Home » Krishna & Bhakti Yoga

Category Archives: Krishna & Bhakti Yoga

BHAGAVAD-GITA, PALANGKA RAYA, dan PERUBAHAN SELERA (Bagian 1)

Catatan Kecil dari Dharmathula di Wantilan Pura Pitamaha, 7 Juli 2015

Mr. Denys dan Mr. Mike sedang menerima percikan tirtha, saat mengikuti persembahyangan di Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015

Mr. Denys dan Mr. Mike sedang menerima percikan tirtha, saat mengikuti persembahyangan di Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015

“Sampai Setahun yang lalu, saya adalah seorang pemabuk dan peminum aneka merek Bir. Saya juga gemar berkata-kasar dan jorok. Singkatnya, saya punya semua kebiasaan buruk…” begitu ungkapan jujur Mr. Denys Neshcheretniev dihadapan para peserta kegiatan Dharmathula di Wantilan Pura Pitamaha Palangka Raya, 7 Juli 2015 yang lalu.

Teknisi helikopter “firefighter” asal Ukraina itu secara polos menceritakan kebiasaan masa lalunya, sebelum akhirnya bertemu dan mendalami ajaran Sri Krishna dalam kitab Bhagavad-gita.

Panitia memang sengaja mengajak kedua orang Hindu asal Ukraina itu untuk hadir dalam acara dharmathula menyambut hari raya Galungan 2015 itu, agar mereka bisa berbagi pengalaman kepada para peserta yang hadir.

Selain mahasiswa, acara dharmathula itu juga dihadiri oleh para tokoh umat Hindu, dosen, guru serta siswa-siswi pasraman yang ada di Kota Palangka Raya. Sebelum kegiatan membaca bersama sloka Bhagavad-gita dan acara dharmathula bertema “Telaah Dharma dalam kitab Bhagavad-gita” itu dimulai, kami meminta Mr. Mike dan Mr. Denys untuk mengungkapkan pengalaman hidup mereka, khususnya manfaat langsung yang mereka raih setelah mendalami Bhagavad-gita.

Pembukaan Dharmathula oleh Ketua PHDI Provinsi Kalimantan Tengah

Pembukaan Dharmathula oleh Ketua PHDI Provinsi Kalimantan Tengah

Pengalaman mereka itu tentu akan sangat menarik, mengingat sebelumnya mereka berasal dari masyarakat yang boleh dikatakan tidak begitu percaya dengan keberadaan Tuhan. Menariknya lagi, mereka juga terlahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristiani yang cukup orthodox di negaranya.

Di tengah begitu derasnya arus konversi umat Hindu di Kalimantan Tengah beralih ke Kristen, mendengarkan pengalaman orang Kristen yang beralih menjadikan Krishna dan Bhagavad-gita sebagai pedoman hidup mereka, tentu akan menjadi informasi yang cukup menarik.

Jadilah, kedua orang itu maju ke mimbar, dan Mr. Denys secara terus terang menceritakan pengalaman hidupnya yang berubah secara drastis, justru setelah bertugas di ‘rimba Kalimantan Tengah” ini.

“Beruntung, saya dipertemukan dengan kitab Bhagavad-gita, justru di sini, di Kota Palangka Raya ini. Sejak itu, secara perlahan, cara saya memandang dan memaknai hidup ini mulai berubah. Saya tak lagi merasa bahwa dunia ini diciptakan untuk sepenuhnya kepuasan panca indera saya semata. Selera saya juga berubah…” ujarnya lagi.

Peristiwa apa yang menggiring perubahan dalam hidupnya itu? Ya, kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya sejak awal Mei 2014, Mr. Denys mulai mengenal Indonesia. Bersama tak kurang dari lima belas orang temannya yang sama-sama berasal dari Ukraina, ia ditugaskan sebagai teknisi perawatan (maintenance) helikopter yang disewa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan kegiatan pemadaman kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mereka tersebar di Papua, Palembang, Pontianak, dan Palangka Raya. Selain mereka, ada sejumlah pilot yang bertugas secara berotasi untuk menerbangkan helikopter Jenis Mi-8 buatan Ukraina itu.

