Home » Articles posted by kangsury4nto (Page 2)

Author Archives: kangsury4nto

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

“Negeri India merupakan pusat berkumpulnya ribuan  dukun dan “orang suci”. Kondisi seperti ini tentunya semakin menambah daya pikat bagi manusia di berbagai belahan dunia untuk mengetahui siapa sebenarnya “Sang Avatar Sejati”. Kalau boleh disimpulkan Baba adalah raja dari segala raja dukun. Di India sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki kesaktian dan kemampuan di luar kebiasaan. Dewa yang disembah oleh penduduk India juga beragam. Hal ini juga didukung dengan berbagai sarana dan infrastruktur yang tersedia. Peran media audiovisual dan film-film yang beredar juga sangat kental dengan acara mistik dan kisah-kisah Mahabharata dan lain lain. Dengan demikian, penduduk India sudah sangat akrab dengan dunia klenik dan perdukunan.”

     Dikutip Dari buku ‘Dajjal Sudah Muncul dari Khurasan” karya Abu Fatiah Al-Adnani (2006: 243)

                           ***

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana sebagian kalangan Islam menyikapi ajaran dalam Weda tentang adanya awatara atau penjelmaan Tuhan ke dunia fana ini. Memang ada konteks tertentu yang melatarbelakangi munculnya tulisan tersebut, namun untuk kemudian menyimpulkan dan menggeneralisir bahwa “penduduk India telah akrab dengan dunia klenik dan perdukunan’ adalah sesuatu yang menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakmauan mereka memahami ajaran yoga dan meditasi dalam Hindu. (more…)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)

Berikut ini beberapa ‘cara ibadah’ yang saya amati dari ‘orang bule’, dua teman saya dari Ukraina yang sedang mengoperasikan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah itu…

Menjadikan Membaca sebagai Proses ‘Mendengar’ dan ‘Cara Ibadah’

Kegemaran membaca kedua orang teman Hindu dari Ukraina itu memang tidak diragukan lagi. Setiap malam, atau bahkan siang hari ketika kabut asap sangat pekat sehingga jarak pandang tidak memungkinkan mereka untuk terbang, maka membaca menjadi kegiatan utama mereka. Jalan-jalan atau nonton televisi, sepertinya sudah tidak lagi menarik bagi mereka. Mungkin sudah bosan juga, karena sudah sering mereka lakukan diberbagai negara sebelumnya…holy gadget (more…)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadatnya? (Bagian 1)

sadhvi bhagavati

Pertanyaan itu justru muncul dalam percakapan saya dengan beberapa teman lama, yang kebetulan beragama Islam dan Kristen, beberapa waktu lalu. Saat kami membicarakan makin tebalnya kabut asap di Kota Palangka Raya, maka obrolanpun akhirnya menyinggung dua orang Hindu dari Ukraina – yang satu pilot, satu lagi teknisi helikopter – yang sedang berusaha memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah bersama Tim BNPB itu. Sejak awal September hingga akhir November 2014, mereka dikontrak untuk upaya memadamkan api dari udara. Mengetahui bahwa saya sering terlihat bersama kedua orang itu, maka rekan-rekan saya itupun mengutarakan rasa ingin tahunya.OLYMPUS DIGITAL CAMERA (more…)

Nasib Dosen yang ‘Lahir Belakangan’, dan Rimba Baru Bernama Kuantitatif

Sejak digulirkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mereka yang berprofesi sebagai dosen bisa bernafas lega. Karena sejak saat itu, kesejahteraan dosen mulai lebih diperhatikan oleh pemerintah, diantaranya melalui program sertifikasi dosen (serdos). Mereka yang telah dianggap layak sebagai dosen profesional, akan mendapat Sertifikat Pendidik. Sebagai konsekuensinya, mereka yang telah tersertifikasi itu akan mendapatkan tunjangan sebesar satu kali gaji pokok. Tentu saja ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Tapi, adakah konsekuensi lain dari ‘mimpi indah peningkatan kesejahteraan itu?”

(more…)

Bhatara Narada Keturunan Nabi Adam, dan Pernikahan Jin Islam dan Dewa Hindu dalam Dunia Pewayangan

Narada MuniSebagaimana telah saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya, Rsi Narada yang dalam dunia pewayangan juga disebut Batara Narada atau Sang Hyang Kanekaputra, dimasukkan dalam sebuah silsilah yang dimulai dari Nabi Adam.

Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas alasan para wali dan pujangga Jawa dalam melakukan proses Islamisasi wayang, dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi figur, karakter, peran, dan kedudukan Batara Narada dalam Pewayangan, dengan mengacu pada hasil penelitian saya yang berjudul “TRANSFORMASI FIGUR, KARAKTER, DAN PERANAN ĀCĀRYA DALAM SASTRA HINDU INDIA KE DALAM DUNIA  WAYANG KULIT PURWA DI JAWA    (Studi Kasus terhadap Tokoh Ṛsi Nārada, Ṛsi Vyāsa, dan Dronācarya)

Baca juga artikel terkait :Rsi Narada, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?

