Home » Catatan Perjalanan » BERTEMU TUHAN DI GEROBAK BAKSO : Minggu Tenang, dan Derita Bathin Mahasiswa Miskin (1)

BERTEMU TUHAN DI GEROBAK BAKSO : Minggu Tenang, dan Derita Bathin Mahasiswa Miskin (1)

gerobak baksoTukang bakso plat merah? Iya, ya…. Mengapa baru di hari kesebelas ini kenangan lama itu terkorek kembali? Selama sepuluh hari sejak tiba dari Yogya kemarin, pikiranku memang fokus melengkapi berkas CPNS-ku. Kemarin-kemarin, kulewati Jalan G. Obos Induk ini tanpa memaknainya. Sekedar melintas untuk menuju tempat kerja baruku.
Tapi hari ini, tiba-tiba kurasakan keharuan menyergap, saat aku keluar dari Jalan Sisingamangaraja dan masuk Jalan G. Obos. Hmmmm… inikah rahasiamu, Tuhan? Inikah yang Engkau rencanakan bagi hidupku? Bagiku, selamanya Jalur G. Obos adalah Jalan Kenangan. Ya, bahkan ia sempat menjadi jalan hidupku. Dulu, aku selalu berpeluh mandi keringat saat menelusuri jalan utama menuju Masjid Raya Palangka ini, selama lima semester awal kuliahku. Setahun penuh aku bahkan pernah menapakinya dengan berjalan kaki beralaskan sandal jepit.
Satu persatu, kenangan masa lalu di sepanjang Jalan G Obos ini menyeruak lagi dalam ingatanku. File-file kenangan terpendam itu muncul lagi, seolah aku sedang mengetikkan satu kata kunci “mahasiswa miskin, gerobak bakso” di kotak dialog Search memoriku, lalu menekan tombol Enter. File-file yang muncul dari hasil pencarian itu, berderet rapi memenuhi ingatanku.
Uniknya, yang muncul dideretan teratas memoriku itu adalah gejolak bathin saat aku berjualan di masa minggu tenang kuliahku. Bukannya mendapat hasil jualan berlimpah, justru gerobak baksoku yang terpelanting dan tiarap di semak-semak tepi jalan… Rupanya, hingga saat inipun, aku memang tak pernah berhasil mendelete file itu sepenuhnya dari arsip hardisk hidupku…
Pertengahan Desember 1995.

Hari sudah mulai gelap. Suara azan Magrib terdengar dari pengeras suara di Masjid Raya. Aku bergegas mendorong gerobakku kearah perumahan Palangka Permai, seusai melayani pembeli di barak sebrang Asrama Haji. Daganganku masih separo lebih. Tadi aku berangkat jualan sejak jam 12 siang. Di kampus sedang libur minggu tenang, menjelang ujian akhir semester genap. Karenanya, sejak tiga hari terakhir ini aku bisa berangkat jualan lebih siang. Selagi libur, aku coba untuk menempuh rute jualan yang lebih panjang. Siapa tahu bisa menjual dengan porsi lebih banyak. Sebentar lagi aku harus membayar SPP semester IV. Aku malu kalau harus berhutang pada Pak Edy untuk menggenapi tabunganku, supaya biaya kuliahku tercukupi semester depan.
Tubuhku sebenarnya sudah penat. Betisku sudah terasa pegal. Sejak tengah hari tadi, aku sudah menempuh rute komplek Bukit Hindu dan juga daerah Tunjung Nyaho. Semua jalan di kedua daerah itu sudah kutelusuri, berharap banyak pembeli. Biasanya, kalau sedang tidak libur kuliah, rute berjualanku hanya mengitari komplek Amaco, keluar ke G. Obos Induk, lalu masuk ke Perumahan Palangka Permai. Di perumahan yang makin hari makin ramai itu, aku sudah punya banyak pelanggan. Kebanyakan, mereka adalah mahasiswa yang kuliah di STAIN Palangka Raya. Juga ibu-ibu rumah tangga, yang anaknya suka bakso. Ditambah para pekerja bangunan asal daerah Pangkoh, yang sedang bekerja membangun rumah-rumah baru di komplek itu.
Aku bersyukur, karena mereka bilang baksoku enak. Mungkin karena aku memang selalu menjaga agar campuran tepung terigunya tidak lebih banyak, sehingga rasa dadingnya masih terasa. Padahal, siang hingga sore harinya, sudah banyak pedagang bakso lainnya yang lewat. Tapi mereka biasanya masih setia menungguku datang saat magrib atau menjelang Isya.
Pengalamanku tiga bulan jualan ini, setiap pembeli punya pedagang langganan masing-masing. Orang ragu membeli, jika dilihatnya yang lewat adalah pedagang baru. Mereka kuatir, jangan-jangan rasanya tidak enak. Kenyataan inilah yang merugikan aku. Meski berangkat jualan sejak siang hari selama liburan, tapi aku tidak banyak dapat pembeli di daerah Bukit Hindu dan Tunjung Nyaho beberapa hari ini. Maklumlah, aku jarang sekali lewat berjualan di kawasan itu. Sehingga orang menganggapku sebagai pedagang baru.
Aku sempat gondok ketika dua hari yang lalu, seorang ibu di Jalan Teuku Umar memanggilku dari kejauhan.
“Paman… baksolah…” teriaknya dari depan rumah. Aku berjarak sekira seratus meter dari tempatnya berdiri. Kudorong gerobakku ke arahnya.
Ketika sudah semakin dekat, betapa kagetnya aku saat dia tiba-tiba bilang, “Oh, lain paman yang biasa itukah? Kirain tadi yang itu, yang biasa Ulun beli… Maaflah, nggak jadi belinya…” ujarnya santai sambil ngeloyor masuk ke dalam rumahnya. Aku juga ngeloyor pergi dengan gerobakku. Yah, tiap pedagang punya segmen pembelinya sendiri…
Hari inipun, meski aku sudah keliling-keliling di daerah sekitar kampusku itu, baksoku masih tersisa separo lebih. Satu-satunya harapanku adalah segera mendatangi pelangganku, para mahasiswi berjilbab yang doyan bakso itu. Siapa tahu daganganku bisa habis di komplek perumahan di belakang Masjid Raya tersebut.

