Home » Catatan Perjalanan » Tukang Bakso ‘Plat Merah’…

Tukang Bakso ‘Plat Merah’…

Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I...

Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I…

Awal Juni 2010. Siang itu aku melintasi Jalan Yos Sudarso, dalam perjalanan pulang dari kampus STAH Tampung Penyang di Jalan G Obos X. Baru saja aku menyerahkan berbagai dokumen dan berkas lain untuk kelengkapan persyaratan sebagai CPNS. Teriknya matahari membuatku ingin membeli sesuatu untuk menghilangkan dahaga. Tadi pagi aku memang tidak sempat sarapan, karena memang belum ada masakan di rumah. Istriku masih di Yogyakarta, belum kuboyong ke Palangka Raya, menunggu anakku lulus sekolah TK-nya. Seingatku, di sepanjang Jalan Yos Sudarso itu banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan.

Kuhampiri penjaja pencok buah yang biasa mangkal di seputaran depan kantor TVRI Kalteng, tepatnya dipojok kiri depan Hotel Dandang Tingang. Sebenarnya sudah seminggu ini aku melihat orang itu berdagang di situ, karena sementara ini aku tinggal menumpang di komplek Pura Pitamaha di Jalan Kinibalu. Setiap pulang pergi ke ke kampus, sekilas aku bisa melihat para pedagang berjajar disekitar itu. Tapi baru kali ini aku menghampiri pedagang laki-laki yang tampaknya masih seusia denganku itu.

“Pencoknya, sebungkus pinten Mas?” sapaku bercampur bahasa Jawa.
“Oh, lima ribu, Pak. Berapa bungkus?” jawabnya sekilas sambil masih melayani pembeli lain.
“Nggih, sebungkus saja Mas…”

Dengan cekatan dia meracik potongan buah-buahan itu. Aku memperhatikan wajah penjual itu sambil mengrenyitkan kening. Tunggu dulu. Memory otakku berkata, seolah-olah aku pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya. Tapi dimana ya? Hampir sepuluh tahun aku merantau di Yogya. Aku masih ingat wajah orang ini, tapi siapa ya namanya? Di mana aku kenal dia?

Selesai meracik pencok yang kupesan, dia menyodorkan bungkusan plastik sambil memandang ke arahku.
“Ini Mas, pencoknya….”
“Nggih, makasih Mas…” jawabku sambil menyodorkan uang lima ribuan. Saat itulah mata kami saling menatap. Dan, seperti yang kurasakan, penjual itu juga menatapku tak berkedip. Seolah dia juga ingat wajahku, dan merasa pernah mengenalku.
“Lho, maaf Mas, kayaknya kita pernah ketemu ya?” dia justru mulai bertanya.
“Iya betul…Kayaknya dulu kita sering ketemu…” jawabku sambil terus berusaha mengingatnya. Ahh…iya. Aku mulai ingat sekarang.
“Maaf, sampean dulu apa pernah jualan bakso, khan Mas?” tanyaku bernada sopan. Takut menyinggung perasaannya, siapa tahu ternyata aku salah ingat.
“Woow, ya… betul. Sampean dulu pernah jualan bakso juga to? Yang sambil kuliah itu khan? Rumah bosnya dulu di Komplek Amako, Jalan Pisces ya, kalau nggak salah…”

Aku terlonjak girang. Dia ternyata masih ingat benar denganku. Rupanya kami teman seprofesi dulu. Sama-sama penjual bakso pakai gerobak dorong, sekitar tahun 1995-1996. Hmm…rupanya kini dia beralih profesi jualan pencok buah.
“Iya betul Mas. Sampean gimana kabarnya? Wah, tidak terasa, sudah hampir lima belas tahun nggak ketemu ya?” kami berjabat tangan dan berpelukan.
“Yah, masih begini-begini saja aku Mas. Nggak ada perubahan. Aku ingat sampean, dulu sampean tukang bakso plat merah itu to?” ujarnya sambil tersenyum.

