Home » Catatan Perjalanan

Category Archives: Catatan Perjalanan

BERTEMU TUHAN DI GEROBAK BAKSO : Minggu Tenang, dan Derita Bathin Mahasiswa Miskin (1)

gerobak baksoTukang bakso plat merah? Iya, ya…. Mengapa baru di hari kesebelas ini kenangan lama itu terkorek kembali? Selama sepuluh hari sejak tiba dari Yogya kemarin, pikiranku memang fokus melengkapi berkas CPNS-ku. Kemarin-kemarin, kulewati Jalan G. Obos Induk ini tanpa memaknainya. Sekedar melintas untuk menuju tempat kerja baruku.
Tapi hari ini, tiba-tiba kurasakan keharuan menyergap, saat aku keluar dari Jalan Sisingamangaraja dan masuk Jalan G. Obos. Hmmmm… inikah rahasiamu, Tuhan? Inikah yang Engkau rencanakan bagi hidupku? Bagiku, selamanya Jalur G. Obos adalah Jalan Kenangan. Ya, bahkan ia sempat menjadi jalan hidupku. Dulu, aku selalu berpeluh mandi keringat saat menelusuri jalan utama menuju Masjid Raya Palangka ini, selama lima semester awal kuliahku. Setahun penuh aku bahkan pernah menapakinya dengan berjalan kaki beralaskan sandal jepit. (more…)

Tukang Bakso ‘Plat Merah” (Part II)

