Home » Krishna & Bhakti Yoga (Page 2)

Category Archives: Krishna & Bhakti Yoga

Belajar Manajemen Modern dari Pengasingan Pandawa (1)

brihanala2Skenario Sangkuni berjalan mulus. Ia berhasil merebut kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa, melalui tipu muslihat dan perilaku curang. Demikianlah, di meja judi itu Yudhisthira dan adik-adiknya kehilangan segalanya: kerajaan, harga diri, dan terutama kesucian istri mereka, Drupadi. Duryodana dan Dursasana yang biadab, berniat menelanjangi Pancali dalam sidang kerajaan Hastinapura, dihadapan orang-orang suci seperti Bhisma, Guru Drona, Guru Kripa, dan para petinggi kerajaan lainnya. Raja Dhristarastra yang buta itu, justru terang-terangan mendukung perilaku tak manusiawi anak-anaknya, para Kurawa. Beruntung, secara gaib Draupadi diselamatkan oleh Sri Krishna.

Sangkuni dan Duryodana pun tersenyum puas. Permainan dadu dengan mata dadu yang telah dia rancang sedemikian rupa, berhasil mengeksploitasi sifat mulia sekaligus kelemahan Yudhisthira. Putra tertua Pandu itu senantiasa berpegang teguh pada dharma, ia pantang berkata bohong, selalu menepati kewajiban sebagai seorang ksatria. Sifat saleh Yudhisthira itu, sangat dipahami oleh Sangkuni. Dia tahu, bahwa pewaris sah tahta Hastinapura itu, tidak akan menolak bila diundang ke istana oleh pamannya, Raja Drhristarastra. Ia telah menganggap ayah para Kaurawa itu sebagai orang tuanya sendiri. Dia sama sekali tidak menaruh curiga, saat dalam undangan itu mereka juga diajak bermain dadu. Permainan dadu, pada masa itu, dianggap sebagai sebuah permainan asah otak belaka. Sejenis permainan catur, dan tidak dimaksudkan sebagai judi dengan pertaruhan harta benda seperti saat ini.

Akibat lain dari kekalahan dalam permainan dadu itu tak kalah menyengsarakan bagi para Pandawa. Duryodana, atas nasehat Sangkuni, memberikan hukuman berupa pengasingan selama 12 tahun bagi kelima putra Pandu dan Draupadi. Mereka harus meninggalkan kerajaannya, dan hidup ditengah hutan. Selain itu, setelah masa 12 tahun tersebut berakhir, Pandawa diharuskan menyamar selama satu tahun, dan tidak boleh ditemukan identitasnya oleh para Kaurawa. Jika mereka gagal, hukuman itu akan diulang lagi dari awal. Itulah siasat licik Sangkuni untuk menguasai kerajaan Indraprastha, tanpa harus melalui perang dan penaklukan bersenjata.

Karena berpegang teguh pada kebenaran, Yudhisthira memutuskan menerima pengasingan mereka. Tentu saja, mereka bertekad untuk mampu merebut kembali kerajaan mereka, setelah pembuangan itu berakhir. Itulah sebabnya, selama masa pengasingan itu, para Pandawa melakukan berbagai daya upaya demi meningkatkan kompetensi diri mereka masing-masing.

Kisah para Pandawa yang berada pada titik terendah kehidupan, hingga pada akhirnya mampu mengalahkan 100 orang Kaurawa, sungguh menginspirasi banyak tokoh manajemen modern. Mereka berusaha menganalisa dan merumuskan, nilai-nilai manajamen modern apa saja yang bisa dipetik dari kisah Mahabharata yang agung tersebut. Terutama, bila analisis yang digunakan adalah model analisis SWOT (Strenght, Weakness, Oportunity, dan Threat), yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau tantangan. Apa yang dilakukan Pandawa selama pengasingan, dan mampu menyamar selama setahun penuh tanpa dikenali oleh Kaurawa yang memiliki ‘sistem radar’ yang canggih itu? Bagaimana analisa SWOT itu ‘diterapkan’ oleh para Pandawa? Mari kita coba menyimaknya…(bersambung)…

Sri Krishna Jayanti – Perayaan Kelahiran Sang Pembebas…

Happy Sri Krishna Janmasthami, 18 Agustus 2014…..Selamat merayakan hari agung memperingati kelahiran dan kemunculan Sri Krishna di bumi ini. Meski tidak termasuk dalam salah satu hari raya Hindu di Indonesia, seperti halnya hari raya Siwaratri, di India, perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Sri Krishna Jayanti ini, dirayakan secara besar-besaran, bahkan oleh dulu umat Islam yang belum ‘terkontaminasi’ oleh paham-paham radikal di wilayah-wilayah tertentu….Menurut perhitungan ahli astronomi dan astrologi Veda, Kaliyuga (zaman Kali) dimulai tepat pada saat Sri Krishna mengakhiri lila rohaninya di dunia ini pada tanggal 18 Februari 3102 Sebelum Masehi. Itulah sebabnya, dalam kalender atau penanggalan Bali, misalnya, kita temukan penyebutan Tahun Kaliyuga bertepatan dengan tahun 2014 Maseh ini adalah 5116 Kaliyuga.Berdasarkan uraian tentang konstelasi berbagai planet dan benda-benda angkasa yang ada dalam kitab Mahabharata, para ahli Jyotisha memperkirakan bahwa saat ‘berpulang’ kembali ke dunia rohani itu, Sri Krisha berusia kurang lebih 125 tahun.

(more…)

Bhagavad-Gita, Kitab Suci Penganjur Perang dan Kekerasan?

Ada sekelompok orang yang mengatakan Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang di medan perang Kuruksetra. Padahal, menurut mereka, Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya membunuh kakek, guru, kerabat dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai. Benarkah anggapan itu? Benarkah Bhagavad-gita semata mata mengajarkan perang dan kekerasan?
“Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk baca Bhagavad-gita. Bukankah justru gara-gara ayat-ayat suci itu manusia saling berperang?” cetus seorang teman dalam sebuah diskusi di ashram. Kebetulan dia baru pertama kali itu hadir dalam acara pendalaman Bhagavad-gita yang kami lakukan rutin setiap hari minggu siang. (more…)