Home » About Me » Bhagavad-gītā dan ‘Revolusi Mental’ Arjuna

Bhagavad-gītā dan ‘Revolusi Mental’ Arjuna

Keterpurukan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang, mencuatkan jargon mendesaknya dilaksanakan ‘revolusi mental’ bagi masyarakat Indonesia. Gagasan yang dilontarkan Presiden Joko Widodo tersebut, sejatinya bisa mengambil inspirasinya dari kisah Mahabharata. Bukankah sejatinya, 700 sloka Bhagavad-gītā itu adalah rekaman dari ‘perdebatan’ antara Sri Krishna dan Arjuna yang berujung pada revolusi mental yang dialami oleh Arjuna?

Keseluruhan isi Bhagavad-gītā adalah sloka-sloka dalam Bab 25 sampai dengan Bab 42 dari Bhisma Parwa. Meski merupakan bagian tak terpisahkan dari Mahabharata, Bhagavad-gītā kini dipelajari sebagai kitab tersendiri. Ia menggambarkan ‘kelemahan dan keterpurukan mental’ yang dialami oleh Arjuna, sesaat sebelum dimulainya perang Bharatayudha. Arjuna merasa gundah, mengalami kebingungan, dan dilema bathin luar biasa. Secara mental, ia sama sekali tidak siap melihat kenyataan pahit itu. Sesungguhnya, ia telah mengetahui bahwa perang dahsyat itu memang tak terhindarkan.
Tak urung, saat kedua belah pasukan itu telah saling berhadapan dan siap saling menghancurkan, Arjuna menghadapi goncangan jiwa. Saat melihat kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara yang dicintainya berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur, dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Weda sebagai pembenaran. Baginya, lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta, daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang- orang yang patut dihormatinya.
Marilah kita simak kembali, bagaimana Arjuna mengutarakan keguncangan jiwa dan kelemahan mentalnya kepada sahabatnya itu (Bhagavad-gītā 1.28 – 42) sebagai berikut:
“Krishna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota badan-badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering. Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandeva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar. Saya tidak tahan lagi berdiri di sini. Saya lupa akan diri, dan pikiran saya kacau. O Krishna, saya hanya dapat melihat sebab-sebab malapetaka saja, wahai pembunuh raksasa bernama Kesi.
Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal yang baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini. Krishna yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan, maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan seperti itu.
O Madhusūdana, apabila para guru, ayah, putera, kakek, paman dari keluarga ibu, mertua, cucu, ipar dan semua sanak keluarga bersedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya dan sekarang berdiri di hadapan saya, mengapa saya harus berhasrat membunuh mereka, meskipun kalau saya tidak membunuh mereka, mungkin mereka akan membunuh saya? Wahai Pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra ?
Kita akan dikuasai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra dan kawan-kawan kita. O Krishna, suami Dewi Keberuntungan, apa untungnya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri? O Janārdana, walaupun orang ini yang sudah dikuasai oleh kelobaan tidak melihat kesalahan dalam membunuh keluarga sendiri atau bertengkar dengan kawan-kawan, mengapa kita yang dapat melihat bahwa membinasakan satu keluarga adalah kejahatan harus melakukan perbuatan berdosa seperti itu?
Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal dihancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebiasaan yang bertentangan dengan dharma. O Krishna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan, wahai putera keluarga Vṛṣṇi.
Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluarga-keluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali. “

Mendengar semua argumentasi Arjuna itu, sambil tersenyum Krishna berkata :
śrī-bhagavān uvāca
aśocyān anvaśocas tvaḿ
prajñā-vādāḿś ca bhāṣase
gatāsūn agatāsūḿś ca
nānuśocanti paṇḍitāḥ

“Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal” (Bhagavad-gita Gita 2.11)
Sri Krishna memuji Arjuna sebagai seorang yang pandai, kesatria berhati mulia. Kata-kata Putra Kunti itu diakui sebagai perkataan orang-orang bijaksana, yang merangkum prinsip-prinsip moral ajaran Veda. Veda memang menegaskan pentingnya kaum wanita dilindungi, jika masyarakat menginginkan terlahirnya sebuah generasi yang berbudi pekerti. Dari kacamata moralitas, argumen Arjuna itu semestinya tidak terbantahkan. Seharusnya, dengan alasan itu, Krishna menuruti permintaan Arjuna, dan membiarkannya hidup sebagai peminta-minta. Itu akan membuatnya terbebas dari dosa besar membunuh kakek, guru, sanak saudara dan ribuan prajurit di medan perang Kuruksetra.
Tetapi, sambil memuji, Sri Krishna juga sekaligus menyindir Arjuna, dengan pernyataan yang menyentak pikiran siapapun yang mendengarnya. Putra Devaki itu menyalahkan Arjuna, karena telah meratapi sesuatu yang sesungguhnya tidak patut disesalkan.Seolah-olah meratapi kematian orang-orang yang kita cintai, bukanlah hal yang bijaksana? Benarkah demikian itu yang dimaksudkan oleh Sri Krishna?

Perubahan “Paradigma”
Keberhasilan revolusi mental mempersyaratkan terjadinya sebuah perubahan paradigma. Stephen R. Covey dalam bukunya “The 7 Habbits of Highly Effective People” mengungkapkan pernyataan, tepat seperti situasi yang sedang dihadapi oleh Arjuna saat itu. Menurutnya, “banyak orang mengalami perubahan fundamental dalam cara berpikir mereka justru ketika mereka menghadapi krisis yang mengancam jiwa dan tiba-tiba melihat prioritas mereka dengan cara yang berbeda atau ketika mereka tiba-tiba melangkah ke dalam sebuah peran yang baru….”
Saat itu, Arjuna memang menghadapi krisis, seperti yang disebutkan oleh Covey. Pada titik inilah, revolusi mental Arjuna dimulai. Krishna merubah cara berpikir Arjuna, mulai dengan menguraikan hakekat diri manusia yang sesungguhnya. Selanjutnya, secara garis besar, Sri Krishna menguraikan pengetahuan tentang hakekat Brahman, Atman, Karma, Reinkarnasi, Sifat Alam Material, dan sebagainya.
Krishna membangkitkan mental Arjuna dengan menegaskan sebagai berikut:
“Wahai putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu.”
“Wahai Putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati”
“Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah dengan demikian, engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”
Pada bagian akhir dari percakapan itu, Arjuna mendapatkan pencerahan jiwa. dan menyadari akan tugas kewajibannya sebagai seorang ksatria. Ia lalu mengangkat kembali busur Gandiwanya dan bertempur dengan gagah perkasa. Ia telah mengalami revolusi mental, dan mengalami perubahan paradigma.
Kini, saatnya masyarakat Hindu mempelajari wejangan Sri Krishna itu, yang telah mampu membuka mata Arjuna tentang hakekat hidup manusia di dunia ini. Untuk mendukung program revolusi mental yang sedang dicanangkan pemerintah saat ini, kiranya bisa dimulai dengan memahami revolusi mental yang dialami oleh Arjuna. Ajaran-ajaran etika, moral, dan spiritual yang dipaparkan dalam Bhagavad-gītā, bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi upaya membangun karakter manusia Indonesia yang lebih beradab dan bermartabat.
Oleh karena itu, kegiatan membaca dan mempelajari secara intensif Bhagavad-gītā, seperti yang dirintis oleh Prabhu Darmayasa saat ini melalui program Revolusi Bhagavad-gītā, kiranya bisa menjadi langkah awal bagi terbentuknya generasi muda Hindu yang memiliki karakter, teguh sraddhanya, dan gemar bekerja keras dalam melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan dan sesama makhluk. Semoga.

Loading Facebook Comments ...