Home » Krishna & Bhakti Yoga

Krishna & Bhakti Yoga

Seolah sudah menjadi sifat alaminya, Hindu menyediakan berbagai jalan untuk manusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Kitab suci Hindu sendiri menegaskan dan memaparkan berbagai jalan itu. Dalam Hindu, terdapat empat sekte utama yang berkembang hingga sekarang, khususnya di India. Keempat sekte besar itu diberikan nama menurut nama dari obyek pemujaan tertinggi yang disembah oleh penganut masing-masing sekte itu. Para pemuja Wishnu disebut Waisnawa, para pemuja Shiva disebut Shaiva, para pemuja Shakti disebut Shakta, dan kalangan yang menganggap semua dewa Hindu adalah Tuhan yang satu dan sama, dikenal dengan sebutan Smarta. Dan dalam setiap kategori itu, masih terdapat sub-sub sekte yang jumlahnya bisa ratusan.
Tentu saja, keanekaragaman seperti itu tidak selalu mudah untuk dijelaskan dan dipahami oleh masyarakat yang terbiasa dengan paham ‘monoteis’. Terutama bagi mereka yang terbiasa dengan ajaran agama yang bersumber dari ajaran Nabi Abraham. Nabi Abraham, atau disebut juga Nabi Ibrahim, adalah bapak dari tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristiani, dan Islam. Dalam ketiga agama itu, tentu saja juga banyak sekte yang berkembang di dalamnya, yang dalam bahasa arab disebut Mazab, atau orde dalam istilah kristiani. Tapi mazab-mazab itu, meski berbeda-beda dalam tatanan keyakinan dan ritual peribadatannya, tetap saja mereka memuja Tuhan dengan sebutan yang sama, yaitu Allah. Sedangkan dalam sekte-sekte Hindu, perbedaan itu seolah menunjukkan ada Tuhan-Tuhan yang berbeda, yang sama-sama ada, dan disembah oleh para pemujanya masing-masing sebagai yang Tertinggi atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagaimana perbedaan itu bisa diterima sebagai sebuah kekayaan oleh umat Hindu?
Tulisan-tulisan dalam laman web ini tidak bertujuan untuk mengklaim bahwa salah satu sekte lebih tinggi daripada sekte lainnya. Juga tidak berpretensi menjelaskan secara detil masing-masing sekte itu. Semua itu diluar kemampuan saya.Kalau kemudian saya lebih banyak menulis tema-tema yang berkaitan dengan Waisnawa atau Krishna, tentu saja ada alasan yang sifatnya sangat subyektif.

Secara kebetulan, dalam perjalanan hidup hingga usia nyaris berkepala empat ini, saya lebih banyak berkenalan dengan ajaran Hindu yang memfokuskan pemujaan kepada Wisnu, atau disebut juga ajaran Waisnawa.Mengapa? Alasannya sederhana. Wisnu, sebagai Pemelihara Alam Semesta diyakini telah menitis berkali-kali untuk menyelamatkan dunia dan alam semesta ini dari keangkaramurkaan. Diantara sepuluh titisan Wisnu, dua diantaranya yang paling dikenal luas adalah Sri Krishna dan Sri Ramachandra, yang kisah hidupnya terekam dalam dua epos besar, yaitu Mahabharata dan Ramayana. Generasi dibawah tahun 90-an yang belum mengenal ‘game’ komputer dan media sosial lewat jaringan internet seperti saat ini, sedikit banyak pasti pernah mendengar dan berkenalan dengan tokoh-tokoh Mahabahrata dan Ramayana. Ada yang dalam bentuk komik, dan sebagian masyarakat Jawa dan Bali mengenalnya melalui pertunjukan wayang purwa. Ya, hingga saat inipun, orang masih menganggap Mahabharata dan Ramayana hanyalah dongeng yang dikarang oleh para maharesi Hindu.
Dengan modal itu, tentu tidak mengherankan bila saya secara psikologis lebih dekat dengan Waisnawa, meskipun Hindu yang berkembang di Bali saat ini lebih dekat dengan paham Shaiva Siddhanta. Tapi, sampai dengan ditayangkannya film MAHADEWA di ANTVdi tahun 2014 ini, saya kira, sama seperti saya, umat Hindu di Indonesia belum mendalam perkenalannya dengan Sang Hyang Siwa.
Sekali lagi, tulisan-tulisan dibawah tajuk Krishna dan Bhakti Yoga dalam laman ini, akan lebih banyak berdasarkan sudut pandang pribadi saya, sambil mencoba mendasarinya pada referensi-referensi yang tentu saja lebih dekat dengan sudut pandang Waisnawa, khususya dalam garis perguruan Brahma-Madhva-Gaudiya-waisnawa. Apa pula itu? Selamat menyimak, kritik dan saran sangat saya nantikan demi dewasanya saya dalam menelusuri jalan Sanatana Dharma…

Loading Facebook Comments ...