mike and heliheliin caticn

 

Malangnya, belum genap dua bulan bertugas di Indonesia, serentetan kejadian menghebohkan menimpa tim mereka. Tiga orang teknisi mereka meninggal dunia secara beruntun, dengan indikasi terkena serangan jantung mendadak. Pengunjung dan tamu Hotel Grand Global Palangka Raya mendadak heboh, ketika mereka menemukan salah seorang teknisi asal Ukraina sudah tidak bernyawa di kamar hotelnya, Kamis (12/6/2014). Kedua, tanggal 29/8/2014, satu lagi pekerja asal Ukraina itu ditemukan mendadak tewas dengan tubuh membiru di sebuah hotel di Pontianak. Lalu, tanggal 27 September 2014, lagi-lagi salah seorang pekerja yang berjibaku mengurangi ekspor asap ke negara-negara tetangga Indonesia itu, ditemukan sudah meninggal dunia di toilet hotel Aryadhuta Palembang. Berita kematian mereka menghiasi halaman media-media nasioal cetak dan online. (Kompas.com, 12/06/2014; tribunnews.com, 30/08/2014; Jpnn.com,28/09/2014), dan lain-lain.

“Sungguh mengerikan. Sebelum ini, kami pernah bertugas selama 4 tahun di Afghanistan, dan selama itu, hanya dua orang teman kami yang meninggal. Mereka meninggal karena berbagai serangan dan kecelakaan, karena memang negara itu sedang mengalami konflik…” tutur Mr. Denys dan Mr. Mike pada saya, saat saya baru berkenalan dengan mereka pada sekitar bulan Juli 2014.

“Tapi disini, di Indonesia, tiga orang teman kami meninggal dunia hanya dalam selang waktu sekitar tiga bulan. Sungguh menyedihkan, karena mereka meninggal akibat menenggak minuman keras tradisional yang terlalu tinggi kadar alkoholnya” lanjut mereka. Jelas sekali mereka merasa terguncang akibat peristiwa itu.

Begitulah. Tidak dipungkiri, bahwa di negara asal mereka Ukraina, meminum bir dan minuman keras lainnya adalah kebiasaan yang tidak mengherankan, karena memang negara itu kerap dilanda salju. Saat musim dingin, bir dengan kadar alkohol yang sangat rendah, menjadi teman hidup mereka untuk mengusir hawa dingin. Tapi di Indonesia, minuman keras seperti arak, baram dan sejenisnya itu memiliki kandungan alkohol yang terlalu tinggi dan berbahaya bagi kesehatan mereka.

Kita tentu masih ingat saat beberapa teknisi pesawat tempur Sukhoi dari Rusia ditemukan meninggal dunia setelah pesta minuman keras di Makasar, pada 14 September 2010 lalu. Ternyata mereka mencampur minuman keras lokal merek “ballo” dengan spiritus dan bahan-bahan lainnya.

Sumber Tribun menyebutkan, sejumlah anggota tim garansi pesawat Sukhoi melakukan pesta miras di mes mereka di kawasan Lanud Sultan Hasanuddin. Beredar kabar, korban tewas karena keracunan usai meminum minuman keras (miras) lokal jenis ballo. “Ada dugaan mereka bereksperimen mencoba miras lokal yang bagi orang Eropa ini mungkin terasa aneh. Mereka pun ramai- ramai meminum dalam jumlah banyak,” ujar sumber tersebut, Selasa (14/9) tengah malam. Para pria bule ini diduga “bereksperimen” dengan menenggak ballo dalam jumlah yang cukup banyak. Sementara mereka sebelumnya tidak familiar dengan minuman tersebut. “Informasi di lapangan seperti itu. Orang Rusia suka minuman beralkohol karena di negaranya dingin sehingga tubuh perlu dihangatkan. Tapi di Indonesia suhunya berbeda,” kata sumber tersebut. Yang menjadi pertanyaan, dari mana ballo tersebut bisa masuk ke dalam area Pangkalan Udara TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar. Lalu siapa yang memasok miras tersebut ke dalam kompleks militer ini (Tribun Timur, Rabu, 15/09/2010).