Semua itu berawal dari kebingunganku mencari biaya hidup sehari-hari. Dan pastinya biaya kuliah. Semester I, aku sempat numpang hidup di kios sempit dipinggir jalan di Pasar Mini, pas di pertigaan Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pangeran Samudra saat itu. Pemiliknya tetangga kampungku di Pangkoh IV, dan dia berjualan bensin eceran. Di sela-sela kuliah, aku membantu berjualan bensin. Lumayan, setidaknya aku dikasih makan siang sekali sehari.
Tak betah disitu, aku lantas ikut kerja mebel kayu sambil kerja bangunan di Jl. Kecubung, Komplek Perumahan Palangka Permai, dekat Masjid Raya. Sekarang komplek itu lebih dikenal dengan nama Perumahan G. Obos XII. Di mebel yang pemiliknya kenalan ayahku, dan pernah tinggal di Pangkoh itu, aku ditugasi mengamplas pintu, jendela, atau kusen. Sesekali aku diminta membantu membuat adonan luluh (campuran semen dan pasir), membantu menantu pemilik mebel itu yang pemborong bangunan.
Dengan begitu, aku bisa dapat makan tiga kali sehari, dan dapat tempat menginap gratis. Untuk biaya beli kertas membuat laporan dan makalah, aku terpaksa meminta bantuan dari temanku, yang ikhlas memberiku setelah kubantu membuatkan laporan atau makalahnya. Satu semester berlalu…untuk membayar SPP semester II-ku yang hanya sekitar Rp 165.000 per semester waktu itu, aku kumpulkan dari honor sukarela yang kudapat dari membantu ngaduk semen itu. Tentu saja tidak cukup. Untuk menggenapinya, aku harus berhutang pada keluarga teman seangkatanku Jurusan Kimia, yang ayahnya saat itu berjualan di Kantin FKIP. Di rumah keluarga temanku itulah aku sering numpang makan, setiap kali aku kelaparan. Aku berhutang budi pada mereka, dan belum bisa membalasnya hingga kini.
Lalu, kapan aku bertemu dengan bos baksoku yang orang Padang itu?
Awal semester II, aku mendapat secercah harapan. Salah seorang dosenku menawari aku untuk tinggal dan menjaga kios kecilnya di komplek Amaco, Jalan Raya Galaxy. Kios itu berukuran kurang lebih 3 x 4 meter, menjual sembako dan kebutuhan sehari-hari. Di belakang kios itu ada rumah BTN milik dosen itu, yang disewakan kepada mahasiswa dari pulau Sumatra. Jadilah kios itu sebagai tempat tinggalku. Pakaian, buku-bukuku menyatu dengan barang-barang yang dijual di kios itu. Untuk kebutuhan makanku, setiap pagi aku harus berjalan kaki mengambilnya ke rumah di kompleks dosen itu di Jalan Yos Sudarso. Tidak ada fasilitas untuk masak atau bahkan merebus air sekalipun di kios itu. Aku kadang harus mengambil makan jam 5 pagi, saat pembantunya belum selesai masak. Jadilah makanan sisa hari kemarin yang ku konsumsi sehari penuh. Saat aku harus kuliah, aku digantikan oleh sang istri, yang menurutku cukup galak orangnya…(hehehe …maaf).
Bukan aku tidak tahu membalas budi, atau berniat mengungkap keburukan orang yang telah berjasa membantuku. Tapi selama di kios itu, aku tak mendapatkan apa yang semula dijanjikan. Aku masih harus membantu teman-temanku mengerjakan tugas, agar aku bisa dapat kertas untuk mengumpul tugasku. Bajuku pun tak pernah berganti selama satu semester. Sampai akhirnya ada seorang teman kuliahku, seorang ibu-ibu guru di SMP Muhammadiyah Palangka Raya, yang membelikan baju kuliah untukku. Dia beralasan membeli baju untuk suaminya, tapi kekecilan, karenanya ditawarkan ke aku. Mungkin supaya aku tidak tersinggung. Dan barangkali juga dia sudah tidak tahan dengan bau bajuku yang itu-itu saja, jarang dicuci pula.
Ini tidak bagus kalo kuceritakan, tapi memang kisah nyata. Karena sering tak dapat jatah makan, aku sering kelaparan. Tetanggaku di komplek itu lalu mengajariku untuk berbuat tidak jujur.
“Sudahlah, kamu ambil saja Mie goreng itu di kardus, To. Daripada kamu kelaparan begitu… Kalau mau rebus, ini ada panci dan kompor…” begitu salah satu tetangga kiosku membujuk. Rupanya mereka kasihan melihat kondisiku. Tapi aku juga tidak berani ceroboh mengambil makanan sembarangan. Meski aku kelaparan, aku pilih menahan diri. Soalnya setiap barang yang keluar harus aku catat di pembukuan, sedetil-detilnya. Permen seratus perakpun harus kucatat, dan semua harus klop dengan catatan belanja sebelumnya….Biaya kuliah yang dijanjikan sebelumnya, tak kunjung kudapatkan juga…
Salah satu pembeli yang sering mengunjungi kiosku adalah orang berperawakan tinggi besar, berwajah penuh wibawa, dengan jenggot yang panjang seperti penampilan orang Afganisthan. Dia tinggal tepat di samping kanan rumah dan kios yang aku tempati itu. Dari pembantunya yang sering belanja di kiosku aku akhirnya aku tahu, bahwa orang itu bekerja sebagai konsultan proyek-proyek di Dinas PU Palangka Raya. Setiap hari aku melihat seorang sopir datang ke rumahnya. Mobil dinasnya kijang warna biru, plat merah, dengan Nomor B 1789 FQ. Kabarnya, istrinya yang asli Sunda itu adalah seorang dokter umum yang bertugas di Rumah Sakit di Palangka Raya.
Sesekali, suami istri itu memang melintas di depan kiosku, saat mereka jalan kaki pagi hari. Mereka terlihat ramah, dan sering menganggukkan kepala saat melihat aku berada di dalam kios. Saat sesekali belanja di kiosku, Bapak itu memang sempat menanyakan pekerjaanku. Rupanya sesekali dia melihat aku pulang membawa buku, saat berangkat atau pulang kuliah. Kujawab bahwa aku sambil kuliah, dan menjaga kios itu sebagai pekerjaan sambilan….
Hampir satu semester berlalu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan di kios itu. Takut kalau meninggalkan kios itu, nilai matakuliahku akan diotak-atik oleh dosenku itu. Aku memutar otak, setiap hari berusaha memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat itu. Aku butuh biaya hidup dan biaya kuliah. Kalau terus-terusan begini, aku tak bisa membiayai kuliahku sendiri.
Suatu hari, inspirasi itu datang. Kakak tingkatku yang kuliah di Jurusan fisika, ada yang kuliah sambil berjualan nasi goreng di malam hari. Hampir setiap malam dia lewat di komplek Amako, bahkan sering kali di atas jam 12 malam. Aku sangat mengagumi Mas Sulkhan, itu nama kakak tingkatku itu. Dia mampu kuliah secara mandiri, hanya dengan berjualan nasi goreng.
Saat kuminta pertimbangan soal keadaanku, dia menganjurkan agar aku mencoba mandiri. Berusaha sendiri seperti yang dia lakukan. Tapi dia menyarankan aku untuk tidak berjualan nasi goreng, karena melihat badanku yang kurus kerempeng. Jualan nasi goreng malam hari butuh stamina ekstra, dan aku tidak mungkin kuat menjalaninya. Mas Sulkhan saat itu sudah berkeluarga, meski belum lulus kuliah. Istrinyalah yang menyiapkan semua kebutuhan untuk berjualan nasi goreng itu. Kalau aku sendirian, tidak mungkin aku bisa membagi waktu sambil kuliah.
Aku manggut-manggut mendengar sarannya. Tapi aku bingung, harus kerja apa? Berjualan apa yang bisa kulakukan di siang hari atau sore hari, tapi tidak terlalu menguras tenaga? Aha…bakso. Ya, terlintas saat itu bagaimana kalau aku jualan bakso dengan membuat dan menjualnya sendiri, tidak ikut bos bakso seperti para penjual bakso dorong yang banyak dilakoni oleh teman-teman penjaja bakso itu? Aku tidak mungkin ikut orang, karena harus membagi waktu dengan kuliahku. Tapi, berjualan bakso? Dari mana modalku berjualan? Darimana aku bisa mendapatkan gerobak baksonya? Bagaimana belanja bahan dan proses membuatnya? (bersambung…)