Dalam tataran paham ajaran Hindu, kedudukan para dewa lebih tinggi derajat dan kemampuannya dibandingkan dengan manusia. Oleh karena itu, penempatan Bathara Narada sebagai keturunan Nabi Adam dan Hawa, sesungguhnya sulit untuk diterima dalam konsep agama Hindu. (more…)

Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?

Kreatif dan cerdas menangkap peluang bisnis. Mungkin begitulah istilah yang tepat untuk menggambarkan alasan dibalik akan hadirnya artis-artis pemeran serial Mahabharata ke Jakarta dan Bali bulan mendatang. Dengan kemasan program yang diberi judul “Panah Asmara Arjuna”, acara yang diprakarsai oleh Stasiun ANTV itu diprediksi akan berlangsung meriah. Kabar kehadiran para aktor tampan dan kekar dari India itu, sepertinya telah membuat histeria para penggemar setia mereka di Indonesia, terlebih kaum wanita. Perbincangan mengenai acara itu telah mewarnai media sosial.

Dari kacamata bisnis entertaintmen, hal itu tentu sah-sah saja. Tapi, ada yang sedikit mengusik pikiran saya, sejak saat pertama iklan itu muncul di televisi. Bukan karena tidak senang dengan kehadiran para artis itu ke Indonesia. Tapi penamaan dan konsep program itu yang membuat saya teringat sesuatu. (more…)

Batara Narada dalam Dunia Pewayangan, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?

“Saya sangat menggemari wayang. Kalau ada pertunjukan wayang, bisa nonton semalam suntuk. Saya juga senang sekali menonton film Mahabharata, Ramayana, serta Mahadewa lho…” demikian pernyataan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si dalam Studium General di Aula Kampus Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, Sabtu 20 September 2014. Guru besar yang pernah menduduki jabatan sebagai Dirjen Pendidikan Agama Islam itu sengaja diundang untuk memberikan kuliah umum guna mengawali kegiatan akademik Semester Ganjil Tahun Akademik 2014/2015.

Mantan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya itu berpesan agar para mahasiswa STAHN Tampung Penyang dapat meneledani para Pandawa dalam menggembleng diri agar menjadi manusia yang berkualitas. “Tirulah Bala Pandawa, mereka sedikit, tapi sangat kompeten dan berkualitas. Jangan seperti Bala Kaurawa, jumlah mereka 100 orang, tapi kualitas sumber daya manusianya sangat rendah. Suka berkonflik lagi… Apalagi, jangan sampai Anda jadi orang jahat seperti Sangkuni, lho ya…” tegas pria kelahiran Tuban, Jawa Timur itu.

(more…)

Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’

“Why Krishna and not Kristus? Mengapa Anda memilih sembahyang pada Krishna? Bagaimana Anda bisa menerima Krishna sebagai Tuhan?” pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari mulut saya. Saya sempat berkelakar pada mereka, bahwa selama ini, kalau saya melihat pria ‘bule’ menerbangkan pesawat-pesawat kecil di wilayah Kalimantan Tengah, pastilah mereka sedang melakukan pelayanan pada Kristus. Tumben, kali ini ada pilot bule yang menerbangkan helikopter di udara seputaran Palangka Raya, tapi sedang melayani Krishna…ha ha ha

 

mikhailo nikitenko
Setelah tiga hari bergaul dan lebih akrab dengan dua orang teman baru itu, saya tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Benar-benar ingin tahu, apa alasan dua orang dari Ukraina yang sedang bertugas memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu, memilih masuk Hindu dan menerima Sri Krishna sebagai Tuhan sesembahan mereka. Kok bisa-bisanya, ya? (more…)

Belajar Manajemen Modern dari Pengasingan Pandawa (1)

brihanala2Skenario Sangkuni berjalan mulus. Ia berhasil merebut kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa, melalui tipu muslihat dan perilaku curang. Demikianlah, di meja judi itu Yudhisthira dan adik-adiknya kehilangan segalanya: kerajaan, harga diri, dan terutama kesucian istri mereka, Drupadi. Duryodana dan Dursasana yang biadab, berniat menelanjangi Pancali dalam sidang kerajaan Hastinapura, dihadapan orang-orang suci seperti Bhisma, Guru Drona, Guru Kripa, dan para petinggi kerajaan lainnya. Raja Dhristarastra yang buta itu, justru terang-terangan mendukung perilaku tak manusiawi anak-anaknya, para Kurawa. Beruntung, secara gaib Draupadi diselamatkan oleh Sri Krishna.