Sejak peristiwa maut itulah, Mr. Denys mulai banyak merenung. Bagaimana jika dia juga mengalami mati mendadak seperti teman-temannya itu?
“Bagaimana kalau saya tiba-tiba juga ditemukan tewas di kamar, hanya karena overdosis minuman beralkohol? Apa persiapan saya untuk menghadapi kematian mendadak begitu?” ujar Mr. Denys pada saya, saat suatu malam kami berbincang di kamar hotelnya.

Meski merasa takut dengan maut, tapi dia mengaku bahwa meninggalkan rokok dan alkohol bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Dorongan kebiasaan buruk itu terlalu kuat mencengkeram kesadarannya. Apalagi, menurutnya, hampir semua teman dalam timnya punya kebiasaan minum, merokok, dan bahkan main perempuan. Maklumlah, mereka butuh semua itu untuk mengusir kejenuhan, karena bertugas berbulan-bulan di negara orang, dan terpisah jauh dari istri dan keluarga.

“Jadi bagi saya, Palangka Raya adalah tempat yang sangat penting dalam pencarian kehidupan spiritual saya. Karena itu, Anda-Anda pemuda-pemudi yang ganteng dan cantik yang berkumpul di sini, jangan sia-siakan kesempatan ini. Pelajarilah Bhagavad-gita, dan biarkan kesadaran dan hidup Anda berubah. Temukan ‘Higher Taste’ itu…” pesannya kepada para mahasiswa dan pemuda pemudi yang hadir dalam acara yang diprakarsai oleh UKM Penalaran STAHN Tampung Penyang Palangka Raya itu.

Orang Ukraina, menemukan ajaran Bhagavad-gita di Palangka Raya? Bagaimana ceritanya?

AutoBiografi Mahatma Gandhi, Gerobak Bakso, dan Perjumpaan dengan Hare Krishna (1)

DSC_9489“Bagaimana dengan Anda sendiri? Bagaimana Anda menjadi Hindu? Sejak kapan Anda bertemu dengan ajaran Kesadaran Krishna ini?”

Demikian dua teman dari Ukraina itu balik bertanya. Mereka sudah panjang lebar bercerita tentang perkenalan mereka dengan ajaran Hindu. Kini, gantian mereka yang ingin tahu kisah saya. Bagaimana ceritanya, saya sampai bisa bertemu dengan ajaran Bhakti Yoga yang memfokuskan pemujaan kepada Sri Krishna sebagai Isthadevata itu? Karena ajaran Krishna dalam Bhagavad-gita itulah, kami dipertemukan dan menjadi lebih akrab dari saudara saat ini.

(more…)

Dikenal Sebagai Awatara Wishnu, Mengapa Sri Krishna Dipuja Sebagai Tuhan Yang Maha Esa?

Menyaksikan sabda Krishna kepada Arjuna dalam Film Mahabharata, menyisakan banyak tanda tanya dalam benak orang. Dalam percakapan yang selanjutnya dikenal luas sebagai Bhagavad-gita itu, Krishna menyatakan kepada Arjuna bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Padahal, selama ini Sri Krishna dikenal sebagai salah satu dari sepuluh awatara atau penjelmaan Sri Wishnu. Selain itu, Sri Wishnu sendiri oleh kebanyakan umat Hindu dikenal sebagai salah satu dari Tri Murti Hindu, yaitu Brahma, Wishnu, dan Siwa. Tidakkah hal itu membingungkan? (more…)

Konsep Awatara dalam Hindu dan Kontroversinya

 

Swami Krishnananda, dalam bukunya A Short History of Religious and Philosophic Thought in India (1994: 62) mengakui bahwa teori adanya awatara atau penjelmaan Tuhan (divine incarnation) ke dunia ini telah menjadi isu yang kontroversial dalam filsafat agama dan telah menjadi salah satu pertanyaan dan perdebatan menarik dalam kajian teologi atau ilmu ketuhanan. Bukan hanya menjadi pertanyaan bagi agama lain, beberapa sekte dalam Hindu sendiri pun tidak mengakui adanya konsep awatara tersebut.