Tukang Bakso ‘Plat Merah’…

Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I...

Photoku (barisan depan, tengah berbaju coklat pakai kokarde) bersama teman-teman jurusan MIPA FKIP Unpar Angkatan 1994. Aku sempat ikut lomba cerdas cermat Kimia saat itu. Untungnya, Tim kami dari Prodi Fisika keluar sebagai juara I…

Awal Juni 2010. Siang itu aku melintasi Jalan Yos Sudarso, dalam perjalanan pulang dari kampus STAH Tampung Penyang di Jalan G Obos X. Baru saja aku menyerahkan berbagai dokumen dan berkas lain untuk kelengkapan persyaratan sebagai CPNS. Teriknya matahari membuatku ingin membeli sesuatu untuk menghilangkan dahaga. Tadi pagi aku memang tidak sempat sarapan, karena memang belum ada masakan di rumah. Istriku masih di Yogyakarta, belum kuboyong ke Palangka Raya, menunggu anakku lulus sekolah TK-nya. Seingatku, di sepanjang Jalan Yos Sudarso itu banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan.

Kuhampiri penjaja pencok buah yang biasa mangkal di seputaran depan kantor TVRI Kalteng, tepatnya dipojok kiri depan Hotel Dandang Tingang. Sebenarnya sudah seminggu ini aku melihat orang itu berdagang di situ, karena sementara ini aku tinggal menumpang di komplek Pura Pitamaha di Jalan Kinibalu. Setiap pulang pergi ke ke kampus, sekilas aku bisa melihat para pedagang berjajar disekitar itu. Tapi baru kali ini aku menghampiri pedagang laki-laki yang tampaknya masih seusia denganku itu.