Perlahan kudorong gerobakku di atas jalanan komplek Palangka Permai yang belum beraspal. Aku harus berhati-hati menghindari lubang-lubang besar yang memenuhi jalanan sepanjang komplek ini. Maklumlah seluruhnya terbuat dari hamparan tumpukan kayu galam gelondongan, yang kemudian di tutup dengan timbunan pasir. Tak seberapa lama, karena dilalui oleh truk-truk pengangkut material bangunan, jalanan itu amblas sana-sini. Di tengah gelap malam, aku harus sangat waspada agar gerobakku tidak terperosok. Sedikit saja keseimbangan roda gerobakku terganggu, tak ampun lagi, gerobakku pasti akan ambruk ke semak-semak tepi jalan sempit ini.
Kumasuki Jalan Intan I. Kulalui sebuah rumah tempat sekelompok mahasiswa kampus Islam negeri di Kalimantan Tengah itu tinggal. Biasanya, setiap aku lewat, ada saja penghuninya yang nongol sambil membawa mangkok. Tidak jarang hampir seisi rumah datang membeli baksoku. Katanya itu menu makan malam mereka hari itu.
“Teng…teng…teng…” seperti biasa aku promosikan daganganku. Lengang. Kupelankan langkahku. Siapa tahu ada yang akan membuka pintu rumah itu dan keluar menenteng mangkok seperti biasanya. Tapi rupanya, harapanku kali ini sia-sia. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun gerakan gagang pintu itu…
Aku berlalu. Tidak ada rasa kecewa. Biasalah, orang jualan ya seperti ini. Kadang ramai, kadang sepi pembeli. Aku menggumam sendiri menghibur diri. Perlahan kudorong gerobakku memasuki Jalan Kecubung. Lalu ke Jalan Siam, Jalan Jamrut, Jalan Nilam, dan lain-lainnya. Aneh, tak seperti biasanya, malam itu aku sepi pembeli. Tumben-tumben, aku dicuekin, seperti penjaja bakso baru yang tak pernah mereka kenal sebelumnya…
Sudah jam setengah sembilan malam. Daganganku masih banyak sekali sisanya. Diam-diam kakiku sudah terasa semakin pegal. Keliling sejak tengah hari tadi, rupanya mulai kurasakan akibatnya. Mungkin karena pembeli sepi. Kalau sedang banyak pembeli, biasanya linu dan letih disekujur tubuhku tak pernah sampai mencuri perhatianku seperti ini.
Harapan terakhirku adalah pelangganku di Jalan Berlian. Siapa tahu, para mahasiswi langgananku itu punya rasa iba malam ini. Biasanya, merekalah yang kadang-kadang beli lima ratus perak, setengah mangkok, tapi minta kecap dan saus berlimpah. Tak apalah, aku ikhlas. Aku tak akan pernah melupakan jasa mereka.
Ya, merekalah yang memberitahu aku di suatu sore, bahwa siang harinya aku dicari-cari oleh dosen dari kampusku.  Liburan semester lalu, karena sibuk berjualan, aku sampai jarang ke kampus.  Aku tak menyadari, bahwa aku sedang dicari oleh Pak Pendi Sinulingga, Ketua Jurusan Fisika di kampus Unpar saat itu. Aku sempat kaget.  Aku dicari dosen? Ada apa? (bersambung)

Loading Facebook Comments ...