Subramuniyaswami (1997: 601) menjelaskan bahwa di antara empat sekte terbesar Hindu, yaitu Saiwa, Waisnawa, Sakta, dan Smarta, sekte Saiwa tidak mengakui adanya doktrin awatara tersebut. Dalam hal ini, para penganut Saiwa menganggap tidak ada penjelmaan Tuhan yang hadir ke dunia ini. Sedangkan ajaran atau doktrin awatara, sangat dominan terutama dalam sekte Waisnawa atau pemuja Wisnu. Para Waisnawa meyakini, setidaknya ada sepuluh penjelmaan Wisnu yang telah muncul melakukan misinya di alam semesta ini. Dua sekte lainnya, yaitu Sakta dan Smarta meyakini bahwa Tuhan dan para dewa dapat saja menjelma ke bumi ini. (more…)

Kontroversi Film Mahabharata dan Mahadewa: Meyakini Adanya Awatara, Berarti ‘Menyekutukan Tuhan’ ?

“Negeri India merupakan pusat berkumpulnya ribuan  dukun dan “orang suci”. Kondisi seperti ini tentunya semakin menambah daya pikat bagi manusia di berbagai belahan dunia untuk mengetahui siapa sebenarnya “Sang Avatar Sejati”. Kalau boleh disimpulkan Baba adalah raja dari segala raja dukun. Di India sendiri banyak sekali orang-orang yang memiliki kesaktian dan kemampuan di luar kebiasaan. Dewa yang disembah oleh penduduk India juga beragam. Hal ini juga didukung dengan berbagai sarana dan infrastruktur yang tersedia. Peran media audiovisual dan film-film yang beredar juga sangat kental dengan acara mistik dan kisah-kisah Mahabharata dan lain lain. Dengan demikian, penduduk India sudah sangat akrab dengan dunia klenik dan perdukunan.”

     Dikutip Dari buku ‘Dajjal Sudah Muncul dari Khurasan” karya Abu Fatiah Al-Adnani (2006: 243)

                           ***

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana sebagian kalangan Islam menyikapi ajaran dalam Weda tentang adanya awatara atau penjelmaan Tuhan ke dunia fana ini. Memang ada konteks tertentu yang melatarbelakangi munculnya tulisan tersebut, namun untuk kemudian menyimpulkan dan menggeneralisir bahwa “penduduk India telah akrab dengan dunia klenik dan perdukunan’ adalah sesuatu yang menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakmauan mereka memahami ajaran yoga dan meditasi dalam Hindu. (more…)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadahnya? (bagian 2)

Berikut ini beberapa ‘cara ibadah’ yang saya amati dari ‘orang bule’, dua teman saya dari Ukraina yang sedang mengoperasikan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah itu…

Menjadikan Membaca sebagai Proses ‘Mendengar’ dan ‘Cara Ibadah’

Kegemaran membaca kedua orang teman Hindu dari Ukraina itu memang tidak diragukan lagi. Setiap malam, atau bahkan siang hari ketika kabut asap sangat pekat sehingga jarak pandang tidak memungkinkan mereka untuk terbang, maka membaca menjadi kegiatan utama mereka. Jalan-jalan atau nonton televisi, sepertinya sudah tidak lagi menarik bagi mereka. Mungkin sudah bosan juga, karena sudah sering mereka lakukan diberbagai negara sebelumnya…holy gadget (more…)

Ketika Orang Bule Jadi Hindu, Bagaimana Cara Beribadatnya? (Bagian 1)

sadhvi bhagavati

Pertanyaan itu justru muncul dalam percakapan saya dengan beberapa teman lama, yang kebetulan beragama Islam dan Kristen, beberapa waktu lalu. Saat kami membicarakan makin tebalnya kabut asap di Kota Palangka Raya, maka obrolanpun akhirnya menyinggung dua orang Hindu dari Ukraina – yang satu pilot, satu lagi teknisi helikopter – yang sedang berusaha memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah bersama Tim BNPB itu. Sejak awal September hingga akhir November 2014, mereka dikontrak untuk upaya memadamkan api dari udara. Mengetahui bahwa saya sering terlihat bersama kedua orang itu, maka rekan-rekan saya itupun mengutarakan rasa ingin tahunya.OLYMPUS DIGITAL CAMERA (more…)

Bhatara Narada Keturunan Nabi Adam, dan Pernikahan Jin Islam dan Dewa Hindu dalam Dunia Pewayangan

Narada MuniSebagaimana telah saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya, Rsi Narada yang dalam dunia pewayangan juga disebut Batara Narada atau Sang Hyang Kanekaputra, dimasukkan dalam sebuah silsilah yang dimulai dari Nabi Adam.