“Pencoknya, sebungkus pinten Mas?” sapaku bercampur bahasa Jawa.
“Oh, lima ribu, Pak. Berapa bungkus?” jawabnya sekilas sambil masih melayani pembeli lain.
“Nggih, sebungkus saja Mas…” (more…)

Dilema Proyek Senilai 32 M

Sp Backdrop WISUDA STAHN 2014-small“Saya dapat proyek 32 M nih….” Jawab saya enteng saat terdengar sebuah suara nyeletuk. Saya baru saja memarkir motor di halaman aula tempat even wisuda kampus akan diadakan. Saat saya menurunkan baliho berukuran besar dari motor, suara itu terdengar lagi, “Lho, Mas, sampean ini sebenarnya dosen apa tukang spanduk, to? Opo tukang syuting?”
Ceplosan protes teman SMA saya, mengawali percakapan kami yang secara tidak terduga bertemu di moment yudisium kampus hari ini. Teman yang sama-sama dari transmigrasi Desa Pangkoh itu, selama ini meniti karir sebagai ‘tukang photo’ dan bekerja di Aline, sebuah studio photo terkenal di kota Palangka Raya. Dia biasa melayani photo panggilan saat ada momen-momen seperti acara yudisium, wisuda, pernikahan, atau kegiatan lain yang butuh dokumentasi.
Melihat saya menenteng kamera, handycame dan juga spanduk yang masih harus di pasang, dia ‘mempertanyakan’ profesi saya..he..hee… “Mbok jangan serakah begitu, kasih bagian kami-kami ini…Jadi dosen ya ngajar aja, ngga usah nyambi-nyambi gitu….” (more…)

Belajar Konsistensi dari Kakek Penjual Minyak Tanah Keliling

Sore ini, saya menyempatkan diri naik sepeda untuk sekedar mencari keringat. Berhari-hari duduk sambil memelototi dekstop, membuat seluruh tubuh terasa pegal dan kaku. Menempuh rute mengelilingi Bundaran Besar kota Palangka Raya, lalu menuju jalan Imam Bonjol, dan lanjut mengitari Bundaran kecil di depan kantor gubernur Kalimantan Tengah. Lalu menyusuri Jalan G. Obos hingga mendekati putaran Jalan Raya Galaxy, seterusnya putar balik menelusuri jalan Mangku Rambang yang penuh dengan penjual tanaman hias.

Hari sudah menjelang senja, karena memang saya meninggalkan rumah sudah jam 17.15 . Ini adalah jam dimana orang-orang pekerja non formal juga mulai beranjak pulang. Karenanya, sepanjang jalan saya berpapasan dengan para pedagang bakso yang mengayuh gerobak baksonya dengan agak gontai. Ada yang terlihat sudah hampir habis terjual dagangannya. Tapi ada juga yang memang masih cukup banyak persediaannya. Berjualan bakso memang biasanya sampai jam 9 malam masih laku. Itu pengalaman pribadi saya dulu saat masih jualan bakso sambil kuliah ditahun 1996. Hanya saja, saat itu gerobak bakso saya tidak memakai sepeda sehingga bisa dikayuh, karenanya harus berjalan kaki mendorongnya. (more…)

Bhakti Raghava Swami, Lulusan Seminari yang Kini Jadi ‘Pastor’ Hindu

bhakti raghava swamiSekilas mendengar namanya, orang pasti akan mengira bahwa dia beragama Katolik atau Kristen. Apalagi, dia adalah seorang bule, yang mayoritas memang menganut agama Kristiani. Melihat penampilan pakaiannya yang berwarna oranye dan kepalanya yang gundul, sering orang menduga, dia pasti seorang bhiku atau pendeta Buddha. Kesan seperti itu pula yang saya dapatkan saat pertama kali berjumpa dengan beliau di Palangkara Raya, tahun 1997 lalu. Saat itu, karena sempitnya wawasan saya,  saya tidak tahu kalau ada orang bule yang beragama Hindu, apalagi sampai menjadi sannyasin atau bhiksu Hindu, seperti sosok yang  luar biasa itu. (more…)

Catatan Perjalanan Mantan Tukang Bakso ke India (Part Two)