Sangkuni dan Duryodana pun tersenyum puas. Permainan dadu dengan mata dadu yang telah dia rancang sedemikian rupa, berhasil mengeksploitasi sifat mulia sekaligus kelemahan Yudhisthira. Putra tertua Pandu itu senantiasa berpegang teguh pada dharma, ia pantang berkata bohong, selalu menepati kewajiban sebagai seorang ksatria. Sifat saleh Yudhisthira itu, sangat dipahami oleh Sangkuni. Dia tahu, bahwa pewaris sah tahta Hastinapura itu, tidak akan menolak bila diundang ke istana oleh pamannya, Raja Drhristarastra. Ia telah menganggap ayah para Kaurawa itu sebagai orang tuanya sendiri. Dia sama sekali tidak menaruh curiga, saat dalam undangan itu mereka juga diajak bermain dadu. Permainan dadu, pada masa itu, dianggap sebagai sebuah permainan asah otak belaka. Sejenis permainan catur, dan tidak dimaksudkan sebagai judi dengan pertaruhan harta benda seperti saat ini.

Akibat lain dari kekalahan dalam permainan dadu itu tak kalah menyengsarakan bagi para Pandawa. Duryodana, atas nasehat Sangkuni, memberikan hukuman berupa pengasingan selama 12 tahun bagi kelima putra Pandu dan Draupadi. Mereka harus meninggalkan kerajaannya, dan hidup ditengah hutan. Selain itu, setelah masa 12 tahun tersebut berakhir, Pandawa diharuskan menyamar selama satu tahun, dan tidak boleh ditemukan identitasnya oleh para Kaurawa. Jika mereka gagal, hukuman itu akan diulang lagi dari awal. Itulah siasat licik Sangkuni untuk menguasai kerajaan Indraprastha, tanpa harus melalui perang dan penaklukan bersenjata.

Karena berpegang teguh pada kebenaran, Yudhisthira memutuskan menerima pengasingan mereka. Tentu saja, mereka bertekad untuk mampu merebut kembali kerajaan mereka, setelah pembuangan itu berakhir. Itulah sebabnya, selama masa pengasingan itu, para Pandawa melakukan berbagai daya upaya demi meningkatkan kompetensi diri mereka masing-masing.

Kisah para Pandawa yang berada pada titik terendah kehidupan, hingga pada akhirnya mampu mengalahkan 100 orang Kaurawa, sungguh menginspirasi banyak tokoh manajemen modern. Mereka berusaha menganalisa dan merumuskan, nilai-nilai manajamen modern apa saja yang bisa dipetik dari kisah Mahabharata yang agung tersebut. Terutama, bila analisis yang digunakan adalah model analisis SWOT (Strenght, Weakness, Oportunity, dan Threat), yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau tantangan. Apa yang dilakukan Pandawa selama pengasingan, dan mampu menyamar selama setahun penuh tanpa dikenali oleh Kaurawa yang memiliki ‘sistem radar’ yang canggih itu? Bagaimana analisa SWOT itu ‘diterapkan’ oleh para Pandawa? Mari kita coba menyimaknya…(bersambung)…

Sri Krishna, Rsi Narada, dan Guru Drona dalam Dunia Pewayangan, sebuah Catatan Kecil…

 

bhatara kresno

bhatara kresno

Jujur, saya berterima kasih pada TPI (kini berubah menjadi MNC), Youtube, ANTV, dan media broadcast lain yang memfasilitasi masyarakat Indonesia saat ini untuk menikmati film Mahabharata, Ramayana, Mahadewa, dan sejenisnya. Film-film yang memvisualisasikan ajaran-ajaran yang tertuang dalam kitab-kitab Itihasa dan Purana itu, terbukti sangat digemari oleh masyarakat luas, bukan hanya oleh kalangan umat Hindu. Dulu, saat film Mahabharata pertama kali ditayangkan oleh TPI di awal tahun 1990-an, masyarakat Indonesia sangat menyukainya, dan sebagian diantaranya ada yang dengan ikhlas meninggalkan aktivitasnya saat itu, demi bisa menonton tayangan yang penuh nilai-nilai moral tersebut.

Tahun 2014 ini, saat film-film itu digarap dengan versi baru oleh StarTV India dan ditayangkan oleh ANTV  serta diupload secara lengkap di channel Youtube, terlihat jelas betapa rating-nya luar biasa. Komentar-komentar seputar perilaku tokoh-tokoh Mahabharata dan Mahadewa, dan tidak lupa fans pages pada artis-artis pemeran film-film bernuansa rohani Hindu itu, tampak jelas menghiasi media sosial seperti Facebook.

Saya sendiri khususnya selalu mengagumi Sri Krishna, Sri Wishnu, atau Sri Narayana, yang selalu tampil sebagai problem solver. Selalu mampu memberikan solusi dan alternatif jalan keluar pemecahan untuk setiap masalah yang dihadapi oleh para dewa dan umat manusia. Barangkali memang itulah salah satu ‘tupoksi (tugas pokok dan fungsi)’ beliau sebagai Pemelihara Alam Semesta. Dalam pakem-pakem dan lakon wayang purwa di Jawa, sifat Sri Krishna sebagai ‘problem solver’ dan sutradara itu tetap dipertahankan oleh para dalang. Meskipun wayang telah digunakan sebagai media dakwah bagi para wali songo, namun karakter dan sifat kehinduan Sri Krishna itu tidak banyak dimodifikasi. (more…)