Dalam tulisan ini, saya mencoba membahas alasan para wali dan pujangga Jawa dalam melakukan proses Islamisasi wayang, dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi figur, karakter, peran, dan kedudukan Batara Narada dalam Pewayangan, dengan mengacu pada hasil penelitian saya yang berjudul “TRANSFORMASI FIGUR, KARAKTER, DAN PERANAN ĀCĀRYA DALAM SASTRA HINDU INDIA KE DALAM DUNIA  WAYANG KULIT PURWA DI JAWA    (Studi Kasus terhadap Tokoh Ṛsi Nārada, Ṛsi Vyāsa, dan Dronācarya)

Baca juga artikel terkait :Rsi Narada, Keturunan Nabi Adam dan Bergelar Haji?

Dalam tataran paham ajaran Hindu, kedudukan para dewa lebih tinggi derajat dan kemampuannya dibandingkan dengan manusia. Oleh karena itu, penempatan Bathara Narada sebagai keturunan Nabi Adam dan Hawa, sesungguhnya sulit untuk diterima dalam konsep agama Hindu. (more…)

Sudah Menikahi 16 Wanita Indonesia, Masih Perlukah Shaheer Sheikh ‘Arjuna’ Kembali Melepaskan Panah Asmaranya?

Kreatif dan cerdas menangkap peluang bisnis. Mungkin begitulah istilah yang tepat untuk menggambarkan alasan dibalik akan hadirnya artis-artis pemeran serial Mahabharata ke Jakarta dan Bali bulan mendatang. Dengan kemasan program yang diberi judul “Panah Asmara Arjuna”, acara yang diprakarsai oleh Stasiun ANTV itu diprediksi akan berlangsung meriah. Kabar kehadiran para aktor tampan dan kekar dari India itu, sepertinya telah membuat histeria para penggemar setia mereka di Indonesia, terlebih kaum wanita. Perbincangan mengenai acara itu telah mewarnai media sosial.

Dari kacamata bisnis entertaintmen, hal itu tentu sah-sah saja. Tapi, ada yang sedikit mengusik pikiran saya, sejak saat pertama iklan itu muncul di televisi. Bukan karena tidak senang dengan kehadiran para artis itu ke Indonesia. Tapi penamaan dan konsep program itu yang membuat saya teringat sesuatu. (more…)

Sri Krishna, Pilot dari Ukraina, dan Kegalauan Seorang ‘Atheist’

“Why Krishna and not Kristus? Mengapa Anda memilih sembahyang pada Krishna? Bagaimana Anda bisa menerima Krishna sebagai Tuhan?” pertanyaan itu akhirnya terlontar juga dari mulut saya. Saya sempat berkelakar pada mereka, bahwa selama ini, kalau saya melihat pria ‘bule’ menerbangkan pesawat-pesawat kecil di wilayah Kalimantan Tengah, pastilah mereka sedang melakukan pelayanan pada Kristus. Tumben, kali ini ada pilot bule yang menerbangkan helikopter di udara seputaran Palangka Raya, tapi sedang melayani Krishna…ha ha ha

 

mikhailo nikitenko
Setelah tiga hari bergaul dan lebih akrab dengan dua orang teman baru itu, saya tak bisa lagi menahan rasa penasaran. Benar-benar ingin tahu, apa alasan dua orang dari Ukraina yang sedang bertugas memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana itu, memilih masuk Hindu dan menerima Sri Krishna sebagai Tuhan sesembahan mereka. Kok bisa-bisanya, ya? (more…)