“Tukang bakso plat merah? Maksudnya Mas?” tanyaku agak bingung. Maklum, sudah hampir lima belas tahun berlalu. Aku sudah agak lupa dengan detil-detil yang dia ingat itu.

“Ah, itu lho… Sampean dulu kalau belanja bahan bakso ke pasar Subuh diantar sama bosmu pakai mobil plat merah dulu itu khan? Makanya aku dan teman-teman diam-diam menjuluki sampean tukang bakso plat merah…hehehe… Masak sampean lupa to? Mentang-mentang sudah jadi pejabat kayaknya ini, kisah lama dilupakan…” guraunya sambil menunjuk motor Mio-ku yang masih pakai plat AB, plat motor wilayah Yogyakarta.

Aku memang baru sepuluh hari kembali ke Palangkaraya. Aku dipanggil kampus untuk mulai bertugas sebagai CPNS dosen tanggal 24 Mei 2010. Makanya kuboyong motor bututku dari Yogya. Tidak punya dana untuk beli motor baru berplat KH.

“Lha terus, bos bakso sampean yang brewok kayak Roma Irama dulu itu kemana sekarang? Suaminya yang mirip orang Afganisthan, katanya dari Padang ya? Konsultan di Dinas PU to? Istrinya dokter to itu, orang Sunda ya? Kok kayaknya saya sudah lama ngga melihatnya lagi di Palangka Raya sini?” lanjutnya. Aku kagum dengan informasi yang dia tahu tentang aku, dan bos baksoku, ternyata sedetil itu? Dari mana dia dapatnya?

Tukang Bakso Plat Merah? Oh, begitukah julukanku waktu itu? Aha…ingatanku pun melayang ke masa-masa itu. Tiba-tiba ada rasa haru menyeruak diam-diam dalam dadaku. Ya, dulu aku memang sempat kuliah sambil jualan bakso, hampir setahun lamannya. Tapi aku bahkan baru tahu hari ini, bahwa teman-teman sesama penjual bakso dulu sempat menjuluki aku dengan sebutan tukang bakso plat merah? Iya, ya, kemana Pak Edi Muchlis Elzon dan Ibu Emy Sukmawati, bos baksoku waktu, pemilik mobil Plat Merah B 1789 FQ itu, kini tinggal? Aku telah lama mencarinya, tapi hingga kini belum ketemu. Kini, akupun belum bisa menjawab pertanyaan teman lamaku ini tentang keberadaan mereka….

                                                   ****
Perjalanan garis nasibku memang terbilang unik. Kedua orang tuaku tak lagi mampu membiayai kuliahku, bahkan sejak semester awal. Bermodal hasil jual sapi peliharaanku semasa SMP, aku nekad mengambil jurusan Pendidikan Fisika di FKIP Universitas Palangka Raya. Uang Rp 600.000 saat itu habis hanya untuk daftar ulang, bayar SPP dan biaya perjalananku dari Pangkoh ke Palangka Raya. Kala itu adalah awal balada dan tragedi kemiskinan yang menyelimuti transmigran Pangkoh, yang menempati wilayah hampir 1000 km2 di Kabupaten Kapuas saat itu. Hasil pertanian jeblok, akibat proyek pengerukan sungai dan persawahan. Tak ada kiriman apapun yang bisa kuharapkan dari rumah.

Tidak seperti kawan-kawanku yang bisa mendatangi Bus Air di Pelabuhan Rambang, untuk menerima titipan uang atau sembako dari orang tua mereka, aku harus berjibaku sendiri mencari tumpangan tempat tinggal sambil kuliah. Buntutnya, hidupku pindah-pindah dari awal hingga selesai kuliah diakhir tahun 2000. Tentu saja, aku tak mungkin melupakan pahitnya perjuanganku untuk bisa sekedar kuliah dulu itu. Bagaimana terlunta-luntanya aku, sampai akhirnya bisa dijuluki tukang bakso plat merah, seperti yang dibilang oleh kawan lamaku penjual pencok itu.

Semua itu berawal dari…(bersambung…)

Loading Facebook Comments ...