nasi goreng malam hari butuh stamina ekstra, dan aku tidak mungkin kuat menjalaninya. Mas Sulkhan saat itu sudah berkeluarga, meski belum lulus kuliah. Istrinyalah yang menyiapkan semua kebutuhan untuk berjualan nasi goreng itu. Kalau aku sendirian, tidak mungkin aku bisa membagi waktu sambil kuliah.
Aku manggut-manggut mendengar sarannya. Tapi aku bingung, harus kerja apa? Berjualan apa yang bisa kulakukan di siang hari atau sore hari, tapi tidak terlalu menguras tenaga? Aha…bakso. Ya, terlintas saat itu bagaimana kalau aku jualan bakso dengan membuat dan menjualnya sendiri, tidak ikut bos bakso seperti para penjual bakso dorong yang banyak dilakoni oleh teman-teman penjaja bakso itu? Aku tidak mungkin ikut orang, karena harus membagi waktu dengan kuliahku. Tapi, berjualan bakso? Dari mana modalku berjualan? Darimana aku bisa mendapatkan gerobak baksonya? Bagaimana belanja bahan dan proses membuatnya? (bersambung…)

Loading Facebook Comments ...