Tiba-tiba saja, dalam sebuah percakapan lewat Yahoo! Messenger, Prabhu Darmayasa, orang yang pertama kali datang ke Palangka Raya dan mengajarkan Hare Krishna di Palangka Raya sekitar tahun 1995 itu, mengajakku mengikuti Festival Maha Kumbha Mela di kota Allahabad. Beliau bilang, Maha Kumbha Mela seperti tahun 2013 sekarang ini hanya terjadi setiap 12 tahun sekali. Belum tentu di tahun 2025 nanti, di penyelenggaraan acara Maha Kumbha Mela berikutnya, Tuhan masih memberikan anugerah pada kita untuk menghadirinya. Makanya, beliau memintaku agar bisa ikut, berangkat bersama rombongan hampir 60-an peseta lain dari seluruh Indonesia.
Jujur kukatakan bahwa aku tidak punya uang untuk berangkat ke India saat ini. Jangankan untuk ke India, untuk tirtha yatra ke tempat-tempat suci di Jawa dan Bali saja aku tidak punya biaya. Tapi beliau menjawab dengan santai, “Santih, damai Mas. Ayolah berangkat sama saya.”
“Tapi saya benar-benar tidak punya dana, Prabhu” aku menegaskan.
“Damailah, soal itu jangan dipikirkan. Segeralah perpanjang paspor…Paspor yang dulu masih ada khan?” kata beliau serius.
Berkali-kali aku menolak (berpura-pura, sih) ajakan Prabhu Darmayasa itu dalam percakapan lewat YM di hari-hari selanjutnya, karena aku tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi berkali-kali itu pula beliau ‘memaksa’ aku untuk berangkat. Jujur kuakui, ego dan rasa congkak diam-diam menyelinap dalam hati saat itu. “Wah, kok aku yang diajak berangkat gratis? Ada apa ini?” (more…)

Perjalanan Mantan Tukang Bakso ke India (Part One)

Om Swastyastu,

Buat teman-teman generasi muda Hindu yang barangkali sedang berjuang mempertahankan kehinduannya ditengah berbagai tantangan…. saya mohon ijin berbagi cerita pribadi yang memang sangat subyektif, tetapi barangkali bisa menjadi inspirasi untuk semakin meyakini jalan Sanatana Dharma. Ini adalah cerita pengalaman pribadi sebagai mantan penjual bakso, yang bisa 2 kali ke India, kedua-duanya dibiayai oleh orang yang semestinya menurut aturan dan etika, tidak boleh melakukan hal itu….

Bagi yang tidak berkenan, mohon tidak melanjutkan membacanya…silahkan klik tombol ‘Back’ untuk beralih dari halaman ini….hehehe…

Mantan Tukang Bakso Mandi di Acara Maha Kumbha Mela…..

Beberapa teman yang tahu aku baru saja pulang dari perjalanan tirtha yatra ke India, bertanya dengan nada enteng. ”Apa sih yang kamu dapat sepulang dari tirtha yatra ke India? Apa efeknya setelah mandi di sungai Gangga saat perayaan Maha Kumbha Mela begitu? Trus, aku harus manggil kamu dengan gelar apa nih?” tanyanya dengan nada agak mencibir.

Kalau boleh jujur, aku terhenyak dan tidak menyangka akan ditanya yang seperti itu. Kebanyakan kawan lainnya hanya iseng bertanya, “Mana oleh-oleh dari India nya?” Itupun hanya pertanyaan iseng yang lumrah, sekedar basa-basi. Diam-diam aku merenung, bertanya pada diri sendiri. Iya, ya…aku ‘dapat apa’ setelah melaksanakan tirtha yatra ke India selama sepuluh hari di bulan Februari yang lalu? Adakah manfaat yang nyata yang kurasakan, setelah bersama sekitar 70-an juta manusia dari berbagai belahan dunia, mengikuti mandi suci di Triveni Sangam, tempat bertemunya tiga sungai suci Gangga, Yamuna, dan Saraswati, tempat yang sangat sakral di hati umat Hindu itu? (more…)